Oleh: Syafira Sari
Di balik jendela yang tak pernah benar-benar kubuka,
langit selalu tampak sama dengan pucat, diam, seolah menahan napasnya sendiri
Orang-orang berlalu dengan langkah tergesa, sibuk mengejar suara
yang bahkan tak lagi mereka dengarkan
Di layar yang menyala dari pagi hingga dini hari,
kita menimbang nasib lewat notifikasi yang tak kunjung padam
Seakan hidup cuma sebatas guliran jempol dan hitungan tayangan,
sementara kenyataan menunggu di sudut ruang yang makin berdebu
Di jalan raya, klakson bersahutan seperti doa yang kehilangan tuannya
Kita saling salip, tapi tak pernah benar-benar tiba
Gedung-gedung tumbuh seperti ambisi yang tak pernah kenyang,
mengikis sisa langit yang ingin tetap menjadi biru
Orang-orang berdebat seperti api kecil di padang kering,
cepat membesar, cepat padam, meninggalkan asap kebingungan
Yang benar disamarkan, yang salah dipoles rapi,
dan kebenaran dibiarkan berjalan sendirian tanpa alas kaki
Namun, di antara hiruk-pikuk yang menua setiap hari,
ada suara kecil yang memanggil dari cakrawala monoton itu
Sebuah bisikan bahwa hidup bukan sekadar berputar dalam lingkaran
yang kita buat sendiri karena takut berhenti
Dan mungkin, jika kita berani menengadah barang sebentar,
kita akan menemukan celah tipis di antara awan
tempat harapan masih mengintip, malu-malu, bertahan untuk tetap ada
Menunggu kita menyadari bahwa kebebasan, tak pernah benar-benar hilang…
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment