Oleh: Aura Mawaddah, Ica Muliadi Valentine Hulu, dan Irma Lestari
Suara USU, Medan. Kami dari Kelompok 14 Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) Pekerja Sosial Internasional yang terdiri atas Aura Mawaddah (221101040), Ica Muliadi Valentine Hulu (221101062), dan Irma Lestari (221101144), mahasiswa semester VII Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara, di bawah bimbingan dosen pengampu Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos., telah melaksanakan kegiatan wawancara pada tanggal 4 Desember 2025 di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dengan narasumber Ibu Dr. Evi Karota Bukit, S.Kp., MNS. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali pandangan ahli mengenai pentingnya perawatan pra-konsepsi pada remaja putri sebagai upaya pencegahan masalah kesehatan ibu dan anak di masa mendatang, sekaligus sebagai dasar penyusunan media massa edukatif yang mengangkat isu kesehatan global.
Kesehatan remaja putri merupakan isu strategis dalam konteks kesehatan global, mengingat kondisi kesehatan perempuan pada masa remaja sangat menentukan kualitas kehamilan dan kesehatan generasi berikutnya. Perawatan pra-konsepsi menjadi pendekatan penting yang menekankan bahwa kesehatan ibu dan anak tidak dimulai saat kehamilan terjadi, melainkan sejak jauh sebelum itu, yaitu pada masa remaja. Remaja putri memiliki posisi yang sangat krusial karena status gizi, kondisi fisik, serta pemahaman mengenai kesehatan reproduksi yang dimiliki akan berdampak langsung pada kesiapan mereka menghadapi kehamilan di masa depan. Namun, berbagai permasalahan seperti anemia, kekurangan zat gizi, dan rendahnya literasi kesehatan reproduksi masih banyak ditemukan, terutama di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Perawatan pra-konsepsi secara konseptual bertujuan memastikan perempuan berada dalam kondisi kesehatan yang optimal, baik secara fisik, mental, maupun sosial sebelum memasuki masa kehamilan. Salah satu fokus utama dari upaya ini adalah pencegahan stunting, yang hingga kini masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan. Stunting tidak terjadi secara tiba-tiba saat anak dilahirkan, melainkan dipengaruhi oleh kondisi kesehatan ibu sejak sebelum kehamilan. Oleh karena itu, intervensi sejak remaja, seperti edukasi kesehatan reproduksi, pemantauan status gizi, serta pemberian dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah, menjadi langkah preventif yang sangat penting dalam jangka panjang.
Berdasarkan hasil wawancara, perawatan pra-konsepsi sebenarnya telah menjadi bagian dari kebijakan kesehatan nasional yang menyasar remaja putri, calon pengantin, dan perempuan usia subur melalui layanan kesehatan primer, khususnya puskesmas. Meskipun demikian, implementasi program di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Rendahnya kesadaran remaja mengenai pentingnya perawatan pra-konsepsi menjadi salah satu tantangan utama, karena topik ini sering dianggap belum relevan bagi remaja yang belum menikah. Selain itu, faktor budaya, anggapan tabu terkait kesehatan reproduksi, serta kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga turut memengaruhi rendahnya efektivitas pelaksanaan program. Di sisi lain, meskipun fasilitas seperti Posyandu Remaja dan Usaha Kesehatan Sekolah telah tersedia, tingkat partisipasi remaja serta kepatuhan dalam mengonsumsi tablet zat besi masih tergolong rendah.
Tenaga keperawatan memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan perawatan pra-konsepsi, tidak hanya sebagai pemberi layanan kesehatan, tetapi juga sebagai pendidik dan konselor di tengah masyarakat. Melalui pendekatan keperawatan komunitas, edukasi dapat dilakukan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah, posyandu remaja, maupun layanan kesehatan reproduksi lainnya. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang kreatif dan berbasis teknologi cenderung lebih mudah diterima oleh remaja. Pemanfaatan media digital, seperti grup pesan instan dan konten visual yang sederhana, dinilai lebih efektif karena selaras dengan karakteristik dan kebiasaan generasi muda.
Berdasarkan kajian teori dan temuan lapangan, dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama dalam pelaksanaan perawatan pra-konsepsi bukan terletak pada ketiadaan program, melainkan pada kurang optimalnya strategi komunikasi dan pendekatan kepada remaja. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan edukasi kesehatan reproduksi di lingkungan sekolah dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak menimbulkan stigma, pemanfaatan media massa dan media digital sebagai sarana penyebaran informasi kesehatan yang ramah remaja, serta pelibatan keluarga dan masyarakat agar remaja memperoleh dukungan sosial dalam menjaga kesehatannya. Selain itu, mahasiswa dan tenaga kesehatan dapat berperan sebagai agen perubahan melalui kegiatan kampanye edukatif dan pengabdian kepada masyarakat.
Perawatan pra-konsepsi pada remaja putri merupakan langkah strategis dalam membangun generasi yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan. Upaya ini tidak hanya berkontribusi dalam menurunkan angka stunting, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak secara berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, mahasiswa, serta media massa menjadi kunci utama agar pesan kesehatan pra-konsepsi dapat menjangkau remaja secara luas dan efektif.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pekerja Sosial Internasional dengan dosen pengampu Fajar Utama Ritonga S. Sos., M. Kesos
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment