Oleh: Enly Mariana Hasugian
Suara USU, Medan. Belajar menggagas Citra Kota menjadi pengalaman menarik dalam mengikuti Program MBKM (MSIB) yaitu Studi Independent Batch 7 di Citiasia. Pada program ini tidak hanya menambah wawasan mengenai smart city, teknologi inovasi, dunia branding (bukan hanya kota tetapi juga dalam berbagai aspek), tetapi juga mendapatkan pembekalan project management and soft skill. Selain itu mahasiswa juga berkesempatan untuk berkolaborasi dalam proyek nyata yang berdampak pada masa depan kota melalui pembuatan Brandbook Smart City.
Smart City mungkin terdengar seperti sesuatu yang futuristik yang dimana kota dikelola menggunakan teknologi canggih, sistem informasi berbasis data, dan infrastruktur yang terintegrasi. Namun konsep smart city lebih dari sekedar hal tersebut, tetapi juga menciptakan tampilan kota yang menarik, kota yang adil dan berkelanjutan, serta memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi setiap warganya. Sehingga kota tersebut mampu mengatasi tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan dengan cara yang inovatif dan berkelanjutan.
Konsep smart city memiliki enam elemen atau dimensi diantaranya yaitu Smart Branding, Smart Goverance, Smart Economy, Smart Enviroment, Smart Society, dan Smart Living. Dalam kegiatan program ini kami belajar banyak mengenai ke enam elemen tersebut. Tapi pada artikel ini akan lebih fokus kepada elemen City Branding. City branding adalah proses menciptakan identitas yang kuat untuk sebuah kota, dengan tujuan agar menarik perhatian dari berbagai pihak (penduduk, wisatawan, investor dll). Proses ini tidak hanya sekedar logo dan slogan tapi juga pengalaman wisatawannya dan menggabungkan berbagai elemen lainnya seperti sejarah, budaya, wisata hingga potensi ekonomi yang melibatkan komunitas masyarakat.
Proses digital yang semakin luas dan terbuka mengharuskan setiap daerah perlu melakukan smart branding bagi daerahnya karena perubahan pola perilaku masyarakat diera digital dan agar dapat mampu berkompetensi untuk menarik investor dan pariwisata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Strategi branding yang baik dapat dilakukan dengan menganalisis, mengetahui dan mengembangkan potensi ciri khas dari daerah tersebut serta konsisten dalam melakukan branding. Bagi daerah yang tidak mempunyai potensi pada daerahnya juga dapat membranding daerahnya yaitu dengan meningkatkan fasilitas pendidikan, kesehatan, pelayanan publik dan sebagainya.
Maka dari itu mahasiswa yang mengikuti program pada mitra ini diberikan tugas akhir merancang suatu brandbook smart city branding kota yang dipilih, dalam bentuk kelompok yang telah ditentukan oleh mitra. Proyek ini bertujuan untuk menciptakan citra kota yang lebih baik, lebih ramah, dan lebih berkelanjutan serta bukan hanya sekadar branding visual tetapi juga membawa dimensi sosial dan ekonomi kota tersebut. Kelompok kami memilih Kota Medan karena yang paling memungkinkan untuk kami jangkau dalam tahapan analisis data dan observasi. Adapun tahapan penyusunan dalam Brandbook ini yaitu diantaranya:
1.    Kajian Awal dengan analisis data yang ada seperti RPJMD, RPJPD, RENSTRA Dinas Pariwisata, Kota Medan dalam angka 2024
2.    Observasi untuk melihat potensial maping dan analisis SWOT Kota
3.    Perancangan Blueprint diantaranya terkait logo, slogan dan maskot yang akan digunakan untuk membranding suatu kota, solusi pariwisata berkelanjutan dan strategi pembangunan smart city branding.
4.    Brandbook yaitu hasil akhir dari tahapan yang telah dilakukan dan dirancang digabung menjadi satu dalam file brandbook ini.
Perancangan Brandbook ini berkolaborasi dengan lintas disiplin yang akan menjadi kunci keberhasilan proyek akhir kelompok kami. Kelompok kami terdiri dari mahasiswa desain, teknologi, manajemen, dan ilmu sosial. Hal ini akan memberikan perspektif yang lebih luas tentang bagaimana berbagai disiplin ilmu dapat berkolaborasi untuk menciptakan solusi dan strategi pembangunan berkelanjutan yang lebih holistik dalam membranding kota.
Jika dikaitkan dengan ilmu kesejahteraan sosial dalam proyek ini peran pekerja sosial memastikan bahwa branding kota tidak hanya berbicara tentang kemewahan atau teknologi, tetapi juga menggambarkan kesejahteraan sosial yang mencakup kebutuhan psikososial, hak asasi manusia, serta akses terhadap layanan dasar bagi kelompok rentan seperti misal salaah satu contohnya akses publik yang dapat digunakan dengan baik dan memadai oleh penyandang disabilitas. Melalui Brandbook Smart City Branding ini kami berusaha untuk menciptakan narasi kota yang tidak hanya berfokus pada citra luar yang modern, tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat yang mencakup keadilan sosial dan kesejahteraan.
Artikel ini adalah publikasi tugas Kegiatan MSIB/MBKM dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Khalda Mahirah PanggabeanÂ
Leave a comment