Oleh: Mega Nova Eliza Manullang

Suara USU, Medan. Bagi mahasiswa Ilmu Politik, memahami kebijakan publik tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas. Pengalaman magang di BPJS Ketenagakerjaan Cabang Medan Kota menjadi ruang pembelajaran nyata untuk melihat bagaimana kebijakan negara hadir langsung dalam kehidupan para pekerja. Melalui program magang ini, mahasiswa berkesempatan terlibat dalam upaya memastikan jaminan sosial benar-benar dirasakan sebagai hak oleh seluruh lapisan masyarakat.
Selama masa magang, salah satu fokus utama kegiatan adalah akuisisi peserta kategori Bukan Penerima Upah (BPU) serta sosialisasi jaminan sosial kepada pekerja sektor informal. Pedagang pasar, pengemudi ojek daring, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi kelompok sasaran utama. Kegiatan ini memberikan perspektif baru mengenai masih minimnya kesadaran pekerja informal terhadap pentingnya perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Selain itu, mahasiswa magang juga terlibat dalam kunjungan ke sejumlah perusahaan terkait pengelolaan piutang kepesertaan. Aktivitas tersebut menuntut keterampilan komunikasi dan negosiasi yang baik, mengingat keberlanjutan pembayaran iuran sangat berkaitan dengan terjaminnya hak-hak pekerja. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa implementasi kebijakan publik kerap dihadapkan pada dinamika lapangan yang kompleks.
Di lingkungan internal kantor, mahasiswa ditempatkan pada bagian layanan digital, khususnya dalam edukasi penggunaan aplikasi Jamsostek Mobile (JMO). Peran ini tidak hanya sebatas mengarahkan peserta untuk mengunduh aplikasi, tetapi juga menjembatani pemahaman masyarakat terhadap transformasi layanan digital BPJS Ketenagakerjaan. Edukasi dilakukan secara intensif mengenai berbagai fitur JMO, seperti pengecekan saldo, pembaruan data mandiri, hingga pengajuan klaim Jaminan Hari Tua (JHT) secara daring.

Digitalisasi layanan melalui JMO dinilai menjadi langkah strategis dalam meningkatkan efisiensi birokrasi dan aksesibilitas layanan publik. Dengan aplikasi ini, peserta dapat memantau perlindungan ketenagakerjaan mereka kapan saja dan di mana saja tanpa harus mengantre panjang di kantor cabang. Transformasi ini menunjukkan bagaimana kebijakan sosial beradaptasi dengan perkembangan teknologi demi kenyamanan masyarakat.Lebih dari sekadar pengalaman administratif, masa magang ini memberikan pelajaran penting mengenai empati dalam birokrasi. Lingkungan kerja yang suportif di BPJS Ketenagakerjaan membuka ruang diskusi dua arah antara praktisi dan mahasiswa. Melihat secara langsung dampak kebijakan jaminan sosial terhadap rasa aman seorang pekerja menjadi pengalaman berharga yang tidak ditemukan dalam buku teks.
Pengalaman magang ini juga menegaskan bahwa pelayanan publik bukan semata tentang prosedur, melainkan tentang membangun kepercayaan. Meyakinkan pekerja akan pentingnya perlindungan terhadap risiko kerja menjadi bagian dari tanggung jawab negara yang dijalankan melalui institusi seperti BPJS Ketenagakerjaan.
Melalui pengalaman ini, diharapkan BPJS Ketenagakerjaan dapat terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat agar jaminan sosial dipahami sebagai kebutuhan dasar yang inklusif.
Bagi mahasiswa Ilmu Politik, magang menjadi pengingat bahwa realitas kebijakan publik sesungguhnya hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan menuntut keterlibatan langsung untuk memahaminya secara utuh.
Artikel ini merupakan publikasi sebagai syarat konversi SKS Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Program Studi Ilmu Politik USU.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment