SUARA USU
Kabar Kampus

Yang Harus Dilindung Chapter IV

Penulis : Naufal Adly

SUARAUSU,MEDAN.
Sebelumnya di bagian ketiga…

Terlihat ia sudah membidikkan pistol ke arah Syahnaz. Spontan aku langsung berlari ke arah Syahnaz tanpa berpikir lagi.

Aku merasa bahwa aku tak akan menjangkaunya bila tetap berlari seperti ini. Aku melompat sejauh mungkin. Langsung aku menutup daerah kepalaku dengan tanganku.

DUARR.
“Abaaangg..!!!” sebuah teriakan berdengung di telingaku.

Last Chapter
Ya, aku merasakan bahwa aku yang terkena tembakan. Bagian telapak tanganku dan kepalaku. Telapak tanganku tertembus peluru dan terasa pelurunya menancap di kepalaku namun tidak sepenuhnya, hanya satu sentimeter saja menembus pelipis kiriku.

Aku mendarat dari lompatan, sambil telungkup terkapar. Dengan tergopoh-gopoh, Syahnaz menyeret badannya dan langsung menghampiriku.

DUAARR. Alamsyah tertembak dan langsung terkapar di tempat.
“Abang gakpapa, Bang??!! Bang??!!” tanya Syahnaz dengan kepanikan yang luar biasa.
Aku diam sejenak.
“Mereka memang mengulur waktu untuk menangkap semua masyarakat, tapi itu juga jadi senjata makan tuan ketika mereka juga mengulur waktu bagi pasukan yang abang panggil untuk menangkap mereka. Bahkan dua kali.Yaitu pas mereka ngerjain abang soal lokasi mereka dan waktu Fathur meminta abang membuat pilihan.”. Aku tidak meladeni pertanyaannya.
“Ih kan malah dicuekin. Jawab dulu, Bang !! Abang gakpapa kan?!! Ya kan, Bang??!!” teriak Syahnaz. “Iya iya. Abang gakpapa kok. Tapi tolong cabutin peluru ini. Dek? Terus tutup lukanya pake kain. Terus tangan abang juga..”
Syahnaz terkejut melihat luka yang kudapat. Namun, ia menahan tangisannya dan langsung mencabut peluru yang bersarang di kepalaku itu secara perlahan.

Aku sedikit meringis kesakitan, namun tanpa kusadar pelurunya sudah tercabut. Dengan telaten, ia mengoyak kain bajunya dan mengikatnya ke tanganku, sementara luka di kepala ia tutup dengan tangannya. Salah seorang tentara yang menjadi penyelamat kami, datang menghampiriku. “Kerja bagus, Ad. Tapi kau gakpapa?” tanyanya. Aku tak menjawab. Ia kemudian melihat lukaku.

“Aku rasa kau harus dibawa ke rumah sakit. Kami gak membawa tim medis, seperti yang kau lihat,” katanya sambil melihat sekeliling.

Aku melihat ke sekeliling. Hanya beberapa orang yang datang dari Koramil dan semuanya adalah prajurit murni. Kemudian aku melihat sekeliling lagi. Aku melihat tali baja yang diikat ke tubuh masyarakat satu-satu mulai terlepas. Kulihat Alamsyah dan lima orang tentara temannya diangkat ke atas tandu.

Namun, akhirnya aku merasakan kejanggalan.
“Mana Fathur?”
Tentara itu sepertinya mengerti kejanggalanku. Dia berkata, “Ia kabur dengan sepeda motor tanpa bisa tertembak oleh kami. Dia sepertinya memang terlatih..”. Dia melanjutkan, “Aku kesana dulu ya? Mereka tampaknya butuh bantuan,” sambil melihat ke arah warga lokal. “Memangnya keadaanku ini seperti orang yang tak butuh bantuan ya?” kataku dengan nada nada bercanda.
“Kau sudah dapat bantuan, bahkan lebih,” kata tentara itu sambil tersenyum memperhatikan seorang wanita yang mengobatiku, Syahnaz. “Baiklah, aku pergi dulu.” Aku kemudian fokus melihat Syahnaz yang tampak serius mengobati lukaku. Aku tersenyum padanya dan perlahan aku mengelus perutnya dengan tanganku yang satunya lagi.

