SUARA USU
Buku

Please Look After Mom: Sudahkah Kita Mengenal Ibu Selama Ini

Penulis: Nurjana Sihombing

Suara USU, Medan. “Tak pernah terlintas dalam benakmu bahwa dulu ibumu juga pernah belajar berjalan sewaktu ia masih kecil atau pernah berumur tiga tahun, dua belas tahun, dua puluh tahun. Dalam pandanganmu ibu adalah ibu. Sejak lahir dia sudah menjadi ibu.”
Novel ini bermula dengan kisah hilangnya sang Ibu, Park So-nyo, di Stasiun Seoul saat akan mengunjungi anak-anaknya untuk merayakan ulang tahunnya dan sang suami. Suaminya baru menyadari bahwa sang istri ternyata tidak ada di dekatnya saat kereta bawah tanah itu telah melewati beberapa stasiun.

Mengetahui hal tersebut, seluruh keluarga berkumpul untuk merencanakan usaha pencarian Park So-nyo di rumah Hyong-chol yang merupakan anak sulung laki-laki di keluarga tersebut. Mereka memutuskan untuk membuat selebaran dan memberikan hadiah sebesar lima juta won untuk siapa saja yang berhasil menemukan Ibu mereka. Meskipun menurut Chi-hon, anak sulung perempuan dari Park So-Nyo, ide itu tidak cukup untuk menemukan Ibu mereka secepat mungkin.

Dalam proses pencarian itulah mereka mengalami pergolakan batin. Kenangan-kenangan bersama Ibu mulai membanjiri pikiran mereka setiap hari. Bersamaan dengan itu mereka menjadi menyadari bahwa betapa pentingnya Ibu bagi mereka, betapa selama ini banyak hal tentang Ibu yang ternyata tidak mereka ketahui perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya, karena amat sering bersikap abai kepadanya.

Chi-hon baru menyadari bahwa Ibunya tidak bisa membaca ketika mengingat-ingat saat dulu ia sering diminta oleh Ibunya untuk menuliskan surat kepada Hyong-chol. Chi-hon pun menyadari sikapnya selama ini amat dingin dan ketus kepada Ibunya setelah ia beranjak dewasa. Hal itu menyebabkan keterasingan antara ia dengan Ibunya.
“Hanya ada dua kemungkinan: seorang ibu menjadi sangat dekat dengan anak perempuannya, atau mereka menjadi asing terhadap satu sama lain.”

Bab kedua dalam buku ini diceritakan dengan sudut pandang orang ketiga, penulis mengajak kita untuk menelusuri kenangan-kenangan Hyong-chol bersama sang ibu. Kenangan ketika Ibunya buru-buru datang tengah malam ke Seoul untuk mengantarkan ijazah hingga akhirnya mereka tidur berdampingan dengan berbagi selimut di ruang tugas malam, kenangan menghiasi pintu dengan daun Mapel, hingga kenangan saat Ibunya pergi dari rumah ketika sang ayah membawa perempuan lain. Waktu itu demi membujuk Ibunya agar pulang ke rumah, Hyong-chol berjanji bahwa ia akan belajar dengan sungguh-sungguh agar menjadi jaksa suatu hari nanti.

Dari bab satu hingga bab tiga, pembaca pasti akan bertanya-tanya, apakah sang ibu bisa ditemukan? Apakah sang ibu akan kembali pulang ke rumah hingga mereka, suami dan anak-anak, dapat menebus kesalahan pada sang ibu?

Kyung-sook Shin berhasil meramu kisah yang bertema keluarga ini dengan sangat baik. Ia menempatkan momen-momen flashback dengan sangat tepat kemudian merangkainya dengan sangat indah sekaligus menyayat hati.

Dalam novel ini, Kyung-sook Shin menggunakan berbagai sudut pandang agar pembaca merasa menjadi bagian dari keluarga, menjadi bagian dari cerita. Meskipun penggunaan berbagai sudut pandang tersebut mungkin membingungkan beberapa orang ketika mulai membacanya.

Membaca buku ini akan membuat kita bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Apakah saya mengenal Ibu dengan baik?”
“Apakah Ibu senang melakukan pekerjaan-pekerjaan itu?”
“Apakah saya telah memperlakukan Ibu dengan baik?

Sedikit klise, tetapi kita sering sekali menyadari betapa berharganya sesuatu saat sesuatu itu sudah lenyap dari pandangan kita. Novel ini membantu kita untuk lebih peka, membantu kita menyadari betapa berharganya orang-orang yang ada di sekitar kita saat ini.

Lalu, apakah Chi-hon dan keluarga akan berhasil menemukan Ibunya? Mampir ke bukunya langsung, yuk!

Redaktur: Zukhrina Az Zukhruf


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Mempertanyakan Moralitas Lewat Buku, “Tanpa Tuhan Apakah Segalanya Diizinkan”

redaksi

Mengkaji Psikologi Feminis Melalui Buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan

redaksi

Beristirahat Ketika Lelah, Bersama Buku “Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah”

redaksi