Home Entertaiment Tren Minum Minuman Manis di Kalangan Mahasiswa, Gaya Hidup dan Ancaman Kesehatan
EntertaimentLife Style

Tren Minum Minuman Manis di Kalangan Mahasiswa, Gaya Hidup dan Ancaman Kesehatan

Share
Ilustrasi: Nataly Princess

Oleh: Ines Eliyana Br Ginting

Suara USU, Medan. Konsumsi minuman manis atau Sugar-Sweetened Beverages (SSB) menjadi suatu kebiasaan di kalangan mahasiswa. Gaya hidup yang dinamis, jadwal kuliah yang padat, serta kemudahan akses terhadap minuman berkadar gula tinggi membuat banyak mahasiswa mengonsumsi minuman seperti kopi susu, boba, soda, dan minuman energi untuk menemani aktivitas mereka.

Menurut Jurnal Gizi Universitas Negeri Surabaya, sebanyak 41% mahasiswa memiliki frekuensi konsumsi minuman manis kemasan lebih dari sekali dalam satu minggu. Hal ini dikarenakan minuman manis kemasan ini sering dikonsumsi bersama teman sebaya dan memiliki rasa yang manis dan enak. Hal tersebut juga didukung oleh laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, yang menunjukkan bahwa di atas 40% kelompok usia 19 – 29 tahun atau dewasa muda, memiliki kebiasaan konsumsi minuman manis dengan frekuensi 1 – 6 kali per minggu.

Adapun mayoritas pada kelompok usia ini adalah mahasiswa atau pekerja, yang memiliki persepsi bahwa minuman manis merupakan social drink yang sering disajikan dalam pertemuan, serta dikonsumsi secara terus menerus. Berbagai alasan mengonsumsi minuman manis menjadi sebuah habitus, salah satunya adalah kebutuhan akan sumber energi instan. Singkatnya, minuman yang lebih banyak memberikan kalori kosong daripada manfaat atau kandungan gizi yang berarti.

Di tengah jadwal perkuliahan yang padat dan tuntutan akademik yang tinggi, kerap kali yang dicari-cari adalah minuman yang dapat membantu meningkatkan fokus dan stamina. Kopi susu dan minuman energi menjadi top pick, dikarenakan kandungan kafein dan gulanya dapat memberikan dorongan energi yang cepat, sehingga membantu mereka tetap terjaga saat belajar atau mengerjakan tugas.

Selain faktor kebutuhan, tren sosial dan budaya juga berperan besar dalam meningkatnya konsumsi SSB di kalangan mahasiswa. Kehadiran berbagai kafe di sekitar kampus serta promosi melalui media sosial menjadikan minuman ini sebagai bagian dari gaya hidup modern. Lingkungan tempat tinggal, kemudahan akses, serta bentuk self reward dan obat ketika stress juga menjadi faktor pendukung mengonsumsi SSB.

Daya tarik utama dari minuman manis tentu terletak pada rasanya yang lebih menarik dibandingkan air putih. Berbagai varian rasa yang ditawarkan menjadikannya pilihan favorit bagi mahasiswa. Selain itu, keterjangkauan harga juga menjadi faktor penting. Banyak booth minuman manis yang dijual dengan harga yang ekonomis, menjadi daya tarik tersendiri bagi mahasiswa. Namun, di balik popularitasnya, masih banyak mahasiswa yang kurang menyadari dampak kesehatan dari konsumsi minuman manis secara berlebihan.

Konsumsi minuman manis yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kesehatan, salah satunya adalah peningkatan risiko obesitas dan Penyakit Tidak Menular (PTM). Kandungan gula tambahan dalam minuman ini dapat menyebabkan penimbunan lemak dalam tubuh, yang jika dikonsumsi secara berlebihan, berpotensi memicu kenaikan berat badan secara signifikan. Selain itu, menurut World Health Organization (WHO), asupan gula berlebih dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik, seperti diabetes tipe dua, terutama jika tidak diimbangi dengan gaya hidup yang sehat. Meskipun minuman manis dapat memberikan dorongan energi secara instan, efeknya hanya bersifat sementara. Setelah lonjakan gula dalam darah, tubuh akan mengalami penurunan kadar gula secara drastis yang dapat menyebabkan rasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan menurunkan produktivitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi konsumsi minuman manis atau SSB

  1. Membatasi konsumsi minuman manis secara bertahap

Mahasiswa dapat mulai mengurangi konsumsi minuman manis secara perlahan, misalnya dengan mengganti satu porsi minuman manis per hari dengan air putih atau jus buah dengan sedikit gula.

  1. Membaca informasi gizi pada kemasan

Membiasakan diri membaca kandungan gula pada label kemasan dapat membantu membuat pilihan yang lebih sehat. Menurut pedoman WHO terbaru, batas asupan gula bebas harian, baik untuk orang dewasa maupun anak-anak harus kurang dari 10% dari total asupan energi. Misalnya, pada orang dewasa total asupan energinya adalah 2.000 kalori per hari, artinya batas asupan gula hariannya hanya 200 kalori atau sekitar 50 gram gula yang setara dengan 12 sendok teh gula.

  1. Membiasakan minum air putih yang cukup

Mengonsumsi air putih secara rutin dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap minuman manis. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), orang dewasa disarankan untuk mengonsumsi air putih sebanyak 8 gelas atau setara dengan 2 liter setiap hari. Menyediakan botol air minum sendiri juga bisa menjadi solusi agar mahasiswa lebih terbiasa dengan air putih.

  1. Menyediakan alternatif yang lebih sehat

Kafe dan kantin di lingkungan kampus dapat menyediakan pilihan minuman dengan kadar gula lebih rendah seperti teh herbal, infused water, dan jus tanpa tambahan gula.

Mengonsumsi minuman manis di kalangan mahasiswa telah menjadi habitus dan tren yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebutuhan energi, pengaruh social dan budaya, serta lingkungan. Namun, konsumsi berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan, seperti peningkatan risiko obesitas dan PTM, gangguan metabolik, dan penurunan produktivitas.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kesadaran yang lebih tinggi mengenai dampak kesehatan dari minuman berpemanis serta upaya aktif untuk mencari alternatif yang lebih sehat. Dengan perubahan kecil dalam pola konsumsi, mahasiswa dapat tetap menjaga kesehatannya tanpa harus sepenuhnya mengorbankan kenyamanan dan kesenangan dalam menikmati minuman favorit mereka.

Redaktur: Axfeba Saragih

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.