SUARA USU
Sosok

Ahli Editing Video, Ini Perjuangan Rizky Mitra Hamdani

Oleh : Valeshia Trevana

Suara USU, Medan. Rizky Mitra Hamdani, seorang content creator yang ahli dalam bidang editing video merupakan lulusan Ilmu Komunikasi FISIP USU tahun 2013 dan menamatkan studinya di tahun 2017. Ia juga founder dari @kimitproduction dan editor @telkomsesumatera.

Rizky akhirnya memilih terjun ke bidang editing video, karena dia memang menyukai bidang ini sejak ia duduk di bangku SMA.  Pria ini tergabung di organisasi teater di SMA Negri 2 Pematang Siantar dan tergabung di bagian editing video dan design. Menurutnya, kemampuan design tidak cukup di dapatkan saat kuliah saja, tetapi di luar kuliah juga seperti mengikuti lomba. Design dan editing video tidak bisa diandalkan dengan bakat, tapi juga faktor dorongan sekitar seseorang suka melakukannya.

Tantangan digital dan ilmu audiovisual, inilah alasan pria lulusan USU ini untuk bertahan di bidang editing video. Rizky mengatakan tokoh yang memotivasinya untuk berjuang adalah Chandra Liaw (audiovisual), Anjas Maradita, Yudha Rizky (alphawok.id), dan di luar bidang editing ada Pandji Prajiwaksono, dan Ippho Sentosa (pakar otak kanan).

“Ketika mulai dari kuliah gampang gampang susah, karena waktu kuliah karya siap-siap dihargai, yang pertama. Yang kedua, kita harus siap dengar respon ‘oh gitu aja’ atau ‘b aja pun’. Yang ketiga, seberapa pun usaha kita untuk membuat video editing dan design hanya dengan satu kali melihat berlalu begitu saja tetapi mereka tidak tau bagaimana proses dan perjuangannya, edit, intervalnya, foto-fotonya, belum lagi ketika tidak ada fotonya, harus nunggu lagi,” tutur Rizky.

Semasa kuliah, Rizky mengikuti organisasi apa saja yang bisa ia ikuti, ia selalu ingin berkontribusi. Akhirnya, Rizky memutuskan untuk menekuni bidang editing video, video apapun, event apa pun. Setelah event selesai, ia meminta video tersebut untuk di edit, pertama dari tidak dibayar sampai dibayar.

Setelah itu, Rizky memutuskan kerja dengan branding diri. Iapun mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan telekomunikasi, PT. Telkomsel. Rizky juga menegaskan bahwa pekerjaannya di perusahaan ini tidak jauh dengan editing video. Mulai dari sini lah ia merasakan pahit manis, bergadang, hingga mata seperti panda.

Rizky menceritakan bahwa masa paling sulit itu ketika mau membuat hobi ini menjadi sesuatu yang bisa dibayar dan menjadi sebuah usaha yang membuat kita senang menjalaninya. Maka setelah kerja di PT. Telekomunikasi, ia pelan-pelan membangun usaha juga di bagian foto, video, dan jasa. Dari situ ia punya tim yang sudah support full.

Dulu nama instagramnya bukan @ngeditbarengmitra, tetapi namanya sendiri, yakni Rizky Mitra Hamdani.

“Susahnya ngebranding, ngasih tahu orang bahwasannya ‘hei aku seorang editor nih, ayok dong kalau mau buat acara samaku’,” ujarnya.

Banyak presetasi yang pernah diraihnya, salah satunya adalah juara dua lomba video nasional di Padang (video dokumenter). Ia juga pernah mendapat reward ke Singapura bersama dengan tim video di tahun 2018 selama satu minggu. Video-videonya juga pernah ditampilkan di baliho se Sumatera Utara, Pekan Baru, Padang.

Rizky mengakui bahwa tantangan terbesar itu manjemen diri dan waktu. Industri kreatif selalu bertentangan dengan ketidakdisiplinan. Solusinya adalah selama ngedit carilah hal baru, belajar baru, dan bertemu orang baru. Itu yang bisa membuat fresh lagi dalam membuat hal baru.

“Zaman cepat berubah, berubah dan beradaptasi lah selagi ini masanya buat orang-orang yang pas di dunia editor. Bilapun itu pemula, yuk cari apa yang bisa buat dirimu di rumah aja, tetapi tetap produktif dan ujung-ujung dapat bonus, datang cuan.” pesan Rizky.

“Ini karena impian abang jadi editor, senang bukan hanya sekedar senang, toh sekarang jadi kreasi, jadi karir, bisa juga jadi sampingan selama pandemi. Hidupkan mimpi kalian, apa pun itu, selama itu melihat peluang di masa depan besar, ambil lah,” lanjutnya.

Redaktur: Yulia Putri Hadi

Related posts

Mengenang Haji Anif, Tokoh Masyarakat Sumut yang Berjiwa Sosial Tinggi

redaksi

Che Guevara, Sang Komandante, Dokter dan Simbol Perlawanan Para Aktivis Kampus

redaksi

Shella Tan, Menjadi Desainer Muda dengan Otodidak

redaksi