Home Sosok Zbyněk Hrábek dan Jalan Panjang Menjaga Hutan Sumatera
Sosok

Zbyněk Hrábek dan Jalan Panjang Menjaga Hutan Sumatera

Share

Oleh: Jesika Yusnita Laoly

Suara USU, Medan. “Ia benar-benar tenang. Ia hanya bertanya-tanya mengapa saya ada di sana,” kenang Zbyněk Hrábek.

Suatu malam pada 2019, di zona penyangga hutan hujan Sumatera, ia berdiri berhadapan dengan seekor harimau liar dari jarak sekitar sepuluh meter. Tidak ada teriakan. Tidak ada senjata. Tidak ada heroisme. Yang ada hanya dua makhluk hidup yang saling menilai keberadaan satu sama lain di kegelapan.

Sepanjang malam, Zbyněk tidak tidur. Ia mengamati setiap gerak sang harimau melalui kamera termal, menyadari bahwa dirinya sedang berada di titik paling rapuh sekaligus paling jujur sebagai manusia, berhadapan langsung dengan alam dalam bentuknya yang paling otentik.

Dari perjumpaan itulah kita dapat membaca seluruh perjalanan Zbyněk Hrábek: seorang pria asal Republik Ceko yang meninggalkan Eropa, menjual mobilnya, mengemas hidupnya ke dalam sebuah ransel besar, lalu terbang ke Indonesia pada 14 Februari 2016 demi sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami saat itu—melindungi hutan hujan dan harimau Sumatera.

Zbyněk Hrábek lahir pada 8 Oktober 1985 di Rumburk, sebuah kota kecil yang dikelilingi bentang alam hijau di Republik Ceko. Dalam satu dekade terakhir, ia mengabdikan hidupnya berdampingan dengan hutan hujan Sumatera. Kini, ia dikenal sebagai pendiri Yayasan Hutan Anak dan Rain For Rest Forever, sekaligus pemantau harimau Sumatera, penjaga kawasan, dan saksi sunyi perubahan lanskap ekologis di pulau ini.

Kedekatannya dengan alam tumbuh perlahan sejak masa kanak-kanak. “Kami bermain di alam sejak kecil, dan sejak saat itu saya membangun hubungan dengan alam,” ujarnya. Namun baru pada usia 27 tahun, ia mulai mencari jalan hidup yang benar-benar membawanya kembali ke alam. Pencarian itu justru membawanya jauh dari Eropa, menuju Indonesia.

Perkenalan pertamanya dengan Sumatera bukan dari buku akademik atau laporan resmi, melainkan dari sebuah video YouTube yang merekam aktivitas para sukarelawan di hutan hujan. Tahun 2015, ia datang selama 14 hari. Dua minggu yang mengubah segalanya.

“Saat itu, segala sesuatu di hutan hujan mempesona saya. Saya merasa sangat bahagia dan perasaan ini adalah insentif utama bagi keputusan saya untuk tinggal di sini,” tuturnya. Di tengah keraguan dan ketakutan, ia memilih mempercayai apa yang ia sebut sebagai perasaan yang selaras dengan hati. Ia kembali ke Ceko hanya untuk bersiap pergi lagi.

Titik balik itu datang secara simbolik sekaligus personal. Sebuah rekaman kamera jebakan di cagar alam memperlihatkan seekor harimau betina yang tengah menuntun anak-anaknya. Rekaman itu diterimanya tepat pada hari ulang tahunnya. “Saat itulah ide dan proyek perlindungan mereka lahir,” jelasnya.

Keputusan besar pun diambil. Ia berhenti dari usaha kecil yang dijalankannya, mengakhiri masa tinggal di Jerman, menjual mobil, membagikan barang-barangnya, lalu terbang kembali ke Indonesia tanpa kepastian. “Saya sama sekali tidak tahu apa yang akan saya hadapi,” ucapnya kepada Suara USU.

Kesan pertamanya tentang Sumatera, khususnya Medan, jauh dari romantis. “Ya Tuhan, bagaimana mungkin ada orang yang bisa bertahan hidup di Medan?” katanya sambil tertawa. Namun tantangan terbesar bukanlah panas atau hiruk-pikuk kota, melainkan kesabaran.

Perbedaan budaya dan sistem kerja menuntut fleksibilitas. Bahasa baru harus dipelajari. Patroli hutan, pemantauan kamera jebakan, dan adaptasi terhadap medan berat menjadi rutinitas harian. Anehnya, di tengah semua itu, satu hal tak pernah terlintas dalam pikirannya: pulang.

“Saya tidak pernah berpikir untuk menyerah atau kembali ke Eropa. Saya datang ke sini dengan tekad untuk tinggal dan membantu sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Dalam membangun kepercayaan masyarakat lokal, Zbyněk tidak mengandalkan proyek besar atau jargon konservasi yang manis di bibir. Ia memilih kehadiran sehari-hari. “Yang terpenting untuk membangun kepercayaan adalah minum kopi bersama di warung,” katanya.

