Sumber: Freepik
Oleh: Sandrina Nasution
Suara USU, Medan. Kota memesona di Sulawesi Tengah, Palu, tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekayaan kulinernya. Di antara berbagai hidangan yang menggoda selera, Kue Tetu tampil menonjol sebagai warisan budaya yang manis dan sarat makna. Lebih dari sekadar penganan, kue ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, menyimpan cerita tentang akulturasi budaya, filosofi hidup, dan kearifan lokal.
Ciri khas utama Kue Tetu terletak pada wadahnya: daun pandan muda yang dibentuk menyerupai perahu kecil. Bentuk ini bukan sekadar estetika, tetapi simbol kehidupan masyarakat pesisir Palu. Perahu, dalam budaya maritim Nusantara, merepresentasikan mata pencaharian yang bergantung pada laut, keberanian menjelajahi samudra, serta harapan akan hasil yang melimpah setelah pelayaran panjang. Ia juga menjadi metafora bagi perjalanan hidup yang penuh tantangan namun kaya akan peluang.
Filosofi ini mencerminkan relasi erat masyarakat Palu dengan laut sebagai sumber penghidupan dan inspirasi. Setiap kali menyantap Kue Tetu, penikmatnya seolah diajak menyelami lautan makna di dalamnya. Rasa manis gula merah yang lumer berpadu dengan gurih santan bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyiratkan manisnya perjuangan hidup yang diberkahi ibarat pelaut yang menghadapi ombak demi pulang membawa hasil.
Sejarah Kue Tetu tak bisa dilepaskan dari dinamika budaya yang hidup di Palu. Meskipun dikenal sebagai kuliner khas daerah, pengaruh budaya asing terutama Tionghoa terasa begitu kuat. Teknik pembuatan kue kukus dalam wadah daun, misalnya, memiliki kemiripan dengan tradisi kuliner Tiongkok. Ini menunjukkan terjadinya proses asimilasi budaya sejak lama.
Sebagai pelabuhan penting dalam jalur perdagangan rempah, Palu menjadi titik temu berbagai bangsa, termasuk para pedagang Tionghoa. Mereka membawa serta tradisi dan resep-resep khas yang kemudian beradaptasi dengan bahan-bahan lokal. Dari proses itulah lahir hidangan unik seperti Kue Tetu, hasil sintesis budaya yang harmonis dan penuh kearifan.
Bahan dasar kue ini sangat sederhana, hanya dengan tepung terigu, gula merah, dan santan, namun menggambarkan pemanfaatan hasil alam secara bijak. Gula merah memberi rasa manis alami dan warna karamel yang khas, sementara santan dari kelapa menambah kelembutan dan kekayaan rasa. Proses pengukusannya yang sederhana namun telaten menghasilkan tekstur lembut yang lumer di lidah.
Penggunaan daun pandan sebagai wadah pun sarat makna. Selain memberikan aroma harum khas, daun pandan mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan bahan alam yang tersedia melimpah di lingkungan tropis. Ini memperlihatkan kedekatan masyarakat Palu dengan alam dan kesadaran ekologis yang diwariskan turun-temurun.
Lebih dari sekadar jajanan pasar, Kue Tetu memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Palu. Ia hadir dalam berbagai upacara adat dan perayaan, seperti pesta pernikahan, syukuran, hingga hari raya. Kehadirannya menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan kesinambungan tradisi.
Meski zaman terus berganti, Kue Tetu tetap lestari. Baik di pasar tradisional maupun toko oleh-oleh, para penjual tetap setia pada resep warisan, menjamin keaslian rasa dan bentuknya. Meskipun ada modifikasi ringan, setiap gigitan tetap menghadirkan pengalaman otentik yang membawa kita menyusuri jejak sejarah dan budaya Palu.
Kue Tetu adalah bukti bahwa makanan bukan hanya soal rasa, melainkan juga penutur kisah. Ia berbicara tentang akulturasi budaya, kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya alam, filosofi hidup yang mendalam, dan nilai-nilai kebersamaan yang melekat kuat dalam masyarakat. Maka, jika Anda berkesempatan mengunjungi Palu, jangan lewatkan untuk mencicipi manisnya Kue Tetu, sepotong kisah dalam balutan rasa.
Redaktur: Khairani

Leave a comment