
Reporter: Syafira Sari
Suara USU, Medan. Aksi Kamisan Medan kembali menggelar aksi protes di kawasan Pos Bloc Medan, tepatnya di Jl. Pos No.1, Kesawan, Kec. Medan Baru, Kota Medan pada Jum’at (29/08). “Hidup korban!”, “Jangan diam!”, menjadi dua kalimat yang bergantian diserukan oleh massa aksi yang mulai berkumpul sejak pukul 14.32 WIB, sekaligus dimulainya orasi di ruas jalan tepat di depan Pos Bloc Medan.
Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap insiden tragis yang menewaskan seorang warga sekaligus pengemudi ojek online (ojol), akibat dilindas mobil brimob. Massa aksi menuntut aparat penegak hukum bertanggung jawab, serta mendesak adanya keadilan bagi korban dan keluarganya.
Dalam aksinya, massa menyuarakan dua tuntutan utama, yakni reformasi kepolisian dan desakan pembubaran DPR. Dalam orasi yang disampaikan di tengah Jalan Kesawan, massa aksi tidak hanya menuntut pertanggungjawaban atas kasus pengemudi ojol yang tewas dilindas, tetapi juga mengungkit praktik represif aparat dalam aksi-aksi yang terjadi sebelumnya. Mereka turut menyoroti demonstrasi di depan DPRD Sumatera Utara (Sumut) beberapa hari lalu yang berujung pada penahanan 44 orang massa aksi.
Dalam aksi tersebut juga ditegaskan, bahwa tindakan aparat tidak berhenti pada penangkapan semata, melainkan juga melibatkan kekerasan. Bagi mereka, tindakan itu mencerminkan wajah penegakan hukum yang justru melukai rakyat.
Pada pukul 14.49 WIB, massa aksi melanjutkan rangkaian demonstrasi dengan melakukan long march mengelilingi Lapangan Merdeka. Barisan kemudian membentuk lingkaran menggunakan tali sebagai simbol keterikatan dan solidaritas sambil menyanyikan lagu Buruh Tani. Di sela-sela nyanyian, seruan kembali ditujukan langsung kepada aparat yang dianggap bertanggung jawab atas tewasnya pengemudi ojol di Jakarta malam tadi.
Nikita, salah satu massa aksi yang bergabung dalam barisan menegaskan, bahwa tuntutan aksi kali ini belum sepenuhnya rampung karena persiapan yang mendadak. Namun, ia menekankan bahwa massa tetap bersikeras mengutuk tindakan polisi yang melindas seorang pengemudi ojek online hingga tewas. “Kami mengecam keras sikap aparat. Memang mereka sudah meminta maaf, tetapi tanpa sedikit pun empati. Bahkan ada ucapan dari polisi yang seolah meremehkan tragedi ini dengan mengatakan ‘sudah terjadi, maka biarlah’. Kami tidak bisa menerima hal itu,” ujar Nikita.
Meski tuntutan belum sepenuhnya dirumuskan, aksi tetap dilangsungkan sebagai bentuk protes pada tindakan represif aparat yang berimbas pada kematian seorang pengemudi ojol beberapa waktu lalu.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment