Home Musik “Detik, Menit, Jam”, Saat Keteguhan Menjadi Kekuatan
Musik

“Detik, Menit, Jam”, Saat Keteguhan Menjadi Kekuatan

Share

Oleh: Dinda Sri Aulia

Suara USU, Medan. Tidak semua luka berasal dari kehilangan. Ada kalanya rasa sakit muncul dari perkataan orang lain yang terus menghakimi, tuntutan yang tak pernah usai, hingga kebohongan yang perlahan mengikis ketenangan diri. Di tengah tekanan tersebut, seseorang dihadapkan pada pilihan: terus mengikuti ekspektasi orang lain atau tetap bertahan menjadi diri sendiri. Pergulatan itulah yang dihadirkan Feby Putri melalui lagu “Detik, Menit, Jam”, sebuah karya yang berbicara tentang keteguhan hati di tengah derasnya penilaian dan campur tangan orang lain terhadap kehidupan seseorang.

Dirilis pada 31 Maret 2023, “Detik, Menit, Jam” menjadi lagu penutup dalam album mini (EP) 2016. Melalui lagu ini, Feby Putri menuangkan keresahannya tentang perjuangan mempertahankan jati diri di tengah berbagai tekanan. Dengan balutan musik yang sederhana namun emosional, lagu ini mengajak pendengar untuk tetap teguh pada pilihan hidupnya, meski terus dihadapkan pada penilaian dan komentar negatif dari orang lain.

“Lagi-lagi
Satu kalimat terlontarkan
Dari sekian banyak kebohongan.”

Lagu dibuka dengan gambaran tentang luka yang terus berulang. Kalimat yang terlontar bukan sekadar ucapan biasa, melainkan representasi dari kebohongan dan penilaian yang terus menghampiri. Pengulangan frasa “lagi-lagi” menunjukkan bahwa situasi tersebut bukan terjadi sekali, tetapi terus berulang hingga menjadi beban emosional yang melelahkan.

“Entah apa penyebabnya,
Bisa tutupi rasa sakitku
Remuk kian hari yang memaksaku terus di sini.”

Pada bagian ini, Feby Putri memperlihatkan sisi rapuh seseorang yang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. Meski hati terasa remuk dari hari ke hari, ia tetap bertahan menghadapi keadaan. Lirik tersebut menggambarkan bahwa tidak semua orang mampu menunjukkan luka yang dipikulnya. Ada perjuangan yang dijalani dalam diam, sembari berusaha tetap berdiri di tengah tekanan.

“Tetap tertuju pada
Mau tak mau ada
Namun keliru bila terus-menerus diadu.”

Feby Putri menggambarkan bahwa tekanan, perbedaan pendapat, maupun penilaian dari orang lain adalah hal yang tidak dapat sepenuhnya dihindari. Frasa “mau tak mau ada” menunjukkan bahwa realitas tersebut memang akan selalu hadir dalam kehidupan. Namun, terus membiarkan diri terjebak dalam pertentangan, hasutan, atau perbandingan dengan orang lain justru menjadi sesuatu yang keliru. Lirik ini mengajak pendengar untuk berhenti memberi ruang bagi hal-hal yang hanya menguras ketenangan batin.

“Di hidupku, apa pun kulakukan hanya untukku
Bukan untukmu
Yang s’lalu urusiku tiap detik, menit, jam.”

Bagian ini menjadi inti pesan lagu, menyampaikan penegasan bahwa hidup bukanlah sesuatu yang harus dijalani demi memenuhi penilaian orang lain. Lirik tersebut menjadi bentuk keberanian untuk menetapkan batas, bahwa setiap pilihan hidup adalah hak pribadi. Frasa “tiap detik, menit, jam” memperlihatkan bagaimana tekanan dan komentar negatif terasa hadir tanpa henti, seolah selalu mengawasi setiap langkah yang diambil.

“Hidup ini pilihan
Dan kupilih jadi diriku sendiri.”

Kalimat sederhana ini menjadi titik balik, dimana setelah melalui berbagai tekanan, tokoh dalam lagu akhirnya memilih menerima dirinya apa adanya. Bukan lagi hidup berdasarkan ekspektasi orang lain, melainkan berani menentukan jalan hidupnya sendiri. Pesan ini menjadi pengingat bahwa menjadi diri sendiri membutuhkan keberanian, terutama ketika lingkungan terus menuntut seseorang untuk berubah.

“Redamkan suara yang terdengar mengganggu pikiran
Kedua tangan tutupi telinga
Padamkan marah yang terdengar mengganggu pikiran
Kedua tangan tutupi telinga.”

Lirik ini menggambarkan upaya melindungi diri dari berbagai suara negatif yang mengganggu ketenangan batin. Menutup telinga bukan berarti menghindari kenyataan, melainkan memilih untuk tidak lagi membiarkan komentar yang menyakitkan mengendalikan pikiran. Terkadang, menjaga kesehatan mental dimulai dengan menyaring suara-suara yang tidak memberikan manfaat bagi diri sendiri.

“Peluk erat nasibku
Berteduh di dalam diri
Hari-hari kesalku
Mungkin ku sudah biasa.”

Menjelang akhir lagu, Feby Putri menghadirkan penerimaan sebagai bentuk kekuatan. “Memeluk nasib” bukan berarti menyerah, tetapi menerima segala luka, kegagalan, dan rasa kecewa sebagai bagian dari perjalanan hidup. Ketika seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri, ia tidak lagi bergantung pada pengakuan orang lain untuk merasa berharga.

Melalui “Detik, Menit, Jam”, Feby Putri menghadirkan refleksi tentang pentingnya menjaga diri di tengah dunia yang penuh penilaian. Lagu ini mengingatkan bahwa kritik, kebohongan, dan tuntutan orang lain mungkin tidak bisa dihentikan, tetapi setiap orang tetap memiliki kendali atas cara mereka meresponsnya. Keteguhan hati menjadi kekuatan untuk tetap melangkah tanpa kehilangan jati diri.

“Detik, Menit, Jam” bukan sekadar lagu tentang rasa sakit, melainkan tentang keberanian untuk tetap berdiri setelah berkali-kali dijatuhkan. Sebab, di tengah suara-suara yang terus berusaha menentukan bagaimana seseorang seharusnya hidup, pilihan paling berani adalah tetap menjadi diri sendiri.

Redaktur: Frianka Raya Sitanggang

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.