Home Buku David Brooks Kupas Pentingnya Koneksi Manusiawi di Era Individualisme Modern
Buku

David Brooks Kupas Pentingnya Koneksi Manusiawi di Era Individualisme Modern

Share
Amazon.com

Oleh: Emmi Simatupang

Suara USU, Medan. The Second Mountain: The Quest for a Moral Life karya David Brooks bukan sekadar bacaan, melainkan refleksi mendalam atas krisis eksistensial manusia modern. Di tengah dunia yang semakin cepat, digital, dan individualistik, buku ini menjadi ajakan untuk berhenti sejenak, merenung, dan meninjau kembali prioritas hidup.

Berbekal narasi personal dan observasi sosiologis, Brooks membedakan antara dua fase utama dalam hidup manusia, yang ia ibaratkan sebagai dua gunung. Gunung pertama menggambarkan fase kehidupan yang fokus pada pencapaian pribadi seperti mengejar gelar, karier, status sosial, kekayaan, dan pengakuan. Hal tersebut adalah jalur yang sering dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan. Namun setelah puncaknya tercapai, banyak orang justru merasa hampa. Di sinilah seseorang dapat terjatuh ke lembah krisis berupa rasa kehilangan makna, kesepian, hingga kelelahan emosional. Dari lembah itulah seseorang berkesempatan memulai perjalanan menuju gunung kedua, yakni kehidupan yang berlandaskan cinta, komitmen, dan tujuan yang melampaui kepentingan pribadi.

Gunung kedua adalah simbol dari kehidupan yang dibangun atas dasar cinta, komitmen, dan pengabdian. Alih-alih bertanya “apa yang bisa saya raih?”, seseorang mulai bertanya “apa yang bisa saya berikan?” Pendakian ke gunung kedua berarti berani meninggalkan ego demi nilai-nilai luhur yang melampaui kepentingan pribadi. Brooks menyebut kehidupan ini sebagai kehidupan moral, spiritual, dan relasional. Pendakian gunung kedua adalah proses membentuk diri menjadi pribadi yang utuh, terhubung, dan berkomitmen pada hal-hal yang bermakna: keluarga, komunitas, iman, dan pekerjaan yang memberi arti.

Salah satu aspek paling kuat dalam buku ini adalah kritiknya terhadap budaya individualisme. Menurut Brooks, sejak era 1960-an masyarakat Barat mengalami pergeseran nilai dari kolektivitas menuju ekspresi diri. Gagasan seperti “jadilah dirimu sendiri” atau “ikuti passion-mu” menjadi mantra populer. Namun di balik itu, tumbuh generasi yang merasa kesepian, tidak terikat, dan kehilangan orientasi hidup. Ia menyebut kondisi ini sebagai kultur atomisasi, yakni manusia-manusia yang tercerai-berai dan hidup sebagai individu yang berjalan sendiri tanpa komunitas.

Untuk mengatasi hal tersebut, Brooks mengusulkan empat bentuk komitmen yang menurutnya menjadi pondasi kehidupan yang bermakna. Pertama adalah komitmen terhadap pasangan hidup. Kedua, komitmen terhadap keluarga dan komunitas. Ketiga, komitmen terhadap pekerjaan yang bermakna. Keempat, komitmen terhadap filosofi hidup atau nilai-nilai spiritual. Keempat pilar ini menjadi dasar yang kokoh untuk hidup yang berintegritas dan tidak mudah goyah oleh perubahan zaman.

Kelebihan buku ini terletak pada gaya tulisnya yang naratif namun tetap analitis. Brooks piawai memadukan pengalaman pribadi dengan hasil penelitian sosial dan referensi pemikiran klasik. Ia tidak hanya mengandalkan kisah, tetapi juga menyisipkan pemikiran dari tokoh-tokoh seperti Viktor Frankl hingga Saint Augustine yang menjadikan buku ini bernuansa spiritual dan intelektual sekaligus.

Namun demikian, buku ini juga memiliki beberapa kelemahan. Pendekatannya yang sangat personal membuat solusi yang ditawarkan terasa individual dan kurang menyentuh isu-isu struktural yang lebih luas. Dalam konteks ketimpangan ekonomi atau sistem sosial yang timpang, transformasi individu mungkin belum cukup. Selain itu, sebagian bab terasa repetitif dan bisa lebih ringkas tanpa kehilangan esensi.

Meskipun begitu, The Second Mountain tetap relevan, terutama di tengah dunia yang terhubung secara digital namun miskin kedekatan emosional. Brooks tidak menolak teknologi, namun mengingatkan bahwa koneksi digital tidak bisa menggantikan kehadiran fisik, empati, dan relasi yang otentik. Ia menulis bahwa orang yang sehat secara spiritual bukanlah mereka yang hidup bebas, tetapi mereka yang hidup terikat pada orang lain, nilai, dan tujuan.

Buku ini mendapat sambutan positif dari banyak kalangan, mulai dari komunitas religius hingga akademisi. Banyak pembaca mengaku merasa tercermin dalam perjalanan Brooks. Ia tidak menawarkan jalan pintas, melainkan ruang refleksi bagi siapa pun yang tengah bertanya tentang makna hidup.

The Second Mountain bukan buku untuk dibaca cepat. Ia menuntut pembaca untuk berhenti, berpikir, dan mungkin berubah. Di era yang serba cepat dan bising, kehadiran buku ini menjadi ajakan untuk kembali pada keheningan, mendengar suara hati, dan membangun kehidupan yang lebih tulus, terikat, dan penuh makna.

Bagi Sobat SU yang sedang mencari bacaan yang menggugah dan membuka ruang refleksi, buku ini layak untuk dibaca secara perlahan dan penuh penghayatan. Tidak hanya menawarkan perspektif baru tentang makna hidup, tetapi juga mengajak kita untuk menata ulang arah dan tujuan hidup di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.

Redaktur: Yulia Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.