Oleh: Mardina Anindhita Kusumadewi
Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota budaya, tetapi juga sebagai daerah yang masih mempertahankan eksistensi Kesultanan Yogyakarta. Di antara berbagai peninggalan sejarahnya, Taman Sari menjadi salah satu situs bersejarah yang menyimpan kisah lebih dari sekadar destinasi wisata. Kompleks peninggalan Kesultanan Yogyakarta ini menjadi saksi bagaimana kasih sayang seorang sultan diabadikan melalui sebuah mahakarya arsitektur yang masih berdiri hingga kini.
Taman Sari berlokasi di Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama Taman Sari diartikan sebagai taman yang indah dan memesona. Kompleks ini juga dikenal sebagai Water Kasteel atau Istana Air karena memiliki sejumlah kolam pemandian dan danau buatan. Selain itu, Taman Sari dijuluki The Fragrant Garden karena pada masanya ditanami berbagai pohon dan bunga yang menghasilkan aroma harum di sekitar kawasan taman.
Pembangunan Taman Sari dimulai pada 1757 atas perintah Sultan Hamengku Buwono I dan diperkirakan selesai pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II. Pembangunan taman ini berawal dari keinginan Sultan Hamengku Buwono I untuk memberikan penghargaan kepada permaisurinya atas pengorbanan dan kesetiaannya mendampingi sang sultan selama Perang Giyanti. Karena itu, Taman Sari tidak hanya berfungsi sebagai taman kerajaan, tetapi juga menjadi simbol kasih sayang dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta.
Taman Sari memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan yang terdiri atas gedung, kolam pemandian, jembatan, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, serta lorong bawah tanah. Arsitekturnya memadukan gaya Jawa dan Portugis. Keunikan kompleks ini juga terlihat pada sejumlah gerbang yang dihiasi ornamen makhluk mitologis. Ornamen tersebut dipercaya sebagai penolak bala sekaligus mencerminkan nilai budaya dan kepercayaan masyarakat pada masa itu.
Pada masa kejayaannya, Taman Sari berfungsi sebagai tempat rekreasi dan pemandian keluarga kerajaan. Tungku pembakar wewangian ditempatkan di sekitar kolam sehingga aroma bunga memenuhi kawasan pemandian dan menciptakan suasana yang nyaman bagi keluarga sultan.
Selain sebagai tempat rekreasi, Taman Sari juga memiliki fungsi pertahanan. Kompleks ini dilengkapi lorong bawah tanah yang digunakan sebagai jalur penyelamatan ketika musuh menyerang Keraton. Setelah keluarga kerajaan berada di tempat yang aman, pintu air dibuka untuk mengalirkan air ke lorong tersebut sehingga menghambat pergerakan musuh.
Fungsi spiritual Taman Sari terlihat pada keberadaan Sumur Gumuling dan Pulo Panembung. Sumur Gumuling yang berbentuk melingkar difungsikan sebagai masjid, sedangkan Pulo Panembung menjadi tempat Sultan bermeditasi. Kedua bangunan tersebut berada di kawasan Segaran yang dahulu dikelilingi hamparan air.
Perjalanan Taman Sari tidak terlepas dari berbagai bencana. Gempa bumi besar yang mengguncang Yogyakarta pada 1867, pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VI, menyebabkan sebagian besar kompleks mengalami kerusakan parah dan terbengkalai. Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai membangun permukiman di antara bekas taman dan puing-puing bangunan.
Upaya renovasi secara serius dimulai pada 1977. Sejumlah bangunan yang tertimbun mulai diekskavasi, meskipun hanya sebagian kecil kompleks yang dapat dipulihkan. Pada 2006, gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter kembali merusak sejumlah bagian Taman Sari. Setelah itu, pemerintah melakukan renovasi dan revitalisasi dengan memperbaiki serta memperkuat struktur bangunan yang terdampak.
Kini, meskipun sebagian bangunannya telah hilang, Taman Sari tetap menjadi salah satu warisan budaya yang merekam kisah kasih sayang di balik kejayaan Kesultanan Yogyakarta. Di tengah permukiman warga, sisa-sisa kompleks ini masih menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menyaksikan jejak kemegahan taman kerajaan pada masa lampau.
Redaktur : Emia Timentha Tarigan
Leave a comment