SUARA USU
Buku

Afirmasi, Kisah Mencari Esensi Pernikahan

Oleh : Tania A. Putri

Suara USU, Medan, “Kalau menurutmu, esensi pernikahan itu buat apa? Mengapa pernikahan dianggap sebagai ibadah yang bisa menyempurnakan setengah agama? Kenapa harus pernikahan, dan bukan bentuk ritual ibadah lainnya?”

Saat seseorang menginjak usia ‘kepala tiga’ dengan status belum menikah, masyarakat akan bertanya-tanya mengapa seseorang enggan melepas masa lajangnya. Bahkan, tak jarang yang langsung menghakimi dan melabeli orang-orang tersebut dengan opini tak berdasar tanpa mengetahui latar belakang seperti sosok ini pernah berjalan.

Hal ini dialami oleh Bara Langit Hadiwinanta, seorang dokter yang sudah menginjak usia tiga puluh tahun, namun masih belum melepaskan masa lajangnya. Baginya, bukan hanya tentang usia yang sudah matang dan finansial yang sudah mapan, namun ia membutuhkan keputusan untuk mengetahui apa esensi pernikahan itu sendiri. Mengapa Tuhan memerintahkan hamba-Nya untuk menikah dan apa yang membedakan pernikahan dengan tanggung jawab besar seumur hidup lainnya.

Menjadi laki-laki berkulit hitam dan bertubuh gendut berteman baik dengan olokan dan penolakan. Bukan tanpa alasan, di masyarakat banyak perempuan berharap memiliki pendamping dengan wajah rupawan, ekonomi mapan, punya jabatan, dan kehidupan sempurna berdasarkan definisi yang mereka tetapkan tanpa melihat kualitas apa yang mereka punya. Hal ini membuat manusia yang dianggap jauh dari kata sempurna seperti Bara tersisihkan keberadaan.

Rasa tidak percaya diri tidak percaya bahwa masih ada perempuan yang bisa menerimanya kualitas dirinya. Selain itu, pola pikirnya yang kritis dan terlalu mengandalkan logika membuat banyak orang yang ‘sekedar’ mengenalnya berpikir bahwa ia adalah orang yang ribet, tanpa tahu bahwa itu adalah mekanisme pertahanan diri agar dia tidak kembali dikecewakan.

Perjalanannya dalam mencari esensi pernikahan dan mengatasi rasa rendah diri mendapat dukungan dari keluarga sahabat-sahabatnya yang tergabung dalam geng ‘Jomblo Raos’. Sampai akhirnya pencariannya berakhir kala sosok perempuan dengan pola pikir yang mampu menyeimbanginya mengatakan satu jawaban yang selama ini ia cari.

Pernikahan adalah solusi tingkat sistem.

Selain dari perintah Tuhan, selain tanggung jawab dan penyempurna, pernikahan adalah solusi untuk keteraturan.

Cerita ini merupakan seri Disiden kedua karya Crowdstroia yang ditulis di aplikasi membaca online Wattpad dan sudah dibaca 1,73 juta kali.

Meskipun hanya terdiri dari 16 bagian, cerita ini sangat menjelaskan dan membahas dengan jelas topik yang diangkat. Dengan pembahasan yang cukup, ini juga menyelipkan romansa, persahabatan, dan kritis cerita yang tidak membosankan.

Tulisan ini dapat membuka pandangan pembaca untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang fana, melainkan berusaha memperbaiki diri dan mencari tahu apa yang perlu dilakukan.

Redaktur : Yessica Irene


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Sketsa Mendung, Adaptasi Visual Novel Raditya Dika

redaksi

Ubah Insecurity Menjadi Nilai Positif dalam Diri

redaksi

“Filosofi Teras” Solusi Untuk Kamu yang Sering Overthinking

redaksi