
Reporter: Ines Eliyana Br Ginting/ Rifatul Suaidah
Suara USU, Medan. Medan. Simposium bertajuk “Hubungan Kerajaan Aru dan Peradaban Karo” yang digelar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera (USU) berhasil membuka kembali tabir sejarah hubungan antara kejayaan Kerajaan Aru dan akar peradaban Karo. Kegiatan akademik yang berlangsung pada Rabu (8/5) ini merupakan kolaborasi antara Program Studi S1 Ilmu Sejarah FIB USU dengan Karo Foundation, didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Karo.
Digelar di Gedung T. Amin Ridwan sejak pukul 08.30 WIB, simposium ini menghadirkan enam pembicara utama yang mengulas keterkaitan sejarah dan bukti-bukti arkeologis antara Kerajaan Aru dan masyarakat Karo. Dihadiri oleh akademisi, mahasiswa, budayawan, hingga komunitas adat Karo, kegiatan ini mencerminkan antusiasme besar terhadap upaya rekonstruksi sejarah lokal yang selama ini terpinggirkan.
Ketua panitia, Dr. Edi Sumarno, M.Hum., menegaskan bahwa simposium ini digelar untuk menjawab kekosongan narasi sejarah pascaruntuhnya Kerajaan Aru pada abad ke-16 akibat serangan Kesultanan Aceh. “Tujuan simposium ini adalah untuk mengungkap hubungan historis antara Kerajaan Aru dan peradaban Karo,” ujarnya.
Sejumlah artefak peninggalan Kerajaan Aru yang ditemukan di Teluk Aru, Kota Rantang, dan Benteng Putri Hijau menjadi materi penting dalam diskusi. Bukti-bukti ini mendukung argumen tentang kesinambungan budaya dan sejarah antara dua entitas tersebut.
Dekan FIB USU, Prof. Dr. Dra. T. Thyrhaya Zein, M.A., menyambut baik kolaborasi ini. “Ini merupakan kegiatan akademik kolaboratif yang diinisiasi oleh Fakultas Ilmu Budaya bersama Karo Foundation, dan diimplementasikan melalui Program Studi Ilmu Sejarah,” katanya. Ia berharap hasil simposium ini akan terdokumentasi dalam bentuk buku rujukan bagi kalangan akademisi maupun masyarakat luas.
Sekretaris Program Studi Ilmu Sejarah USU, Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si., yang juga merupakan anggota Pilar 1 Karo Foundation, menilai simposium ini sebagai langkah penting dalam memperkuat identitas budaya Karo. “Suku Karo memiliki potensi luar biasa yang perlu digali. Melalui kegiatan ini, kita menelusuri kembali relasi yang lama tertimbun oleh waktu,” ungkapnya.
Sekretaris Umum Karo Foundation, Dr. Ir. Analgin Ginting, M.Min., menyoroti pentingnya validasi sejarah melalui pendekatan ilmiah dan bukti konkret. “Keberadaan artefak dan situs sejarah seperti Benteng Putri Hijau dan Deli Tua menjadi landasan penting untuk penelitian lanjutan terkait hubungan antara Kerajaan Aru dan masyarakat Karo,” jelasnya.
Selain menjadi forum ilmiah, simposium ini juga menjadi momentum strategis dalam pelestarian budaya Karo. Pemerintah Kabupaten Karo, yang diwakili langsung oleh Bupati, menunjukkan dukungannya secara penuh. Salah satu program yang dirancang Karo Foundation ke depan adalah digitalisasi aksara Karo serta implementasinya pada fasilitas publik di Kabupaten Karo.
Kolastika, mahasiswa Ilmu Sejarah USU yang turut hadir sebagai peserta, mengungkapkan antusiasmenya terhadap temuan yang diangkat dalam forum. “Yang paling menarik bagi saya adalah saat mengetahui bahwa kata ‘Aru’ berasal dari bahasa Karo. Rasanya seperti menemukan kembali jati diri yang lama terlupakan. Lebih menggugah karena masyarakat Karo sendiri yang menginisiasi penggalian sejarah ini,” ujarnya.
Harapan serupa disampaikan oleh panitia, Rana Alif Novandi. “Semoga ke depannya semakin banyak budaya yang diangkat dan dikaji secara mendalam. Banyak budaya lokal yang menarik tetapi belum banyak mendapat sorotan,” ungkapnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap riset sejarah dan budaya Karo, Karo Foundation juga membuka peluang pendanaan untuk penelitian lanjutan yang dilakukan oleh mahasiswa Ilmu Sejarah USU.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment