
Oleh: Naila Ariyati dan Alya Nayla Sahirah
Suara USU, Medan. Stasiun Kereta Api Indonesia (KAI) Binjai atau sebelumnya bernama Stasiun Timbang Langkat yang terletak di Jl. Ikan Paus, Binjai Timur tepatnya di sebelah terminal Kota Binjai adalah stasiun kereta api kelas II yang termasuk Divisi Regional I Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh. Bangunan Stasiun KAI Binjai ini sudah berdiri sejak tahun 1887 dan menjadi saksi sejarah perkembangan Kota Binjai dan kemerdekaan Indonesia. Pada masa kolonial Belanda, stasiun ini dibangun untuk melancarkan pengangkutan tembakau, salah satu hasil pertanian bernilai tinggi pada masa itu
Stasiun KAI Binjai terus berkembang dengan renovasi bangunan yang lebih tertata seperti, jendela kayu yang tinggi dan tiang penyangga dengan berbahan dasar kayu kokoh peninggalan Belanda. Renovasi yang dijalankan masih mempertahankan gaya arsitektur maupun struktur Eropa-Belanda dan Melayu Deli klasik yang cukup kental, hal ini pula yang membedakan stasiun ini dengan stasiun antarkota lainnya. Bangunan stasiun ini terhitung sudah berdiri selama 1 abad, menjadi saksi bisu sejarah yang menghiasi setiap sudutnya. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia telah menetapkan bangunan Stasiun Binjai sebagai cagar budaya melalui SK menteri Nomor PM.01/PW.007/MKP/2010 dengan nomor registrasi RNCB 20100108.02.000343.
Selain itu, Stasiun KAI Binjai juga tercatat dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya (Regnas) dengan nomor registrasi KB000917. Pengakuan resmi tersebut memperkuat status stasiun ini sebagai salah satu aset sejarah penting di Sumut yang harus dilestarikan. Keberadaan stasiun ini bukan hanya sebagai sarana transportasi, tetapi juga bagian dari identitas Kota Binjai yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
Arsitektur bangunan Stasiun KAI Binjai mencerminkan gaya kolonial Belanda beraliran Indis, yaitu hasil akulturasi antara gaya Eropa dengan unsur tropis dan Melayu. Ciri khas gaya tersebut terlihat dari adanya selasar yang melindungi bangunan dari hujan dan panas, orientasi bangunan utara-selatan untuk mengurangi paparan sinar matahari tropis, serta penggunaan tower dengan jendela yang berfungsi sebagai pencahayaan alami. Ornamen balustrade, pintu dan jendela double swing, bovenlicht, hingga list-plank menunjukkan perpaduan estetika Eropa dengan sentuhan Melayu Deli, yang mempertegas nilai arsitekturalnya yang unik.
Sejarah panjang Stasiun KAI Binjai juga terekam dalam jalur-jalur kereta api yang pernah ada. Dulunya stasiun ini merupakan persimpangan menuju Kuala dan Besitang, tetapi kini jalur tersebut sudah tidak lagi aktif. Dari enam jalur yang ada pada masa kolonial, saat ini hanya tersisa tiga jalur saja. Sistem persinyalan mekanik yang pernah digunakan pun telah diperbarui menjadi sistem elektrik buatan Len Industri sejak akhir tahun 2020. Meskipun demikian, beberapa sisa infrastruktur lama seperti bekas menara air dan sumur masih menjadi saksi bisu perjalanan panjang stasiun ini.
Tarif perjalanan dari Stasiun Kereta Api Kota Binjai cukup beragam, menyesuaikan jangkauan tujuan masing-masing, misalnya tarif Rp5000 untuk satu kali keberangkatan Binjai-Medan atau Medan-Binjai dengan waktu tempuh 22 menit dan tersedia 11 keberangkatan, serta 9 kedatangan. Lalu saat ini, Stasiun Binjai terus berkembang dan melayani rute antarkota lainnya seperti Kuala Bingai-Binjai-Medan yang merogoh tarif sebesar Rp2000 dengan waktu tempuh 16 menit dan tersedia 2 keberangkatan serta 1 kedatangan.
Tak heran, banyak warga binjai yang lebih memilih moda transportasi kereta api ini karena jarak tempuh yang fleksibel disertai tarif ongkos yang murah. Letak stasiun yang strategis dan berada di pusat kota, mempermudah mobilitas masyarakat Kota Binjai yang didominasi pekerja dan mahasiswa yang menjalani rutinitas di Kota Medan. Stasiun Kereta Api Binjai juga dilengkapi dengan fasilitas parkiran yang luas, ruang tunggu nyaman yang disertai charger station, toilet disabilitas, mushola, vending mechine, dan pegawai yang siaga membantu. Stasiun ini juga menerapkan pemesanan tiket dengan pembayaran cashless yang dapat dipesan lewat ticket mechine maupun aplikasi KAI access atau KA Bandara.
Selain berfungsi sebagai sarana transportasi, kini Stasiun Binjai juga sedang diarahkan menjadi salah satu daya tarik wisata warisan atau peninggalan sejarah. Pada Mei 2025 lalu, Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara bersama Dinas Pariwisata Kota Binjai telah berdiskusi dengan pihak pengelola stasiun mengenai strategi pemanfaatan dan pengembangan Stasiun KAI Binjai sebagai objek wisata budaya. Hal ini diharapkan dapat memperkuat identitas Kota Binjai sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan di Kota Binjai dan Kabupaten Langkat.
Farah Amalia yang sudah menjadi pengguna kereta api di stasiun tersebut selama 4 tahun terakhir mengaku senang menjadikan kereta api sebagai tranportasi yang memudahkan mobilitas sehari-hari menuju kampus maupun tempat bekerja. Ia juga mengungkap kesannya pada gaya arsitektur kereta api yang masih dipertahankan, juga dapat menjadi saksi bisu kehidupan seseorang. Baginya, mempertahankan bentuk bangunan yang ada akan memberi suasana dan momen yang bermakna bagi orang-orang yang datang dan pergi melalui stasiun ini. Tidak hanya mempermudah mobilitas kehidupan manusia, kereta api dan stasiun kereta api juga menjadi saksi bisu sejarah dan cerita kehidupan penumpangnya. Selain manusia, kereta api juga membantu lingkungan mendapat pengurangan emisi gas karbon, melalui orang-orang yang lebih memilih memakirkan mobil atau motornya di parkiran stasiun dan bepergian ke berbagai tempat dengan layanan kereta api.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment