
Oleh: Riris Marito Sihombing, Yosefine Panjaitan, Natasya Br. Sianturi, Angel Crisnami Br. Barus
Suara USU, Medan. Banjir yang kerap melanda kawasan perkotaan tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai bencana alam. Di Kota Medan, luapan sungai yang dipenuhi sampah justru memperlihatkan persoalan lingkungan yang bersifat struktural dan berulang. Sungai yang seharusnya berfungsi sebagai jalur alami aliran air berubah menjadi tempat pembuangan sampah rumah tangga, sehingga menghambat aliran air dan meningkatkan risiko banjir, terutama saat musim hujan.
Setiap kali hujan deras turun, air sungai meluap membawa serta sampah dan limbah ke kawasan permukiman. Lingkungan tempat tinggal warga berubah menjadi ruang yang kotor, lembap, dan tidak sehat. Genangan air bercampur sampah tidak hanya merusak infrastruktur rumah tangga, tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat. Kondisi ini paling dirasakan oleh warga yang tinggal di bantaran sungai dan kawasan padat penduduk, yang umumnya memiliki keterbatasan pilihan tempat tinggal.
Dampak banjir tidak berhenti pada genangan air. Akses terhadap air bersih menjadi terbatas karena sumur warga tercemar air banjir. Sistem sanitasi terganggu, toilet tidak dapat digunakan secara optimal, dan limbah rumah tangga bercampur dengan air yang menggenang. Dalam situasi seperti ini, kualitas lingkungan menurun secara signifikan dan menciptakan kondisi yang ideal bagi munculnya berbagai penyakit berbasis lingkungan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa banjir di wilayah perkotaan memiliki keterkaitan erat dengan perilaku manusia. Muliaty (2021) menjelaskan bahwa banjir di kota-kota besar di Indonesia tidak hanya dipicu oleh curah hujan tinggi, tetapi juga oleh kebiasaan membuang sampah ke sungai. Sampah yang menumpuk mempersempit alur sungai dan menghambat aliran air, sehingga luapan sungai menjadi sulit dihindari. Penelitian Aliyu Hassan (2025) memperkuat temuan tersebut dengan menunjukkan bahwa pembuangan sampah sembarangan di kawasan perkotaan menyebabkan tersumbatnya sistem drainase. Kondisi ini tidak hanya memperparah banjir, tetapi juga menciptakan lingkungan dengan sanitasi yang buruk, yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit menular. Dari sisi kesehatan masyarakat, banjir membawa dampak yang tidak dapat diabaikan. Utariningsih dan Adiputra (2019) menemukan bahwa kejadian banjir berkaitan dengan meningkatnya kasus diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, hingga leptospirosis. Penyakit-penyakit tersebut muncul akibat paparan air banjir yang tercemar serta buruknya kondisi sanitasi pasca-banjir. Kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, lansia, dan masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terdampak.
Masalah banjir dan sampah sungai di Kota Medan menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat saling berkaitan dalam satu sistem yang kompleks. Social Ecological Model dapat digunakan untuk memahami mengapa masalah ini terus berulang. Pada tingkat individu, membuang sampah ke sungai sering kali dianggap sebagai tindakan praktis dan telah menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. Kesadaran akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan lingkungan masih relatif rendah. Pada tingkat komunitas, perilaku tersebut sering kali dinormalisasi. Kurangnya kontrol sosial dan rendahnya kesadaran kolektif membuat praktik pembuangan sampah ke sungai terus berlangsung tanpa sanksi sosial yang berarti. Sungai dipandang sebagai “ruang bersama” yang tanggung jawabnya tidak dimiliki secara jelas oleh siapa pun. Sementara itu, pada tingkat institusi dan kebijakan, keterbatasan sistem pengelolaan sampah menjadi persoalan utama. Fasilitas pembuangan sampah yang tidak merata, jadwal pengangkutan yang tidak konsisten, serta lemahnya pengawasan terhadap pelanggaran lingkungan memperburuk kondisi sungai. Faktor lingkungan fisik, seperti penyempitan alur sungai dan kerusakan bantaran akibat pembangunan yang tidak terkendali, semakin meningkatkan risiko banjir di kawasan perkotaan.
Banjir dan pencemaran sungai juga mencerminkan persoalan keadilan lingkungan. Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir sering kali bukan penyumbang utama pencemaran, namun justru menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kesehatan dan kerugian sosial-ekonomi. Risiko kesehatan akibat banjir tidak terdistribusi secara adil, sehingga kelompok rentan menanggung beban yang lebih besar akibat kegagalan sistem pengelolaan lingkungan. Dari perspektif perilaku kesehatan, rendahnya persepsi terhadap risiko jangka panjang menjadi tantangan tersendiri. Ketika dampak kesehatan tidak dirasakan secara langsung, ancaman penyakit akibat lingkungan yang tercemar sering kali dianggap tidak serius. Hal ini menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan yang mampu mengaitkan secara jelas hubungan antara sampah, banjir, dan penyakit, sehingga perubahan perilaku dapat terjadi secara berkelanjutan. Dalam konteks global, persoalan banjir dan sampah sungai berkaitan erat dengan isu perubahan iklim, kesehatan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan. Pekerja sosial, termasuk dalam perspektif internasional, memiliki peran strategis dalam mengadvokasi kebijakan lingkungan yang adil, meningkatkan kesadaran publik, serta mendorong kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai sektor terkait.
Upaya mengatasi banjir dan sampah sungai tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat. Diperlukan perbaikan sistem pengelolaan sampah, penguatan kebijakan perlindungan sungai, serta edukasi publik yang berkelanjutan. Perubahan perilaku akan lebih efektif jika didukung oleh fasilitas yang memadai, regulasi yang tegas, dan partisipasi aktif dari komunitas.
Pada akhirnya, banjir dan sampah di sungai bukan sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan isu kesehatan masyarakat dan keadilan sosial. Melalui pendekatan yang holistik dan kesadaran kolektif, Kota Medan diharapkan dapat bergerak menuju lingkungan perkotaan yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan bagi generasi saat ini dan yang akan datang.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pekerja Sosial Internasional dengan dosen pengampu Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos
Leave a comment