Home Cerpen Surat untuk Masa Depan
CerpenSastra

Surat untuk Masa Depan

Share

Oleh: Rosani Margaretha Samosir

Surat itu lahir dari sebuah malam yang tidak ingin dikenang. Bukan karena hujan, bukan karena tangis, melainkan karena ada beban yang terlalu lama dipikul oleh seorang anak yang belum sempat belajar kalah dengan wajar, Alka namanya.

Alka duduk di depan meja kayu yang telah kehilangan kilaunya. Permukaannya dipenuhi bekas goresan jejak waktu, jejak lelah, jejak hari-hari yang berlalu tanpa benar-benar selesai. Di sanalah malam-malam berat sering berakhir tanpa tepuk tangan, tanpa jeda, tanpa ada yang menanyakan apakah ia masih sanggup. Ia menatap kertas kosong seperti menatap cermin yang sunyi, jujur, dan tak memberi penghiburan apa pun. Kertas itu tidak menjanjikan apa-apa, tidak menawarkan harapan palsu. Ia hanya ada, menunggu.

“Apa aku masih boleh berharap?” tanyanya pada dirinya sendiri, pelan, nyaris tak bersuara.

Pertanyaan itu tidak mencari jawaban, ia hanya ingin diakui. Tidak ada suara yang menyahut, maka ia menulis.

“Untuk Alka yang akan datang.” Tulisnya perlahan, seakan setiap huruf memiliki beratnya sendiri.

“Jika kau membaca surat ini, semoga kau masih ingat siapa dirimu hari ini, seorang anak yang hampir menyerah. Hari ini, kau merasa kalah, ingin berhenti. Tapi entah kenapa, ada kepercayaan yang terpatri bahwa masa depanmu akan lebih baik. Jadi, jika kau benar-benar sudah sampai di sana, tolong jangan lupakan aku hari ini yang sedang berjuang untuk sekadar bertahan.”

Tulisan itu bergelombang, bukan karena tinta yang habis, melainkan karena tangan yang bergetar menahan tangis. Alka mengusap matanya, menarik napas panjang, lalu menulis lagi. Kali ini bukan  sekadar curahan hati, melainkan janji. 

“Aku tahu kau mungkin sudah lupa rasanya lapar, lelah, dan kecewa. Tapi jangan pernah lupakan hari-hari ini. Dari sinilah semua bermula. Dari air mata ibu yang jatuh diam-diam, dari tangan ayah yang tetap bekerja meski tak lagi kuat, dari keringatmu sendiri yang menetes di atas meja belajar.”

Ketika surat itu selesai, malam terasa sedikit lebih longgar. Tidak lebih ringan, hanya cukup lapang untuk bernapas. Alka melipat kertas itu perlahan, menyimpannya di laci paling bawah, seolah menyimpan dirinya sendiri di sana, yang rapuh tapi belum menyerah.

***

Waktu berjalan dengan langkah yang tidak ramah. Ayahnya berhenti bekerja tanpa banyak penjelasan. Ibunya berdiri berjam-jam di depan wajan panas, menukar tenaga dengan receh yang dihitung satu per satu. Alka belajar membagi hari menjadi dua, yaitu sekolah dan bertahan hidup. Ia datang ke kelas membawa kantuk yang tak sempat ditinggalkan, pulang membawa tanggung jawab yang tak bisa ditolak.

Teman-temannya sibuk dengan bimbingan belajar, jurusan impian dan persiapan kuliah. Mereka mulai sibuk membicarakan kuliah dan masa depan. Alka memilih diam. Baginya, memikirkan besok saja sudah terasa terlalu jauh.

Ia belajar dari buku-buku bekas, dari catatan yang ditulis ulang saat malam hampir habis. Ia belajar bukan untuk menjadi paling pandai, melainkan agar tidak tertinggal. Nilainya tak selalu bersinar, tetapi ketekunannya tak pernah benar-benar padam.

Hingga suatu hari, tubuh ibunya mulai sering menyerah. Rumah sakit menjadi ruang tunggu panjang antara cemas dan doa. Lampu-lampu putih, bau antiseptik, dan suara langkah cepat menjadi bagian dari hari-harinya. Di sanalah Alka belajar bahwa ketenangan bisa menyelamatkan nyawa. Ia melihat tangan-tangan yang sigap, suara-suara yang tenang, dan keputusan yang mengubah akhir seseorang atau setidaknya menundanya.

“Aku ingin berguna,” gumamnya pada diri sendiri.

Gumaman itu bukan sebagai mimpi besar, melainkan sebagai kebutuhan. Namun, hidup tidak segera menjawab.

Malam paling sunyi datang tanpa permisi. Ibunya pergi, meninggalkan ruang kosong yang tak bisa diisi apa pun. Ayahnya kehilangan suara, seolah kata-kata ikut dikuburkan bersama kepergian itu. Alka kehilangan arah. Hari-hari berjalan tanpa penanda, tanpa tujuan yang jelas.

***

Suatu sore, saat membereskan barang-barang ibunya, ia menemukan sapu tangan kecil. Kainnya telah usang. Di sudutnya ada tulisan yang hampir hilang.

Belajarlah, Nak. Dunia ini akan berubah dan kamu akan kuat menghadapinya.

Kalimat itu tidak menjanjikan masa depan. Tapi cukup untuk membuat Alka berdiri lagi. Ia kembali ke sekolah, menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, hingga mendaftar ke tempat-tempat yang selama ini terasa terlalu tinggi untuknya. Ia tidak menuntut keberhasilan, ia hanya meminta kesempatan, satu celah kecil agar hidup tidak berhenti di sana. Dan hidup, yang selama ini keras, memberi satu celah itu.

Ia diterima.

Kuliah menjadi babak baru yang tetap berat, tapi bermakna. Ia bekerja, belajar, dan jatuh bangun dengan ritme yang pelan tapi pasti. Ada hari-hari ketika lelah kembali mendominasi, ketika ragu datang tanpa diundang.

***

Tahun-tahun berlalu bagai lembar kertas yang terus bergulir disingkap. Tiba pula pada suatu malam, di antara barang-barang lama yang selama ini disimpan sampai tak terpandang mata dengan mudah, Alka menemukan kembali surat itu. Kertasnya menguning, tulisannya memudar, tetapi isinya masih tetap memancarkan kehangatan. Ia membaca pelan, seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri di masa lalu. Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu. Kertas di dalamnya telah menguning, tapi setiap kata terasa hidup. Ia membaca perlahan, menelusuri baris demi baris dengan mata yang mulai berkaca.

“Jika kau membaca ini, berarti kau telah melewati semua yang dulu terasa mustahil…” Kalimat penutup Alka baca dengan hati-hati dan bibir bergetar.

Air matanya jatuh, menetes di atas surat dengan kertas menguning itu. Ia tersenyum getir, mengingat setiap rasa lapar, setiap malam tanpa tidur, setiap kali ia hampir menyerah. Surat itu seolah tangan kecil dari masa lalu yang menepuk pundaknya, mengingatkan bahwa perjuangan tak pernah sia-sia.

Alka mengambil pena dan menulis di bagian bawah surat itu

Aku sampai. Tidak mudah, tapi nyata.

Ia melipat surat itu kembali dan menyimpannya. Di luar, malam tenang. Tidak ada simbol yang perlu dijelaskan, tidak ada hujan yang harus dimaknai. Kali ini, ia tidak merasa kalah dan takut, dirinya yang dulu telah menulis jalan menuju hari ini.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.