SUARA USU
Sosok

Rafi Alfarezi, Sosok Pemuda Religius dengan Jiwa Kemanusiaan Tinggi

Oleh: Excellent Publisher

Suara USU, Medan. Muhammad Rafi Alfarezi, pemuda asal kota Binjai yang lahir pada tanggal 25 Agustus 2000. Pemuda yang akrab disapa Rafi ini merupakan sosok anak muda dengan segudang prestasi. Rafi terlahir sebagai anak tunggal dari Bapak Fahmi Asar dan Elfida Santy Hasibuan di Kota Binjai, Sumatera Utara. Selain mengukir banyak prestasi akademik dan non-akademik Rafi juga seorang pebisnis muda. Rafi banyak menggeluti bisnis dari berbagai sektor salah satunya Tour & Trafel.

Jika pendidikan identik dengan belajar, bagi rafi dimana pun ia berada dan siapa pun orangnya akan selalu memberikan manfaat dan pelajaran baginya. Rafi mulai belajar mengenai dunia usaha dan bisnis sejak tahun 2018. Rasa asam dan garam dunia perbisnisan sudah banyak yang rafi rasakan. Mulai dari guru bimble, jualan paket di dekat parit/got, jualan alpukat, hingga sekarang menjadi pebisnis sukses sekaligus motivator bagi para pebisnis.

hotelnya dalam bisnis tidak lepas dari prinsipnya yang mengutamakan syariah Islam. Baginya pemahaman akan tauhid menjadi pokok bisnis dalam berbisnis. Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai organisasi sosial. Salah satunya yang baru diselenggarakan yakni buka puasa bersama dengan 1000 anak yatim bersama Mudanesia dengan program Yatim Fest. Program tersebut dilakukan secara roadshow di seluruh Indonesia. Ia pun masih aktif dalam Binjai Sedekah Bersama, sebuah organisasi sosial di Kota Binjai yang ia ikuti sejak SMA.

Rafi tentu menganggap bahwa yang kita miliki dapat ada intervensi Tuhan di dalamnya. Karena itu mengingat Tuhan dan selalu bersyukur atas apa yang di dapat hari ini adalah bentuk kerendahan diri seorang hamba. Tentu dengan bersedekah juga menggandakan rezeki jadi, mengingat Tuhan dan memperhatikan orang-orang sekitar adalah suatu kontribusi yang mulia sebagai manusia.

“Terkadang kita jadi manusia sombong amat, baru dapet berapa juta aja uda sombong amat, baru dapet miliyaran aja sombong amat. Gak mau sholat, gak mau sedekah, merasa paling hebat akan segalanya. Yah lemah amat kita, sampe bilang gak sempat sholat di masjid, gak sempat baca Qur’an, alahhhh sombong banget,” ungkap Rafi.

Tak ada yang mudah dalam menjalani bisnis, ia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk tetap berada “on the track” dalam dunia bisnisnya. Tak jarang juga bisnis yang dijalankannya mengalami kebangkrutan namun sikap taat dan semangatnya itu yang membawa Rafi seperti sekarang ini.

Redaktur: Yessica Irene


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Merintis dari Bawah, Toko Kiel’s Raja Berkembang di Bawah Kepemimpinan David Lumbanraja

redaksi

Artidjo Alkostar, ‘Mimpi Buruk’ Koruptor Itu Sudah Tiada

redaksi

Berkenalan dengan Afif, Si Ambis dari FASILKOM

redaksi