Oleh: Muhammad Balkis Venserjude, Alvin Pratama Wahyu, Felix Jemisa Surbakti, Muhammad Dwinov Fadhullah, Adrian Ashari Jafar Lubis
Suara USU, Medan. Industri perkebunan di Indonesia memegang peran vital dalam perekonomian nasional, khususnya melalui kontribusinya terhadap ekspor dan penciptaan lapangan kerja. Salah satu komoditas utama dari sektor ini adalah kelapa sawit, yang telah menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. PT. Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) Regional II Medan adalah salah satu entitas bisnis penting dalam industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Berlokasi di Sumatera Utara, PTPN IV mengelola lahan perkebunan yang luas dan berperan sebagai salah satu produsen utama minyak kelapa sawit di wilayah tersebut. Dengan luas lahan lebih dari 50.000 hektar, PTPN IV tidak hanya berkontribusi signifikan terhadap produksi minyak kelapa sawit nasional, tetapi juga berperan dalam menciptakan lapangan kerja bagi ribuan karyawan, baik yang terlibat langsung dalam kegiatan produksi maupun yang berperan dalam manajemen dan administrasi perusahaan. Dalam menjalankan operasi bisnisnya, PTPN IV tentunya harus memerhatikan aspek kesejahteraan karyawan, terutama dalam konteks sistem kompensasi dan lingkungan kerja.
Pada industri perkebunan secara umum, sistem kompensasi menjadi salah satu isu sentral yang banyak dibahas. Kompensasi yang adil dan kompetitif dianggap sebagai faktor penting dalam mempertahankan motivasi dan loyalitas karyawan. Menurut Herispon dan Firdaus (2022), karyawan yang merasa dihargai melalui kompensasi yang layak cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik dan memiliki tingkat turnover yang lebih rendah. Namun, di banyak perusahaan perkebunan di Indonesia, kompensasi karyawan sering kali dianggap belum sepadan dengan beban kerja yang mereka tanggung. Karyawan di sektor ini, terutama mereka yang bekerja di lapangan dengan kondisi yang keras, sering merasa bahwa gaji dan tunjangan yang mereka terima belum mencerminkan kerja keras dan risiko yang mereka hadapi. Fenomena ini juga diperkuat oleh temuan Khalbina et al (2022) yang menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap kompensasi sering kali menjadi pemicu utama menurunnya produktivitas dan Selain sistem kompensasi, lingkungan kerja juga menjadi variabel krusial yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan di industri perkebunan. Lingkungan kerja mencakup berbagai aspek, mulai dari kondisi fisik tempat kerja, keamanan, hingga hubungan antar karyawan dan dukungan manajerial. Firli dan Kuswinarno (2024) menekankan bahwa lingkungan kerja yang baik dapat meningkatkan kenyamanan dan produktivitas karyawan, sementara lingkungan yang buruk dapat menyebabkan stres dan menurunkan motivasi kerja. Di industri perkebunan, terutama di wilayah-wilayah terpencil, banyak karyawan menghadapi kondisi kerja yang kurang ideal. Minimnya fasilitas pendukung, akses yang terbatas ke layanan kesehatan, dan lingkungan kerja yang keras sering menjadi faktor yang mengurangi kepuasan kerja karyawan. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan untuk memahami secara mendalam bagaimana sistem kompensasi dan lingkungan kerja memengaruhi kepuasan kerja karyawan di PTPN IV Regional II Medan. Dengan pentingnya peran sumber daya manusia dalam mendukung keberhasilan operasional perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang berguna bagi manajemen PTPN IV dalam merumuskan kebijakan yang lebih efektif.
Penelitian ini melibatkan 80 responden yang berasal dari berbagai divisi di PTPN IV Regional II Medan. Deskripsi identitas responden berikut meliputi usia, bagian tempat bekerja, lama bekerja, dan pendidikan terakhir. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan untuk memahami secara mendalam bagaimana sistem kompensasi dan lingkungan kerja memengaruhi kepuasan kerja karyawan di PTPN IV Regional II Medan. Dengan pentingnya peran sumber daya manusia dalam mendukung keberhasilan operasional perusahaan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang berguna bagi manajemen PTPN IV dalam merumuskan kebijakan yang lebih efektif. yang disusun dengan instrumen untuk mengukur variabel penelitian. Pengumpulan data melalui kuesioner sangat efektif, responden hanya memilih jawaban yang diberikan oleh peneliti. Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis menggunakan teknik Statistik Inferensial. Menurut Cahyaningrum dalam Dini (2022: 98), Statistik inferensial adalah metode yang digunakan untuk mengolah data sampel dari suatu populasi.
Metode ini cocok untuk menganalisis sampel yang diambil dari populasi acak. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti, Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem kompensasi dan lingkungan kerja berpengaruh secara simultan atau bersama-sama terhadap yaitu kepuasan kerja karyawan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh dan dijabarkan oleh peneliti kami memiliki beberapa saran kepada pihak perusahaan, Pihak perusahaan sebaiknya memastikan keadilan dalam pemberian gaji, bonus, dan insentif, karena hal ini sangat berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan. Kompensasi yang adil dan sesuai dengan kontribusi karyawan akan membuat mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk bekerja lebih optimal. Sebaiknya pihak perusahaan dapat mengembangkan aspek fisik maupun sosial dari lingkungan kerja. Pengembangan aspek fisik meliputi penyediaan fasilitas yang memadai dan ruang kerja yang nyaman, yang berkontribusi pada peningkatan kenyamanan dan efisiensi kerja. Selain itu, penting untuk mengembangkan aspek sosial dengan menciptakan budaya kerja yang mendukung kolaborasi dan kesejahteraan karyawan.
Artikel ini adalah publikasi tugas magang dengan Dosen Pengampu Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.
Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean
Leave a comment