Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Opini

Survei Microsoft, Warganet Indonesia Paling Tak Sopan Se-Asia Tenggara

Oleh : Fikih Firmansyah & Agus Nurbillah

Suara USU, MEDAN. Dunia maya memberikan keleluasaan penggunanya untuk melakukan berbagai hal. Media internet menyajikan berbagai layanan yang memudahkan pekerjaan manusia. Hal ini tak dapat dipungkiri memicu timbulnya kejahatan-kejahatan akibat dari penggunaan internet itu sendiri.

Awal bulan Maret 2021, Microsoft merilis laporan terbaru Digital Civility Index (DCI) yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya. Dalam riset ini, warganet Indonesia menempati urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Artinya, Indonesia masuk sebagai salah satu negara dengan tingkat kesopanan digital yang rendah di dunia. Bahkan, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di urutan terbawah. Tingkat kesopanan warganet Indonesia memburuk delapan poin ke angka 76, di mana semakin tinggi angkanya tingkat kesopanan semakin buruk.

Survei yang dilakukan oleh DCI terdiri atas 16.000 responden dari 32 wilayah. Survei tersebut mencakup responden dewasa dan remaja terkait pengalaman mereka dalam menggunakan internet. Dari hasil survei tersebut, ada tiga faktor yang berpengaruh pada tingkat kesopanan pengguna internet Indonesia.

Paling tinggi adalah hoaks dan penipuan yang naik 13 poin ke angka 47 persen. Kemudian faktor ujaran kebencian yang naik 5 poin, menjadi 27 persen. Dan ketiga adalah diskriminasi sebesar 13 persen, yang turun sebanyak 2 poin dibanding tahun lalu (2020).

Menurut analisa dari Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang menyebutkan bahwa dunia maya memberikan kebebasan siapa saja untuk melakukan berbagai hal di media sosial, seperti jual beli online yang memudahkan kita untuk mendapatkan barang dari mana pun, terlebih di masa pandemi ini jual beli secara online meningkat tajam, tak bisa dipungkiri penipuan kerap kali terjadi. Penipuan ini terjadi karena warganet lengah dan tertipu akan ilustrasi visual yang disajikan di media, serta tidak melakukan cek terhadap testimoni yang ditampilkan. Selain itu, adanya akun-akun palsu juga berkontribusi terhadap kasus penipuan.

Rustika menambahkan, ada dua hal yang bisa meregulasi warganet Indonesia agar lebih baik ke depannya dalam menyikapi penggunaan media sosial ini. Yang pertama, memberikan kesadaran kepada masyarakat terkait adab dalam menggunakan media sosial dan yang kedua adalah aturan hukum yang jelas terkait hal-hal atau risiko yang terjadi di media sosial itu sendiri.

Gambar 2 Hampir 5 dari 10 terlibat dalam insiden bullying

Hal yang menarik dari fenomena warganet Indonesia adalah bullying. Fenomena bullying oleh warganet Indonesia ini berkembang di berbagai platform media, misalkan saja di Instagram bully terhadap Dayana, di TikTok ada Denise Chariesta, di Twitter ada Bu Susi Pudjiastuti, ada juga Kekeyi, dan banyak lagi lainnya. Kasus bully sendiri lebih banyak terjadi di Instagram karena di sana lebih visual sehingga banyak warganet yang melakukan body shaming kepada selebgram. Lain hal nya di Twitter bully-nya lebih ke arah politik kebijakan, banyak sekali ujaran kebencian kepada tokoh-tokoh tertentu.

Kemudian, sebagai reaksi atas hasil survei yang menyebut warganet RI termasuk yang paling tidak sopan tersebut, Warganet Indonesia ramai menyerbu kolom komentar akun Instagram Microsoft. Pada Kamis (25/2) malam akun Instagram Microsoft dibanjiri komentar hingga lebih dari 2.000 komentar dari warganet yang tak terima dengan hasil survei tersebut. Namun, pada Jumat (26/2) pagi kolom komentar akun itu dimatikan dan kemudian dihidupkan lagi kolom komentarnya pada hari Minggu (28/2).

Hasil dari survei ini agaknya mampu menjadi acuan untuk pemerintah agar lebih memperhatikan kebijakan dan tindakan dalam membebaskan masyarakat dalam bersosial media. Jangan sampai kritik-kritik yang bersifat membangun dituduh subversif, namun aksi bullying dan tindakn memalukan lainnya dibiarkan. Harus ada tindakan dan kajian yang komprehensif untuk kebaikan masyarakat dalam bersosial media, untuk melebarkan sayap-sayap kebermanfaatan.

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri

Related posts

Jalani Tes Kepribadian di Internet, Self-Diagnosis Berujung Penyakit Mental

redaksi

Fasilitas Kampus Tak Terpakai Selama Kuliah Online, Lalu ke Mana Larinya UKT?

redaksi

Uji Materi Ditolak, Koruptor Menang Telak!

redaksi