SUARA USU
Sosok

Tirto Adhi Soerjo, Sang Pelopor Pers di Indonesia

Oleh: Beby Cahya Ramadhanty

Suara USU, Medan. Raden Mas Djokomono atau lebih dikenal dengan nama Tirto Adhi Soerjo merupakan sosok dibalik tumbuhnya pers pertama di Indonesia. Lahir di Cepu, Blora, Jawa Tengah pada tahun 1880, beliau tumbuh dalam keluarga priyayi (bangsawan Jawa). Ia juga dikenal sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S.

Beliau menempuh pendidikan formal di STOVIA (sekolah kedokteran di Batavia), tetapi ia memilih untuk tidak menyelesaikan pendidikannya dan memutuskan untuk terjun ke dunia jurnalistik dan aktivisme.Setelah memutuskan untuk keluar dari STOVIA, Tirto Adhi Soerjo memulai pekerjaannya menjadi redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian berganti nama menjadi Pembrita Betawi) selama setahun. Disinilah momen yang menjadi cikal bakal Tirto Adhi Soerjo semakin tertarik pada dunia jurnalistik.

Sebagai seorang priyayi yang terpelajar, Tirto Adhi Soerjo memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk mengkritik ketidakadilan melalui tulisannya. Dengan menggunakan media cetak, ia memimpin surat kabar yang ia buat yaitu “Soenda Berita”. Surat kabar ini berperan dalam menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran berpolitik di kalangan masyarakat pribumi Indonesia pada awal abad ke-20. Soenda Berita ini juga sebagai media bagi Tirto Adhi Soerjo dalam menyuarakan kritik terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

Kemudian di tahun 1907, ia juga mendirikan Medan Prijaji di Bandung. Dikutip dari laman Ensiklopedia Kemendikbud, Medan Prijaji merupakan surat kabar pertama yang bersuara nasional. Medan Prijaji sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu. Surat kabar ini kembali berisi kritikan pedas terhadap pemerintah kolonial dan tempat pengaduan bagi setiap pribumi yang tidak diperlakukan secara adil akibat pemerintah kolonial yang bertindak sewenangnya. Dalam perkembangannya, Medan Prijaji menjadi suara penting yang menggugah semangat perlawanan dan memperkuat rasa nasionalisme.

Alih-alih menjadi seorang dokter, Tirto Adhi Soerjo merasa bahwa minatnya pada dunia jurnalistik dan menjadi jurnalis lebih tinggi daripada menjadi seorang dokter. Melalui tulisan-tulisannya, ia mengangkat isu-isu penting seperti hak rakyat pribumi dan ketidakadilan sosial. Upayanya dalam dunia jurnalistik membuatnya beberapa kali berkonflik dengan pemerintah kolonial. Namun begitu, tak memadamkan semangat Tirto Adhi Soerjo dalam membela bangsa melalui kontribusinya yang ia tuangkan dalam surat kabar. Akibat kecaman pedas yang berani ia lontarkan dalam surat kabar itulah yang membuat Tirto Adhi Soerjo ditangkap dan disingkirkan ke Pulau Bacan dekat Halmahera (Maluku Utara).

Tirto Adhi Soerjo menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 7 Desember 1918 di Batavia (Jakarta). Atas dedikasi dan perjuangannya menyuarakan keadilan bagi bangsa dan negara, ia dikukuhkan sebagai “Bapak Pers Nasional” dan pada tanggal 3 November 2006, Tirto Adhi Soerjo mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI No. 85/TK/2006. Namanya abadi dalam sejarah pers di Indonesia.

Sebagai pelopor jurnalisme kritis dan aktivis pergerakan nasional, Tirto Adhi Soerjo tidak hanya meninggalkan jejak dalam sejarah pers Indonesia melalui tulisan-tulisannya, tetapi juga menginspirasi generasi penerus untuk menyuarakan keadilan. Warisannya hidup dalam karya-karya sastra seperti “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, yang mengabadikannya dalam Tetralogi Pulau Buru.

Redaktur: Feby Simarmata

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Mengabdi Saat Pandemi ala Azhari

redaksi

Polisi Idaman Semesta Pernah Ada, Namanya Hoegeng Iman Sentosa

redaksi

Ahmad Widad, Berbagi Pengalaman Lewat Dunia Konten Kreator

redaksi