Home Puisi Perban Berdarah, Medan Amarah
PuisiSastra

Perban Berdarah, Medan Amarah

Share
(Sumber: inilah.com)

Oleh: Alya Nayla Sahirah S

Suara USU, Medan.

Di lorong-lorong yang dingin dan basah

Langkah berjejak di tanah merekah

Malam melipat nurani gelisah

Seragam putih mengais marwah

 

Digenggaman jemari yang lelah

Perban berdarah menjadi saksi

Di medan amarah yang membakar resah, mereka datang tak membawa senjata

Hanya luka yang haus akan empati

 

Sedang keadilan kini buta warna

Menyeka darah dengan telapak tangan yang sama

Lantas di mana suara yang mereka dengar?

Ataukah kuasa tak lagi butuh benar?

 

Seakan perban menyimpan makar yang keras

Tuan, apakah jarum suntik lebih tajam dari peluru panas?

Jika menyembuhkan dianggap buas, masihkah nurani tadi bernyawa lepas?

 

Seakan luka bisa berkhianat

Tuan, tidakkah keselamatan yang jadi syarat?

Atau tersisa sumpah yang dipaksa berkhidmat?

Di medan amarah, di batas tanpa kepunyaan yang bisu

Ambulans dicegah, nyawa mereka menanti restu

 

Lantas siapa yang luhur, siapa yang rebah?

Bila tangan penyembuh pun harus pasrah

Kemanusiaan dibungkus gelar bersalah

Sedang mereka yang peduli justru terjerat fitnah

 

Perban berdarah, rekam jejak yang terhampar

Di medan amarah yang terus berkobar

Di mana keberanian diukir dusta

Lalu keadilan terkubur tanpa pusara

Redaktur: Fatih Fathan Mubina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Related Articles