SUARA USU
Sosok

Siapakah Dibalik Nama Pena Tere Liye?

Oleh: Alicia Reylina dan Deva J. G. Simanjuntak

Suara USU, Medan. Penggemar novel tanah air, pasti tidak asing lagi dengan nama Tere Liye. Pasalnya buku-bukunya sering menduduki etalase Best Seller di toko buku besar yang ada di Indonesia seperti Gramedia. Beberapa karya fenomenalnya yang telah diangkat menjadi film yaitu Hafalan Shalat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari-Bidadari Surga, dan Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Namun, taukah kamu kalau Tere Liye bukanlah nama asli melainkan sebuah nama pena dari sang novelis?

Darwis, sosok dibalik nama pena Tere Liye. Darwis mendapatkan nama Tere Liye dari sebuah lagu India yang dinyanyikan oleh Roop Rathod dan Lata Mangeshkar, pada saat ia menyaksikan film Veer-Zaara yang dibintangi oleh Shah Rukh Khan. Tere Liye diambil dari bahasa India dengan arti yang cukup istimewa yaitu “untukmu” atau “hanya untukmu” atau “demi kamu”. Nama Tere Liye dicantumkan dalam setiap karyanya, mempersembahkan buku-buku yang diterbitkannya ‘hanya untukmu’.

Darwis lahir pada tanggal 21 Mei 1979, di Lahat, Sumatera Selatan. Ia merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara yang dibesarkan dalam keluarga sederhana, ayahnya adalah seorang petani. Saat ini Darwis telah menikah dan memiliki dua orang anak. Darwis sendiri merupakan lulusan Universitas Indonesia (UI), Fakultas Ekonomi. Setelah sebelumnya menempuh pendidikan dasar di SDN 2 dan SMN 2 Kakim Timur, Sumatera Selatan, kemudian dilanjutkan ke SMUN 9 Bandar Lampung. Fakta mengejutkan lainnya adalah Darwis merupakan seorang akuntan.

Tidak banyak yang dapat dikulik dari kehidupan pribadi sosok dibalik nama pena Tere Liye ini, sebab tidak seperti penulis terkenal lainnya, Darwis jarang sekali menuliskan biografi dirinya pada bagian belakang buku-buku karyanya. Hal ini sengaja dilakukan, dengan alasan Darwis ingin pembaca lebih fokus pada alur cerita dan karyanya, bukan orangnya. Agar pembaca menikmati tulisan-tulisan Tere Liye, bukan kehidupan Darwis.

Lalu Darwis sebagai sosok Tere Liye selalu terlihat sederhana pada setiap acara yang dihadirinya, ia memiliki ciri khas pada penampilannya, yaitu mengenakan kaos oblong, kupluk, dan sandal. Meski begitu, Tere Liye sendiri, sering disebut sebagai penulis terkaya di Indonesia. Karena hampir setiap kali ia menerbitkan buku, buku-bukunya selalu best seller. Edi Mulyono, CEO Diva Press, pernah mengatakan, “Jika kamu bukan Tere Liye dan Pidi Baiq, maka kamu harus punya profesi lain, selain penulis.” Edi Mulyono juga menyebutkan bahwa royalti yang diperoleh Tere Liye untuk satu bukunya dalam sebulan dapat mencapai ratusan juta atau bahkan satu miliar.

Saat ini, total keseluruhan Tere Liye sudah menerbitkan lebih dari 50 buku dalam sepanjang karir menulisnya, dihitung sejak ia memulai debut kepenulisannya pada tahun 2005 melalui novel Hafalan Shalat Delisa. Tere Liye juga digadang-gadangkan sebagai penulis yang serba bisa, pasalnya ia tidak hanya menggeluti satu genre, ia hampir bisa menulis berbagai jenis genre karya sastra prosa. Di tahun 2023 ini beberapa judul buku Tere Liye yang banyak dinikmati di antaranya, untuk novel bergenre romance dan drama ada Hujan (2016), Hello (2023), Tentang Kamu (2016), dan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (2010). Untuk novel bergenre action dan politik ada Negeri Para Bedebah (2012), Negeri di Ujung Tanduk (2013), Pulang (2015), Pergi (2018), Pulang-Pergi (2021), Bedebah di Ujung Tanduk (2021), Tanah Para Bandit (2023). Untuk novel bergenre science-fiction ada serial Bumi (2014-Sekarang).

“1000 komentar yang kita buat di dunia maya, tidak akan membuat kita naik pangkat menjadi penulis buku. Mulailah menulis buku, jangan habiskan waktu menjadi komentator, mulailah jadi pelaku,” Ujar Tere Liye.

Redaktur: Taty Kristina 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Berkenalan dengan Sosok Erni Asneli, Dosen Sekaligus Aktivis Pendiri Gerakan SAPKANDARA

redaksi

Grazie Vale, Selamat Pensiun Sang Legenda MotoGP!

redaksi

Ahli Editing Video, Ini Perjuangan Rizky Mitra Hamdani

redaksi