SUARA USU
Opini

Dampak Buruk ‘Helicopter Parenting’ dalam Perkembangan Psikologis Anak

Oleh: Fitri Ratna Sari

Suara USU, MEDAN. Helicopter parenting adalah pola asuh orang tua yang terlalu berlebihan dalam menjaga anaknya. Orang tua yang memakai pola asuh ini akan selalu mengawasi anak dalam setiap aspek kehidupan anak, seperti baling-baling pada helicopter, mereka melayang di atas mengawasi setiap kehidupan anak mereka secara konstan, mereka selalu ingin memantau gerak-gerik anak dan tidak dibiarkan untuk mengambil keputusan sendiri karena orang tua takut anak akan mengambil pilihan yang salah.

Pola asuh helicopter parenting memiliki dampak yang sangat buruk bagi perkembangan psikologis anak. Dengan melakukan helicopter parenting, orang tua jadi tidak memahami kebutuhan anak dari perspektif anak itu sendiri. Terbiasa memiliki kecenderungan untuk mengendalikan, melindungi, dan mencari kesempurnaan sang anak, anak akan menjadi kesulitan berpikir, kesulitan dalam membuat sebuah keputusan tanpa kehadiran orang tuanya, anak juga akan menjadi penakut dan tidak percaya diri.

Ciri-Ciri Helicopter Parenting:
– Pada tahap balita, helicopter parenting akan terus memperhatikan secara ketat menjaga anaknya saat bermain, tidak akan membiarkan anaknya disentuh orang lain, terlalu takut anak terjatuh atau terluka saat bermain, dan tidak membiarkan anak punya waktu sendirian.

-Pada tahap usia sekolah hingga kuliah, helicopter parenting biasanya berinisiatif membuat keputusan-keputusan bagi hidup anak tanpa mempertimbangkan pendapat anak, memastikan anaknya memiliki guru atau pelatih tertentu, mulai mengatur dengan siapa anak boleh berteman, mengatur kegiatan anak di sekolah maupun di kampus, membatasi anak mengikuti ekstrakurikuler yang dia sukai dan akan selalu memantau apa yang dilakukan anak.

-Helicopter parenting menaruh perhatian lebih pada bidang akademik anak, misal anak harus berada pada peringkat pertama, dan orang tua akan protes kepada guru jika anaknya mendapat nilai jelek, dan selalu ingin yang terbaik dan kesempurnaan bagi sang anak.

Meski mungkin niatnya baik, orang tua dengan pola asuh helicopter parenting memiliki rasa tanggung jawab yang berlebihan untuk segala aspek kehidupan sang anak, terutama terkait kesuksesan dan kegagalan anak. Namun, memiliki dampak buruk bagi perkembangan sang anak. Pola asuh seperti ini sebaiknya dihindari.

Melindungi dan mengawasi anak memang perlu, tetapi pastikan juga mereka punya ruang gerak untuk mengeksplorasi dan mengembangkan diri dan beri mereka kepercayaan. Berikut adalah tips cara menghindari sikap orang tua dari helicopter parenting:

  1. Ajarkan dan biarkan anak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bisa ia lakukan agar kelak ia bisa mandiri.

  2. Jangan terlalu mencampuri urusan anak dan beri dia sedikit ruang. Hargai anak yang memiliki privasinya sendiri.

  3. Biarkan anak merasakan berbagai emosi saat dunia tidak berpihak pada mereka. Rasa kecewa, takut, cemas, hingga sedih karena gagal itu manusiawi. Biarkan anak melakukan sendiri hal yang secara mental dan fisik sangat mungkin dituntaskan sendiri.

  4. Hargai keputusan dan usaha anak. Jika memang dirasa kurang baik, coba arahkan dengan baik dan memberikan alasan-alasan yang masuk akal.

  5. Ajarkan dan biarkan anak melakukan kegiatan sendiri namun tetap anda awasi dengan baik, tanpa harus overprotective berlebihan.

  6. Biarkan anak bergaul/bermain bersama temanya selagi masih dalam batas wajar.

Redaktur: Wiranto Asruri Siregar

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Generasi Z dan Milenial Kuasai Pemilu 2024

redaksi

Alami Perlakuan Berbeda, Mahasiswa KIP-Kuliah 2023 Dirugikan Skema KIP-K

redaksi

Penelitian Mahasiswa USU Mengenai Heterogenitas Masyarakat Indonesia dan Hubungannya Terhadap Nilai Pancasila

redaksi