“Kapan Abang panggil mereka?” tanyanya.
“Tepat setelah Abang ngelihat Adek tidur pulas di rumah.”
“Emangnya wajah Adek tidur ngingatin Abang sama wajah tentara Koramil tidur? Mirip ya emang?”
“Hihi. Bukan, bukan. Abang keinget percakapan kita pas sarapan aja..”
“….Kemungkinan, pembantaian mereka berlangsung cepat dan tak terduga.”
“Ya, mungkin maksudnya ‘tak terduga’ itu adalah ketika pelakunya ialah orang yang gak disangka-sangka. Perkiraan Adek benar. Maacii yaaa,” kataku sambil mencubit hidungnya.
“Ihihi, Abang,” manjanya. Entahlah, aku heran kenapa aku dan dia masih sempat begitu di tengah kondisiku yang seperti ini.
“Dek?”
“Iya, Bang?”
“Menurut Adek, apa keberhasilan yang Abang buat hari ini?”
“Keberhasilan? Emm Abang berhasil nyelamatin masyarakat, nyelamatin Adek dan nyelamatin anak kita. Abang juga udah mengungkap pelaku dari sebuah tragedi dan bisa kembali hidup-hidup.

Abang melakukan apa yang harus Abang buat dan Abang melindungi apa yang harus Abang lindungi.”
“Itu sebuah keberhasilan, Dek?”
“Untuk setiap orang, keberhasilan itu beda beda, Bang..”
Aku terdiam.
“Keberhasilan seseorang akan tercapai ketika orang yang disayanginya berhasil tersenyum manis, bahkan menangis terharu ke orang yang berhasil itu,” kata Syahnaz sambil perlahan-lahan menitikkan air mata.

Aku menyapu air matanya sambil tersenyum.
“Dan mereka mereka yang melakukannya adalah pahlawan,” lanjutnya. “Hemh. Ketika seseorang tersebut berhasil membuat orang yang ia sayang terharu seperti ini, maka ia akan dianggap pahlawan oleh orang yang ia sayang kan?” kataku sambil sedikit cekikian.
“Sok tau, lah.!!” bentak Syahnaz sambil menangis lebih deras dari yang tadi. Dengan sigap, ia memelukku. Aku membalas pelukannya. Kurasakan, ia menangis dan melepaskan semua isi hatinya di detik detik ini.
“Tetep profesional dan buat Adek bangga, ya?”
“Iya, Dek,” kataku sambil tetap memeluknya hangat.
“Oh, iya. Kalo gitu ada satu keberhasilan lagi, dong. Tadi Adek lupa nyebutin,” kataku sambil melepas pelukanku.
“Loh, apa Bang?”
“Anak kita akan bangga punya ayah kayak Abang. Karna dari dalam dia ngerasain aura aura kepahlawanan ayahnya pas kejadian tadi,” kataku dengan bangga.
“Apa? Aura kepahlawanan? Yang mana?” herannya.
“Ya, yang tadi. Yang pas Abang dikepung. Eh eh, itu baru ngerasain loh, bayangkan kalo dia ngeliat sendiri.”
“Ih gak, Bang. Gak banget. Jangan sampe, Bang. Jangan. Jangan sampe anak kita ngeliat Abang pas kejadian tadi.”
“Loh kenapa jangan sampe?”
“Bang, serius nih ya. Muka Abang itu kelihatan jelas muka ketakutan loh. Muka –nya muka panik, matanya entah gimana, bibirnya entah gimana, sambil keringetan, gemetaran, ah pokoknya tadi itu jeeleekkk banget. Jelek banget, Bang. Sumpah. Semoga aja masyarakat yang ngeliat Abang pas Abang panik tadi gak mikir kayak gitu. Coba kalo pikiran kami sama? Lah, malu dong Adek?”
“Kalo gitu Adek harusnya malu sama diri sendiri, karna Adek mau kawin dan gak bisa berbuat apa apa sama orang yang mukanya begitu pas lagi panik,” kataku. Dia menatapku. Ia mencoba mencari maksud dari kata-kataku. Aku pun menatapnya, dalam-dalam.
“Ih, Abang. Kejadian waktu itu jangan diingat-ingat, lah,” kata Syahnaz sambil berpaling, malu-malu mungkin.
“Hahaha. Payah ngelupainnya. Eh waktu itu kan Abang posisinya….”
“Udah, lupain,” Syahnaz memotong kata-kataku.
Aku hanya tertawa lepas melihatnya seperti itu. Dia juga tersenyum padaku, sambil ikut tertawa. Kami terdiam sejenak dan kupandangi langit fajar yang ada di timur sana. Aku pun bertanya-tanya dalam hatiku. Berapa kali lagi seseorang yang dianggap pahlawan itu dapat memandang mentari terbit seraya berbahagia seperti ini? Dan seperti apa keserakahan dunia yang akan menanti hidup seseorang pahlawan itu selanjutnya? Sungguh kunantikan.

~ Akan kembali dalam sekuel yang selanjutnya. Nantikan ~

Redaktur Tulisan : Riska Apsari

Related posts

Kenalan Yuk dengan Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial!

redaksi

Semarak Hari Tani : Kita Pertanian Berbagi Alat Pertanian Kepada Petani Desa Wonosari, Tanjung Morawa

redaksi

Kasus Kematian Munir, 17 Tahun Tanpa Keadilan

redaksi