Reporter: Cynthia Ma
Suara USU, Medan. Program Studi (Prodi) Magister Penciptaan dan Pengkajian Seni Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar sesi diskusi bertema Global Influences of K-Pop and K-Culture pada Jumat (23/01). Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU dengan menghadirkan Prof. Jin Ho Shim dari Universitas Silla, Korea Selatan sebagai pembicara.
Prof. Jin Ho Shim merupakan akademisi di bidang Sastra Perbandingan dan Teori Seni. Fokus kajiannya meliputi hubungan antara sastra dan sinema serta interaksi antar media dalam merepresentasikan budaya.
Dalam pemaparannya, Prof. Shim menyoroti fenomena global ketertarikan generasi muda terhadap K-pop dan K-culture yang semakin meluas di berbagai negara, termasuk Indonesia. “Saya ingin berbagi tentang fenomena global kegemaran anak muda terhadap K-pop dan K-culture. Ini adalah pertama kalinya saya berkunjung ke Indonesia, dan saya berharap generasi muda Indonesia dapat mencintai Korea serta memahami kekuatan budaya Korea,” ujarnya.
Salah satu contoh yang dibahas dalam diskusi ini adalah film animasi K-Pop Demon Hunters, yang sempat menduduki peringkat pertama Netflix di puluhan negara. Soundtrack film tersebut, khususnya lagu Golden, juga meraih posisi puncak di Billboard 200, Billboard Hot 100, dan Official Singles Chart Inggris. Selain film, popularitas K-pop juga tercermin melalui boy group dan girl group yang berhasil menembus pasar internasional dan menarik perhatian musisi dunia untuk berkolaborasi.
Prof. Shim menegaskan bahwa produk hiburan Korea tidak hanya bersifat komersial, tetapi juga membawa simbol budaya. Ia mencontohkan penggunaan figur harimau dalam K-Pop Demon Hunters yang terinspirasi dari lukisan tradisional Korea Hojakdo dari era Dinasti Joseon.
“Pemerintah Korea Selatan mendorong masyarakatnya untuk berpikir kreatif dengan memadukan budaya Korea dan budaya lain tanpa menghilangkan identitas masing-masing,” jelas Prof. Shim.
Fenomena menjamurnya budaya Korea di seluruh dunia ini dikenal dengan sebutan Hallyu Wave, yakni penyebaran budaya Korea Selatan secara global, mencakup musik, drama, film, fesyen, hingga kuliner. Perkembangan ini, menurut Prof. Shim, juga didukung oleh kebijakan pemerintah Korea Selatan yang mendorong kreativitas masyarakat melalui konsep creative hybridity.
Menutup diskusi, Prof. Shim mengingatkan pentingnya menjaga budaya lokal di tengah arus budaya global. “Indonesia memiliki keberagaman etnis dan agama. Tantangannya adalah bagaimana menggabungkan keberagaman itu secara kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan bermakna,” tuturnya.
Menurutnya, dalam perspektif creative hybridity, satu ditambah satu tidak selalu menghasilkan dua. Perpaduan budaya justru dapat melahirkan makna baru yang lebih kaya tanpa menghilangkan identitas asalnya.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment