Home Kabar Kampus Dari Limbah Jadi Bernilai, Tim Bismillah Menang Lagi Raih Juara I
Kabar Kampus

Dari Limbah Jadi Bernilai, Tim Bismillah Menang Lagi Raih Juara I

Share

Reporter: Tania Renata Panjaitan

Suara USU, Medan. Tim Bismillah Menang Lagi yang mewakili Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil meraih Juara I dalam kompetisi poster internasional yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Negeri Walisongo. Kompetisi yang berlangsung pada 1 Agustus 2026 tersebut mengangkat tema “Menjaga Sampah Limbah Organik, Anorganik, dan B3 di Indonesia dengan Teknologi Terkini”.

Tim tersebut terdiri atas Riki Candra, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), selaku ketua tim, dan Silkyanida Fachriza Damanik, mahasiswi Program Studi Hukum, Fakultas Hukum (FH), selaku anggota. Dalam kompetisi tersebut, tim mengusung gagasan teknologi berbasis tong sampah pintar yang dirancang untuk mengurangi permasalahan sampah di Indonesia sekaligus mengolahnya menjadi produk baru yang memiliki nilai tambah.

Ketua Tim Bismillah Menang Lagi, Riki Candra, mengatakan keikutsertaan mereka dalam kompetisi tersebut didorong oleh keinginan untuk menambah pengalaman dan prestasi di bidang yang belum pernah mereka tekuni sebelumnya, khususnya terkait pengelolaan limbah di Indonesia.

“Motivasinya karena kami ingin menambah prestasi dan mencoba lomba terkait limbah di Indonesia. Selain itu, hadiah yang berupa uang juga menjadi salah satu motivasi kami,” ujar Riki.

Gagasan tersebut dikembangkan melalui teknologi pada tong sampah pintar yang mengadaptasi konsep dan landasan teknologi yang telah diterapkan di luar negeri. Teknologi ini dirancang untuk mengolah sampah menjadi produk bernilai tambah. Selain itu, mereka merancang ekosistem lingkungan di sekitar tong sampah yang dilengkapi prototipe untuk memperlihatkan potensi penerapannya di Indonesia.

“Kekuatan gagasan kami terletak pada teknologi tinggi pada tong sampah dengan landasan ide dari luar negeri sehingga realistis untuk dijalankan. Ditambah juga dengan ekosistem lingkungan sekitar tong sampah dengan prototipe yang membantu meningkatkan keunikan dan penggunaan ide kami di Indonesia,” jelas Riki.

Dalam proses penyusunan poster, keduanya terlebih dahulu mencari data mengenai permasalahan sampah serta contoh yang relevan dengan gagasan yang dikembangkan. Data tersebut kemudian menjadi dasar bagi mereka untuk merancang mesin, teknologi, dan alur penggunaan tong sampah pintar.

“Proses penyusunan posternya dimulai dengan mencari data permasalahan dan contoh yang sekiranya relevan dengan ide kami sehingga pembuatan poster bisa lebih matang. Setelah itu, kami mulai merancang mesin, teknologi, dan alur penggunaannya,” jelas Riki.

Pengembangan gagasan tersebut tidak terlepas dari sejumlah tantangan. Keduanya harus menyesuaikan waktu untuk berdiskusi dan mengerjakan tugas masing-masing, sekaligus merancang visualisasi teknologi hingga memikirkan proses penerapan tong sampah pintar tersebut di Indonesia.

“Tantangan kami pastinya harus bisa menyesuaikan waktu dalam berdiskusi dan mengerjakan tugas. Lalu, merancang gambar teknologi dan mesin tong sampah pintarnya hingga terdapat visualisasi finalnya dan mencari tahu bagaimana proses realisasinya jika digunakan di Indonesia,” ungkap Riki.

Menurut Riki, poster menjadi salah satu media yang dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan dan informasi kepada masyarakat secara luas. Ia menilai proses pembuatan poster juga mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam melihat berbagai persoalan di sekitarnya.

“Dengan adanya tuntutan untuk mampu berkreativitas dan berpikir kritis tentang yang terjadi di sekitar kita, kita akan mampu menciptakan masyarakat yang peduli terhadap permasalahan bangsa dan meningkatkan kualitas sebuah negara dengan gagasan besar yang kita miliki,” tuturnya.

Riki berpesan kepada mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi agar tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menjadikan setiap perlombaan sebagai proses untuk belajar dan berkembang.

“Bagi teman-teman yang ingin mengikuti lomba, ingat kalau proses menjadi juara itu tidak instan. Jadi, tetaplah belajar dari pengalaman yang sudah dilalui, berdoa, dan berusaha yang terbaik. Selain itu, cari juga tim yang cocok dengan diri kita agar ke depannya bisa meraih prestasi bersama,” tutup Riki.

Redaktur: Erni Yuli Simatupang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.