Transparansi, konsistensi, dan kesediaan hidup berdampingan membuat warga melihat bahwa ia tidak sekadar datang dan pergi. Kepercayaan itu membuka akses, informasi, dan ruang gerak dalam menjalankan misi konservasi, sekaligus memperdalam pemahamannya tentang dinamika sosial masyarakat sekitar hutan.

Namun hutan menyimpan risikonya sendiri. Di lapangan, ancaman terbesar tidak selalu datang dari pemburu atau satwa liar. “Ancaman paling umum di hutan hujan tropis adalah hutan hujan itu sendiri,” jelasnya.

Medan terjal, banjir sungai, pohon tumbang, badai, hingga perubahan cuaca ekstrem menjadi risiko harian. Ia berkali-kali berada di situasi yang mengancam nyawa: tersambar petir hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri, tergantung pada tali setinggi 50 meter, hingga berhadapan dengan pemburu bersenjata. Ironisnya, cedera terparah justru datang bukan dari hutan, melainkan dari desa. “Saya patah kaki saat berjalan normal di sebuah desa tidak jauh dari rumah saya,” ucapnya.

Soal pemburuan liar, emosinya selalu bercampur. “Saya senang karena harimau dan hewan-hewan lain lebih aman, tetapi saya juga sedih karena manusia masih mengancam keanekaragaman hayati,” ujarnya. Ia tidak menutup mata terhadap praktik tradisional untuk bertahan hidup, namun mengecam keras penggunaan jerat dan perangkap. “Itu mengerikan. Hewan-hewan menderita dalam waktu lama sebelum mati atau kehilangan anggota tubuh mereka,” katanya dengan nada getir.

Bagi seorang Zbyněk Hrábek, Harimau Sumatera bukan sekadar satwa dilindungi. Ia adalah alasan utama keberadaannya di sini. “Harimau Sumatera adalah spesies unik di dunia yang masih sangat sedikit kita ketahui,” jelasnya. Ia menyebut harimau ini masih “murni”, belum sepenuhnya tersentuh peradaban manusia, meski harus beradaptasi dengan perubahan yang kita ciptakan.

Ujian terberat justru datang bukan dari hutan, melainkan dari manusia. Tiga tahun lalu, konflik internal organisasi membuat proyek di Sumatera kehilangan pendanaan. Ia dicap sebagai pengkhianat dan pencuri. Ia kehilangan pasangan. Ia ditinggalkan sendirian.

“Itu adalah periode yang sulit,” akunya. Setelah itu, ujian fisik datang menyusul. Patah kaki. Kesendirian. Tekanan mental. “Bisa dikatakan bahwa Tuhan benar-benar menguji saya dengan keras,” tuturnya. Namun satu hal tidak pernah goyah: keyakinannya pada jalan yang ia pilih.

Di tengah semua semua kemelut itu, secerca harapan datang dari seorang teman yang mengubah lahannya menjadi pertanian polikultur. Dari masyarakat di Aceh yang kini melindungi dan mereboisasi 1.500 hektar tanah mereka sendiri. “Semuanya bergantung pada orang dan sikap mereka,” ujarnya. Dampak bisa negatif, bisa positif—dan pilihan selalu ada di tangan manusia.

Pandangan Zbyněk tentang akar kerusakan lingkungan pun tegas. Ia menyebut kapitalisme sebagai sistem paling destruktif yang pernah dialami peradaban manusia. “Perusakan lingkungan hanyalah cerminan dari karakter kita,” katanya.Kehilangan “jalan hati”, kehilangan Tuhan, serta penyerahan tanggung jawab kepada kekuasaan menjadi sumber krisis ekologis yang kita hadapi hari ini, jelasnya dalam sesi wawancara.

Jika ia bertemu dirinya sepuluh tahun lalu, ia hanya akan mengatakan satu hal: “Lakukan apa yang harus kamu lakukan, dan rasa takut hanya ada di pikiranmu. Jangan pernah biarkan rasa takut itu menang.” Ia tidak melihat hidupnya sebagai rangkaian pengorbanan. “Saya bahagia dengan diri saya sendiri dan keputusan saya,” ucapnya. Baginya, arti hidup sederhana sekaligus berat: menciptakan, memulihkan, dan melindungi kondisi kehidupan bagi kehidupan lain yang akan datang setelahnya.

Di akhir wawancara, Zbyněk mengajak kita menengadah ke langit malam. “Di miliaran planet itu, tidak ada pohon, burung, harimau, bunga. Tidak ada,” ujarnya pelan. Pohon, katanya, jauh lebih langka daripada emas atau berlian. Kekayaan sejati bukanlah batu berkilau, melainkan kondisi kehidupan yang memungkinkan kita bernapas, minum, dan hidup.

“Kita bisa bertahan tanpa mobil baru dan pusat perbelanjaan,” tegasnya. “Namun kita tidak bisa hidup tanpa tanah yang sehat dan air minum.”

Di hadapan harimau, Zbyněk belajar tentang keheningan. Di tengah konflik manusia, ia belajar tentang rapuhnya niat baik. Dan di antara keduanya, ia memilih tetap tinggal—bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai manusia yang menolak menyerah pada rasa takut, dan memilih menjaga apa yang masih bisa dijaga, selagi waktu belum sepenuhnya habis.

Redaktur: Axfeba Saragih

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.