Home Opini Merayakan Pemulihan Ozon, Tapi Masih Mengotori Bumi
Opini

Merayakan Pemulihan Ozon, Tapi Masih Mengotori Bumi

Share
Sumber: NASA

Oleh: Frianka Raya Sitanggang

Suara USU, Medan. Selama bertahun-tahun, kita sering mendengar tentang betapa pentingnya menjaga lapisan ozon dan apa saja penyebab menipisnya lapisan ozon. Salah satu penyebab utamanya adalah senyawa bernama CFC (klorofluorokarbon) yang banyak dipakai dalam AC, kulkas, dan semprotan aerosol. Penipisan ozon sangat berbahaya karena dapat membuat sinar ultraviolet (UV) menembus langsung ke permukaan Bumi dan membahayakan kesehatan manusia serta lingkungan. Masalah ini akhirnya membuat negara-negara di dunia menyepakati Protokol Montreal pada tahun 1987, yakni sebuah kesepakatan internasional untuk menghentikan penggunaan zat-zat perusak ozon. Sekarang, hampir 40 tahun sejak kesepakatan itu dimulai, kita mulai melihat hasilnya dengan lapisan ozon yang perlahan pulih. Namun, di balik keberhasilan itu, kita sering lupa bahwa Bumi yang kita pijak juga butuh dijaga. Sampah masih dibuang sembarangan, udara kota makin kotor, dan lingkungan sekitar tetap jadi korban dari kebiasaan buruk yang belum juga berubah.

Menurut laporan What a Waste 2.0 dari World Bank, saat ini dunia menghasilkan sekitar 2,01 miliar ton sampah padat setiap tahun. Dari jumlah itu, sekitar 33% tidak dikelola dengan aman, yang berarti sampah itu dibuang begitu saja, tidak didaur ulang, atau tidak melalui proses pengolahan yang ramah lingkungan. Yang lebih parah, angka ini diperkirakan akan terus meningkat. Pada tahun 2050, jumlah sampah global diprediksi mencapai 3,40 miliar ton per tahun, naik drastis dari jumlah saat ini. Laporan ini juga menunjukkan bahwa tanpa adanya pengelolaan yang baik, peningkatan volume sampah akan memperparah masalah lingkungan yang sudah ada, terutama di negara-negara berkembang yang masih kesulitan dalam infrastruktur dan sistem pengolahan sampah yang memadai.

Indonesia sendiri pastinya tidak akan lepas dari masalah ini. Berdasarkan data tahun 2024 dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), total timbulan sampah dari 317 kabupaten/kota mencapai sekitar 34,2 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, hanya sekitar 59,74% atau 20,44 juta ton yang berhasil dikelola dengan baik, melalui pengurangan dan penanganan sampah. Sisanya, sebesar 40,26% atau sekitar 13,77 juta ton tidak terkelola, yang artinya berpotensi mencemari lingkungan, baik melalui pembuangan yang dilakukan secara sembarangan, pembakaran sampah, maupun masuk ke sungai dan laut. Angka ini menunjukkan bahwa walaupun sistem pengelolaan sudah berjalan, kesenjangan dalam pengelolaan sampah di tingkat daerah masih besar dan butuh perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.

Di balik lapisan ozon yang mulai membaik, kondisi es laut di Antarktika justru semakin memburuk. Walaupun es daratan di sana mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tetapi es lautnya yang mengelilingi Benua Antartika terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Menurut NASA, pada tahun 2024, luas es laut di wilayah ini kembali turun mendekati angka terendah dalam sejarah, dan ini terjadi tiga tahun berturut-turut. Penyusutan ini bukan lagi hal yang wajar atau hanya perubahan cuaca biasa, tetapi sudah menjadi tanda bahwa perubahan iklim global benar-benar berdampak besar di wilayah kutub.

Es laut punya peran penting sebagai pelindung yang memisahkan panas laut dari udara di atasnya. Saat es ini mencair, laut jadi lebih mudah menghangatkan udara, dan suhu di kutub makin naik. Akibatnya, es makin cepat mencair, dan itu menciptakan siklus yang membuat suhu Bumi terus meningkat.

Salah satu penyebab utama dari krisis ini adalah emisi gas rumah kaca, terutama dari aktivitas manusia seperti pembakaran batu bara dan bahan bakar minyak. Menurut Global Carbon Project, total emisi CO₂ dunia pada tahun 2023 mencapai sekitar 36,8 miliar ton, dan jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun. Indonesia sendiri menyumbang jumlah emisi yang cukup besar. Menurut data dari Worldometers, pada tahun 2022 emisi CO₂ Indonesia dari penggunaan bahan bakar fosil mencapai sekitar 692 juta ton. Angka ini mengalami kenaikan sekitar 13,1% dibandingkan tahun 2021, dan menyumbang sekitar 1,8% dari total emisi karbon global. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia dalam urutan ke-6 negara penghasil emisi CO₂ terbesar di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang kita lakukan di daerah tropis juga bisa berdampak besar pada kerusakan lingkungan di Kutub Selatan.

Meski keberhasilan pemulihan lapisan ozon menjadi kabar yang sangat menggembirakan, bukan berarti kita bisa langsung merasa puas. Sebab, jika kita melihat kondisi di sekitar kita, kesadaran dan kepedulian kita terhadap lingkungan sebenarnya masih sangat minim. Mulai dari pembuangan sampah sembarangan, penggunaan plastik sekali pakai yang berlebihan, sampai kepada pemborosan energi yang menjadi kebiasaan tanpa disadari.

Bumi adalah planet yang kita tinggali, rumah kita sendiri. Jika kita sebagai penghuninya tidak menunjukkan kepedulian, maka siapa lagi yang bisa diharapkan untuk menjaganya? Kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis, tetapi tanggung jawab kita semua. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan seharusnya bukan hanya dalam bentuk wacana, tetapi harus diwujudkan dengan nyata walaupun melalui tindakan kecil sekalipun. Salah satu contoh kecil yaitu membuang sampah pada tempatnya. Jika pada suatu waktu kita tidak dapat menemukan tempat sampah di sekitar, maka apa salahnya jika kita menyimpan sampah tersebut terlebih dahulu hingga menemukan tempat yang tepat untuk membuangnya. Masyarakat juga dapat memulai perubahan dengan kebiasaan kecil lainnya, seperti mengurangi penggunaan kantong plastik, membawa botol minum sendiri, mematikan lampu saat tidak digunakan, dan lebih memilih transportasi ramah lingkungan jika memungkinkan. Langkah-langkah kecil seperti ini, pastinya akan memberi dampak positif bagi lingkungan.

Keberhasilan pemulihan lapisan ozon seharusnya menjadi pengingat, bukan sekadar pencapaian yang dibanggakan tanpa diiringi kesadaran akan masalah lain yang masih berlangsung. Pengingat bahwa perubahan positif memang mungkin terjadi, asalkan ada komitmen dan tindakan nyata dari seluruh lapisan masyarakat. Jangan sampai kita merasa paling hebat saat satu keberhasilan tercapai, tetapi tetap menjadi pelaku dari kerusakan yang ada di sekitar kita sendiri.

Redaktur: Alicia Reylina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.