
Oleh: Alya Nayla Sahirah S
Suara USU, Medan.
Di lorong-lorong yang dingin dan basah
Langkah berjejak di tanah merekah
Malam melipat nurani gelisah
Seragam putih mengais marwah
Digenggaman jemari yang lelah
Perban berdarah menjadi saksi
Di medan amarah yang membakar resah, mereka datang tak membawa senjata
Hanya luka yang haus akan empati
Sedang keadilan kini buta warna
Menyeka darah dengan telapak tangan yang sama
Lantas di mana suara yang mereka dengar?
Ataukah kuasa tak lagi butuh benar?
Seakan perban menyimpan makar yang keras
Tuan, apakah jarum suntik lebih tajam dari peluru panas?
Jika menyembuhkan dianggap buas, masihkah nurani tadi bernyawa lepas?
Seakan luka bisa berkhianat
Tuan, tidakkah keselamatan yang jadi syarat?
Atau tersisa sumpah yang dipaksa berkhidmat?
Di medan amarah, di batas tanpa kepunyaan yang bisu
Ambulans dicegah, nyawa mereka menanti restu
Lantas siapa yang luhur, siapa yang rebah?
Bila tangan penyembuh pun harus pasrah
Kemanusiaan dibungkus gelar bersalah
Sedang mereka yang peduli justru terjerat fitnah
Perban berdarah, rekam jejak yang terhampar
Di medan amarah yang terus berkobar
Di mana keberanian diukir dusta
Lalu keadilan terkubur tanpa pusara
Redaktur: Fatih Fathan Mubina
Leave a comment