Home Kabar Kampus Ruang Kelas Kotor, Tanggung Jawab Siapa?
Kabar Kampus

Ruang Kelas Kotor, Tanggung Jawab Siapa?

Share

Reporter: Eme / Gisela / Jasmine / Zahra / Zalfa

Suara USU, Medan. Sebagai mahasiswa, tentunya kita menghabiskan waktu berada di ruang kelas sekitar 1-6 jam setiap harinya. Sehingga kenyamanan ruang kelas seperti kebersihan dan kelengkapannya harus diperhatikan demi menunjang keberlangsungan proses belajar mengajar. Namun, faktanya masih banyak kelas yang kurang bersih dan nyaman digunakan khususnya bagi mahasiswa yang masuk di siang hari.

Kebersihan ruang kelas menjadi elemen krusial dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Langkah-langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lantai, pembersihan secara berkala, dan penyediaan tempat sampah yang memadai dapat menciptakan ruang kelas yang nyaman dan bersih. Dengan demikian, mahasiswa dapat fokus pada materi pembelajaran tanpa terganggu oleh kondisi ruangan yang tidak bersih.

Para mahasiswa yang ingin menggunakan ruangan kelas cukup sering mengalami kotornya kelas yang ingin digunakan.

“Pernah mengalami, saat itu masih pagi jadi belum dibersihkan sama cleaning service-nya. Selain itu juga pernah mengalami di kelas siang namun kelasnya juga kotor,” ungkap Ribkha Sinaga mahasiswi FISIP 22.

Ruangan kelas yang kotor tentunya menjadi tanggung jawab setiap individu termasuk mahasiswa. Mahasiswa yang menggunakan kelas juga harus memiliki kesadaran diri, “Kalau untuk tanggung jawab, menurut saya itu dari mahasiswanya gitu, karena kan cleaning service tugasnya di pagi hari dan juga mahasiswa yang menggunakan ruangan pun harusnya memiliki kesadaran untuk membersihkannya. Mereka yang membuang berarti mereka juga harus berani membuang sampah pada tempatnya,” tambah Ribkha dengan yakin.

Selain itu, salah satu mahasiswi lainnya juga setuju apabila kelas yang kotor juga menjadi tanggung jawab mahasiswa yang menggunakan kelas, “Kan itu sampah kita ya, jadi menurut saya itu menjadi tanggung jawab kita, dari kesadaran kita aja gitu kalau melihat 1 atau 2 sampah, ya diambil,” tutur Friska mahasiswi FISIP 23.

Menurut salah satu Cleaning Service FISIP, masalah mendasar yang sering dihadapi adalah kurangnya kesadaran dari para mahasiswa terkait kebersihan, “Kelas mulai kotor sejak kelas kedua atau ketiga, dan sulit untuk dijaga bersih,” ungkap Deni dengan nada prihatin.

Mahasiswa yang tidak mau meninggalkan kelas setelah pengajaran berakhir menjadi permasalahan utama. “Kadang, ketika satu kelas sudah selesai dibersihkan, kelas lainnya sudah kembali kotor karena ada mahasiswa yang masuk tanpa peduli kebersihan,” tambahnya.

Keluhan yang cukup mencolok adalah terkait dengan perilaku membuang sampah sembarangan. Meskipun terdapat tempat sampah di luar kelas, banyak mahasiswa yang memilih membuang sampah di dalam kelas. “Sampah dari makanan dan minuman seringkali ditinggalkan begitu saja di meja atau lantai kelas,” tutur Deni.

Mereka merasa kesulitan memahami mengapa mahasiswa enggan memanfaatkan tempat sampah yang telah disediakan dengan cukup besar di luar kelas.

Selain mahasiswanya sendiri, tidak ada pembagian jadwal antar cleaning service juga menjadi kendala lain yang dialami. Perbedaan terlihat antara FISIP dan fakultas lain. “Beda dengan fakultas lain, kalau di fakultas lain ada rundown jam berapa ke jam berapa, kalau disini ga ada,” ungkap deni dengan nada kebingungan. Dalam satu hari, Deni harus membersihkan hingga 15 kelas seorang diri.

Peran mereka yang kadang terabaikan menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan nyaman bagi semua mahasiswa. Di tengah tantangan menjaga kebersihan kelas, mahasiswa memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Kesadaran akan tanggung jawab bersama untuk merawat kebersihan kelas perlu ditingkatkan.

Mahasiswa dapat aktif berpartisipasi dengan tidak hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mendukung jadwal rutin kebersihan yang mungkin dapat diperbaiki. Dengan demikian, kolaborasi antara mahasiswa dan cleaning service dapat menciptakan atmosfir belajar yang lebih baik, di mana setiap orang merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersihan kelas sebagai bagian integral dari proses pendidikan mereka.

Redaktur: Tamara Ceria

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.