Home Kabar SUMUT Cerita Pekerja Medan Zoo Menjaga Satwa dengan Keterbatasan
Kabar SUMUT

Cerita Pekerja Medan Zoo Menjaga Satwa dengan Keterbatasan

Share

Reporter: Alya Nayla Sahirah S, Widia Ayu Lestari, Rizqi Putra

Suara USU, Medan. Sejumlah kandang kosong dan kabar kematian satwa di Medan Zoo bukan hanya mencerminkan kualitas persoalan satwanya, tetapi juga kondisi para pekerja yang menjalankan pengelolaan sehari-hari. Di tengah sorotan publik terhadap kondisi Medan Zoo, ada cerita dari para pekerja yang tetap harus menjalankan tugas menghadapi keterbatasan operasional dan kesejahteraannya.

Pelaksana Tugas Direktur Operasional Medan Zoo, Arvan, mengatakan pengelolaan kebun binatang saat ini masih berjalan dengan berbagai keterbatasan. Ia menyebutkan bahwa perawatan satwa dan kebersihan lingkungan menjadi prioritas utama pengelola kebun binatang di tengah kondisi keuangan yang belum stabil.

“Untuk saat ini selain perawatan terhadap satgwa, kebersihan lingkungan menjadi prioritas utama,’’ ujar Arvan saat ditemui di Medan Zoo.

Medan Zoo sendiri merupakan kebun binatang konservasi yang berada di bawah naungan dari Pemerintah Kota Medan dan dikelola oleh Perusahaan Umum Daerah (PUD) Kota Medan selaku Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Seluruh pembiayaan operasional, termasuk pakan dan perawatan satwa masih mengandalkan pendapatan dari penjualan tiket pengunjung, subsidi dari cabang PUD lain, bahkan dari pendapatan pribadi karyawan Medan Zoo.

Medan Zoo mengalami penurunan jumlah pengunjung dan pendapatan sejak tahun 2020 saat terjadinya Pandemi COVID-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh Pemerintah Kota Medan. Destinasi wisata yang banyak ditutup di Kota Medan saat itu juga berlaku di Medan Zoo di pertengahan tahun 2020. “Sebelum pandemi, pengunjung bisa mencapai 2000 hingga 3000 orang per hari. Sekarang, hari libur saja kadang tidak sampai 100 orang. Dulu banyak sponsor yang mendukung Medan Zoo, termasuk Bank Mandiri Syariah, XL, Honda, Suzuki dan banyak lagi. Mereka kemudian mulai menarik diri setelah COVID, karena nilai jual yang kurang dari Medan Zoo,’’ jelas Arvan.

Ia menambahkan kondisi tersebut berdampak pada kurangnya dana operasional untuk perawatan taman, kandang, maupun satwa yang ada. Meski demikian, pihak pengelola menerima kritik dari masyarakat dan berupaya melakukan perbaikan secara bertahap.

Keterbatasan dana ini juga berdampak langsung pada kesejahteraan para pekerja Medan Zoo. Ana Tobing, staff tiket Medan Zoo menjelaskan bahwa hingga saat ini upah karyawan masih belum dibayarkan secara penuh sejak Juli 2024, terhitung 17 bulan. Pembayaran dilakukan secara bertahap ketika dana tersedia dan hanya sebagian dari total gaji. Ana menambahkan bahwa salah satu faktor tertunggaknya gaji karyawan adalah karena pengelola lebih mengutamakan pakan hewan. Keterbatasan keuangan juga berdampak pada jumlah tenaga kerja yang hanya memiliki 25 orang karyawan di berbagai bidang seperti administrasi, kebersihan lingkungan, hingga perawatan satwa. Banyak pekerja yang pensiun tidak dapat digantikan karena pengelola belum mampu membuka rekrutmen baru.

“Sekitar 17 bulan gaji kami belum dibayar penuh. Kita terima gaji setiap bulannya, tetapi hanya sekitar 20-25%. Kami bukan tidak mau rekrut, tapi tidak bisa menggajinya, dan sebab gaji kami tertunggak salah satunya karena kami lebih mengutamakan pakan hewan,’’ ujar Ana saat diwawancara tim Suara USU (20/12/25).

Dalam kondisi tersebut, Arvan selaku pengelola menyebutkan bahwa banyak pekerja tidak memiliki banyak pilihan dan terpaksa mencari penghasilan tambahan di luar jam kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Ada yang bekerja sebagai pengemudi ojek daring. Subuh sudah keluar, pagi masuk kerja lagi. Ada juga yang bikin konten,” jelasnya.

Menanggapi kendala dana tersebut, Ana menambahkan bahwa pihak Medan Zoo telah berupaya mengajukan proposal permohonan dana kepada pihak BKSDA Sumut, namun belum mendapat tanggapan. “Mereka tetap terima laporan kami tapi hanya sebatas simbolis tidak di tanggapi,” Ungkap Ana Staff ticketing Medan Zoo.

Selain persoalan gaji, pekerja juga menghadapi keluhan pengunjung terkait kebijakan hiburan tambahan di area Medan Zoo. Ana Tobing menyinggung pemasangan hiasan lampu yakni Magical Forest Dhuna Glow yang sempat dihadirkan di Medan Zoo. Menurutnya, banyak keluhan disampaikan langsung kepada petugas lapangan, terutama petugas ticketing, meski kebijakan tersebut bukan berada di tangan pekerja. Ana mengatakan sebagian pengunjung merasa harga tiket wahana lampu tidak sebanding dengan kondisi kebun binatang secara keseluruhan. Ana juga menilai kehadiran wahana lampu tersebut tidak serta-merta meningkatkan jumlah pengunjung.

Baik pengelola dan pekerja sama-sama memiliki harapan yang sama, yakni Medan Zoo kembali normal seperti sedia kala. Pengelola berharap pemerintah Kota Medan dan BUMD dapat mensejahterakan karyawan dan memperbaiki fasilitas secara bertahap. Sementara pekerja mengharapkan penghasilan yang layak dan keberlangsungan hidup satwa tetap terjaga.

Redaktur: Vimelia Hutapea

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.