
Oleh : Siti Aisyah
Suara USU, Medan. “Dari Penjara ke Penjara” bukan sekedar sebuah catatan biografi seorang tokoh nasional. Buku ini memberikan pandangan mendalam tentang pemikiran, perjuangan, dan pengorbanan Tan Malaka. Tan Malaka adalah individu yang sering kali memiliki ide-ide yang melampaui arus utama dalam politik Indonesia pada masa itu. Buku ini ditulis dalam tiga jilid, karya yang mendokumentasikan perjalanan hidupnya melalui berbagai penjara, baik di luar negeri maupun di tanah air. Tan Malaka tidak termasuk penulis yang menceritakan perjalanan hidupnya dengan gaya dramatis. Ia menulis secara tegas, berorientasi pada analisis, dan kerap memadukan pengalaman pribadinya dengan kritik sosial dan politik yang kritis.
Sejak awal, ia menekankan bahwa perjuangan untuk kebebasan rakyat memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit,
“Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri sendiri”
Bagi Tan Malaka, penjara bukanlah sebuah titik akhir dalam perjuangannya, tetapi bagian dari perjalanan panjang menuju kemerdekaan yang sejati. Dibalik dinding-dinding sempit dan lembap itulah ia justru menemukan kesempatan untuk merenungkan arah pergerakan, memperkuat keyakinan, dan menguji ketahanan batin.
Salah satu keunggulan buku ini terletak pada deskripsi mendalam mengenai kehidupan di dalam penjara. Buku ini tidak hanya mengisahkan pengalamannya sendiri, tetapi juga mencerminkan nasib para narapidana lain yang menjadi korban ketidakadilan.
”Sering terjadi mereka tidak bersalah sedikit pun meringkuk seumur hidup dalam penjara yang kamarnya gelap, sempit, dan kosong.”
Kutipan ini menunjukkan bahwa penjara kolonial berfungsi sebagai alat penindasan, bukan hanya sekedar lokasi untuk menjalani hukum. Situasi fisik mengkhawatirkan, terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan, serta kurangnya keadilan hukum menjadi bagian dari realitas tersebut. Dengan menceritakan kisah mereka, Tan Malaka seakan menegaskan bahwa penderitaan yang dialaminya tidak hanya merupakan pengalaman pribadi, tetapi juga mencerminkan keadaan kolektif bangsa yang terjajah.
Selain membahas isu politik, Tan Malaka juga mengangkat masalah sosial yang dialami oleh masyarakat, terutama para buruh dan pekerja. Ia menggambarkan kemiskinan sebagai satu siklus yang digunakan oleh pihak berwenang dan perusahaan untuk mengeksploitasi.
“Kekurangan dalam segala-galanya menimbulkan keinginan untuk mengadu nasib dengan bermain judi, nafsu yang disengaja diciptakan oleh maskapai sesudah gajian.”
Ia kemudian menjelaskan bagaimana kemiskinan dan perjudian saling terkait, menciptakan siklus yang seolah tak pernah berakhir.
“Utang menimbulkan keinginan berjudi dan perjudian menambah utang yang terus menerus.”
Dalam konteks ini, Tan Malaka tidak hanya menggambarkan permasalahan yang ada, tetapi juga mengungkapkan bagaimana sistem kapitalis kolonial secara sengaja menciptakan situasi yang membuat masyarakat sulit untuk lepas dari belenggu kemiskinan.
Tan Malaka menggunakan bahasa yang lugas dan langsung tanpa basa-basi. Narasinya tidak terjerat dalam perasaan berlebihan, melainkan berkonsentrasi pada analisis mendalam mengenai isu-isu yang dihadapinya. Setiap kisah penjara selalu diikuti dengan refleksi ideologis yang membentuk kerangka pemikirannya tentang revolusi dan kemerdekaan. Baginya, kemerdekaan merupakan suatu perjuangan yang tidak dapat diabaikan, sebuah tujuan yang memerlukan keberanian untuk menghadapi kekuatan yang terlihat sangat kuat.
Ia tidak hanya melihat dirinya sebagai saksi sejarah, tetapi juga sebagai bagian aktif yang sepenuhnya menyadari dampak dari setiap pilihannya. Prinsip hidupnya diungkapkan dalam suatu pandangan yang bersifat universal dan tetap relevan hingga kini.
“Pada dasarnya ada dua kodrat terbesar yang menggerakkan jiwa semua yang hidup, termasuk jiwa manusia, yaitu kehendak mau hidup dan kehendak jangan mati.”
Menurut Tan Malaka, dua kodrat ini bukan sekedar naluri biologis, tetapi juga dasar bagi perjuangan politik. Keinginan untuk hidup mendorong masyarakat dalam pencarian keadilan, sementara keinginan untuk menghindari kematian memotivasi mereka untuk memperjuangkan hak-hak dan kebebasan mereka.
Akhirnya, “Dari Penjara ke Penjara” lebih dari sekedar sebuah autobiografi milik seorang tokoh politik. Buku ini merupakan dokumen tentang perjuangan, catatan ideologis, dan juga kisah hidup seseorang yang siap mengorbankan kenyamanan demi mencapai cita-cita besar bangsanya. Membaca karya ini seolah-olah kita melangkah ke dalam dunia seorang revolusioner yang tak pernah takut, meskipun dikelilingi oleh tembok penjara dan ancaman kematian.
Tan Malaka mengajarkan bahwa penjara fisik tidak pernah mampu sepenuhnya mengekang gagasan. Justru dari balik jeruji besi muncul refleksi dan analisis yang semakin mendalam mengenai ketidakadilan. Buku ini membuat pembaca memahami bahwa usaha untuk meraih kemerdekaan bukanlah proses yang mudah. Sebaliknya, ia merupakan perjalanan panjang yang kaya dengan pengorbanan, keraguan, serta keyakinan yang kuat dan tak tergoyahkan.
Redaktur: Zahra Zaina Rusty
Leave a comment