SUARA USU
Sosok

Sanusi Pane, Satrawan Pujangga Baru Asal Sumatera Utara

Oleh: Anna Fauziah Pane

Suara USU, Medan. Sanusi Pane adalah seorang sastrawan Indonesia era Pujangga Baru yang karyanya banyak diterbitkan antara tahun 1920-an sampai 1940-an. Pria kelahiran Muara Sipongi, Sumatera Utara ini merupakan kakak kandung dari Armijn Pane yang juga seorang sastrawan.

Sanusi Pane memulai pendidikan di Hollands Inlandse School (HIS) Padang Sidempuan dan Tanjungbalai. Setelah lulus, Sanusi melanjutkan pendidikan ke Europeesche Lager School (ELS) di Sibolga dan kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang dan Jakarta.

Sanusi menyelesaikan pendidikannya di MULO pada 1922. Tidak sampai di situ, Sanusi masih melanjutkan pendidikan ke Kweekschool di Jakarta hingga 1925. Kweekschool sendiri adalah sekolah pendidikan untuk guru. Setelah lulus dari Kweekschool, Sanusi diangkat menjadi guru di sekolah tersebut sampai 1931. Pada 1929–1930, Sanusi sempat mengunjungi India. Hal inilah yang berpengaruh besar terhadap pandangan kesusastraannya.

Karir sastra Sanusi sendiri dimulai ketika ia menjadi guru dan menulis berbagai karangan sastra saat itu. Setelah kembali dari India, Sanusi menjadi redaktur di majalah Timbul yang berbahasa Belanda. Kemudian pada 1936, Sanusi berpindah menadi pemimpin surat kabar Tionghoa-Melayu bernama Kebangunan. Kemudian pada 1941, dirinya menjadi redaktur di Balai Pustaka.

Sanusi Pane sering kali dianggap sebagai kebalikan dari Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam karya-karyanya, Sanusi banyak terinspirasi pada kejayaan Hindu-Buddha di Indonesia pada masa lampau. Perkembangan filsafat hidupnya ini sampai pada sintesis Timur dan Barat, persatuan jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, serta idealisme dan materialisme yang tercermin dalam karyanya “Manusia Baru” yang terbit pada 1940.

Pengaruh kebudayaan Hindu yang dipelajari Sanusi juga sampai pada kehidupan sehari-harinya. Sanusi dikenal sebagai pribadi yang suka menyatu dengan alam dan rendah hati. Bahkan dirinya pernah menolak Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Sokarno dengan jawaban, “Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak menerima tanda jasa apa pun untuk apa-apa yang sudah kukerjakan. Karena itu, adalah semata-mata kewajibanku sebagai putra bangsa.”

Adapun beberapa puisi yang ditulis oleh Sanusi, yaitu Pancaran Cinta (1926), Prosa Berirama (1926), Puspa Mega (1927), Kumpulan Sajak (1927), dan Madah Kelana (1931). Selain itu, Sanusi juga dikenal sebagai penulis drama, seperti Airlangga (1928), Eenzame Garoedavlucht (1929), Kertajaya (1932), Sandhyakala Ning Majapahit (1933), dan Manusia Baru (1940). Sanusi juga menulis beberapa karya sejarah, yaitu Sejarah Indonesia (1942), Bunga Rampai dari Hikayat Lama (1946), dan Indonesia Sepanjang Masa (1952).

Selain dikenal sebagai sastrawan, Sanusi Pane juga merupakan salah satu tokoh di balik lahirnya Bahasa Indonesia. Pada Kongres Pemuda I tahun 1926, Sanusi Pane adalah orang yang pertama kali mengusulkan untuk menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Hal inilah yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia.

Usulan pria kelahiran 1905 ini untuk menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan tidak disetujui oleh beberapa tokoh besar. Meskipun demikian, usulan tersebut diadopsi lagi pada Kongres Pemuda II tahun 1928. Setelah dua tahun, akhirnya usulan Sanusi Pane dkk diakomodir dan ditetapkanlah bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, yang kemudian diberi nama bahasa Indonesia. Berangkat dari hal tersebut, maka lahirlah ikrar sumpah yang ktia kenal sekarang.

Sanusi Pane mungkin tidak seterkenal sastrawan lain pada eranya. Namun, perjuangan dan karyanya tetap memiliki dampak pada masa sekarang. Bahkan dampak tersebut terbilang besar dengan pengusulan bahasa persatuan yang masih kita gunakan sampai sekarang.

Salah satu yang bisa kita pelajari dari pribadi Sanusi Pane adalah sifat sederhana dan rendah hati yang dimilikinya. Sudah selayaknya kita turut hidup sederhana dan tidak terlalu membanggakan diri kepada orang lain atas apa yang telah kita capai maupun kita lakukan.

Redaktur: Azka Zere Erlthor


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Merintis dari Bawah, Toko Kiel’s Raja Berkembang di Bawah Kepemimpinan David Lumbanraja

redaksi

Sosok Mantan Rektor Prof Chairuddin di Mata Alumni Suara USU

redaksi

Berikut Tips Meningkatkan Jaringan Internasional bagi Mahasiswa ala Rafie 1080

redaksi