
Oleh: Siti Aisyah
Suara USU, Medan. Ketika berbicara mengenai alat musik tradisional Indonesia, banyak orang cenderung memikirkan angklung, gamelan, kolintang, atau saluang. Alat-alat musik tersebut memang lebih sering disebutkan dalam buku pelajaran, pertunjukan budaya, maupun festival nasional. Namun, di bagian tenggara Indonesia, tepatnya di Pulau Rote yang terletak di Nusa Tenggara Timur, terdapat sebuah alat musik yang memiliki bentuk dan suara yang khas. Meskipun begitu, instrumen ini belum memperoleh tingkat popularitas sebesar alat musik tradisional lainnya. Alat musik tersebut adalah sasando, sebuah instrumen petik yang berasal dari masyarakat Rote. Sasando merepresentasikan keterhubungan antara manusia dan alam, mencerminkan kreativitas lokal, serta menghadirkan keindahan suara yang tidak lazim dijumpai pada alat musik lain.
Sasando merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik, terbuat dari bambu dan daun lontar. Bagian utama alat ini terdiri atas tabung bambu yang berfungsi sebagai penyangga senar-senar, sedangkan daun lontar dibentuk menyerupai kipas besar yang mengelilingi tabung tersebut. Daun lontar berperan sebagai resonator yang memperkuat dan memperindah suara yang dihasilkan dari petikan senar. Saat berdiri, sasando tampak seperti setengah lingkaran dengan bagian tengah yang menonjol ke depan, tempat senar-senarnya berada. Suara yang dihasilkan oleh sasando cenderung lembut, bergetar, dan menenangkan. Ciri khas suara tersebut menjadikannya sangat cocok digunakan dalam suasana santai atau saat bermeditasi.
Berdasarkan sejarah dan cerita rakyat yang berkembang, sasando diperkirakan telah ada sejak abad ke-7. Masyarakat Rote menyebut alat ini sebagai “sasando”, yang berasal dari istilah yang berarti alat penghasil getaran atau suara. Menurut legenda, sasando diciptakan oleh seorang pemuda bernama Sangguana. Ia bermimpi mendengar melodi yang asing baginya. Setelah terbangun, ia berusaha menciptakan alat musik yang menirukan suara dari mimpinya tersebut. Dari sinilah sasando lahir. Walaupun kisah tersebut tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, keberadaan sasando menunjukkan bahwa alat musik ini memiliki peran penting dalam identitas budaya masyarakat Rote.
Sasando telah mengalami perkembangan dan terbagi menjadi dua jenis utama. Sasando gong adalah jenis tradisional yang memiliki 28 senar dan biasanya digunakan untuk memainkan lagu-lagu daerah. Alat ini sering dimainkan dalam upacara adat atau sebagai sarana hiburan. Sementara itu, sasando biola merupakan varian yang lebih modern dengan jumlah senar antara 32 hingga 48. Alat musik ini mampu memainkan berbagai jenis lagu, baik yang bersifat kontemporer, nasional, maupun internasional. Perbedaan jumlah senar tersebut memberikan karakteristik yang unik pada jenis sasando ini.
Sayangnya, eksistensi sasando kini semakin terancam. Hanya sedikit pengrajin yang masih mampu membuat alat musik ini, dan jumlah pemainnya juga terus berkurang. Salah satu penyebab utamanya adalah proses pembuatannya yang cukup rumit. Pemilihan bambu harus dilakukan secara teliti dari jenis tertentu dan dikeringkan pada waktu yang tepat. Sementara itu, daun lontar harus diolah secara manual agar memiliki kelenturan dan kekuatan sebagai resonator. Selain itu, perhatian generasi muda terhadap alat musik tradisional juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Tanpa adanya upaya pelestarian, sasando berisiko menjadi sekadar barang pajangan di museum dan lambat laun terlupakan.
Namun, terdapat harapan dari para musisi muda yang berupaya menghidupkan kembali pesona sasando. Di antara mereka adalah Ivan Nestorman, Ganzerlana, dan Gazpar Araja yang mencoba memadukan sasando dengan musik modern, menyanyikan lagu-lagu pop dan jazz. Upaya mereka ditujukan untuk menarik perhatian tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional. Sebagai contoh, sasando telah beberapa kali ditampilkan dalam acara resmi dan forum budaya internasional sebagai simbol kekayaan budaya Indonesia bagian timur. Hal ini menunjukkan bahwa sasando dapat tetap relevan jika diberikan ruang dan perhatian yang layak.
Pelestarian sasando tidak bisa hanya dibebankan pada komunitas seniman semata. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan media juga memiliki peran penting dalam mengenalkan serta menjaga keberadaan sasando. Program pelatihan di sekolah, festival musik tradisional, dan promosi melalui media sosial dapat menjadi langkah nyata untuk menumbuhkan minat terhadap alat musik ini. Dengan pendekatan yang tepat, sasando tidak hanya akan tetap eksis, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang hidup dan dinamis.
Sasando lebih dari sekadar instrumen musik; ia merupakan simbol kreativitas dan warisan budaya masyarakat Pulau Rote. Bentuk dan suaranya menyimpan kisah mendalam mengenai hubungan antara manusia dan alam serta inovasi lokal yang lahir dari pengalaman tersebut. Mempertahankan keberadaan sasando bukan hanya soal melestarikan sebuah alat musik, tetapi juga tentang menjaga keberagaman budaya Indonesia yang merupakan kekuatan besar di tengah dunia yang semakin homogen.
Redaktur: Alicia Reylina
Leave a comment