SUARA USU
Kabar Kampus

Diskusi Publik Amnesty USU, Bahas Masyarakat Adat Hingga Kampanye Krisis Iklim

 

Reporter : Farhan Muhammad Irsyadi

Suara USU, MEDAN. Amnesty International Indonesia Campus Chapter Universitas Sumatera Utara sukses mengadakan diskusi publik secara online melalui Zoom Meeting (4/2), mengangkat tajuk “Melindungi Masyarakat Adat = Menjegal Krisis Iklim” yang membahas masyarakat, hutan dan perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Adapun tema yang diangkat dalam diskusi publik Amnesty USU ini merupakan hasil yang didapat setelah sebelumnya sukses terlaksana Focus Group Discussion (FGD) antara aktivis dari beberapa campus chapter dan grup aksi se-Indonesia.

Dalam sambutannya, Dion Kristian Cheraz Pardede selaku moderator sekaligus koordinator Amnesty Chapter Universitas Sumatera Utara mengatakan strategi kampanye yang lebih dekat ke masyarakat untuk menarik lebih banyak dukungan adalah mengusahakan kampanye yang dibuat harus lebih dekat ke masyarakat akar rumputnya.

“Kampanye perubahan dan krisis iklim selama ini dipandang cukup elitis karena tidak semua orang bisa paham, terlibat dan relate, tetapi pada kenyataannya semua orang bisa terdampak karenanya,” tegas Dion.

Dalam diskusi ini Amnesty USU mengundang Adhitya Adhyaksa sebagai pembicara yang merupakan salah seorang peneliti dari Auriga Nusantara, sebuah NGO yang bergerak dibidang pelestarian lingkungan dan sumber daya alam, termasuk juga keadilan ekologis yang berhubungan pula dengan konflik agraria dan masyarakat adat.

Adhitya Adhyaksa  memulai diskusi dengan menjabarkan peran hutan adat dalam perlindungan hutan alam dan juga menjelaskan kondisi riil hutan-hutan yang ada di indonesia, baik dari jumlah, luas serta kegunaan atau fungsinya.

“Terjadi penyusutan luas dari hutan yang ada di Indonesia, apabila kita kerucutkan lagi kepada hutan adat sangat tampak bahwa persentasenya sangat kecil, belum lagi polemik serta masalah penyusutan hutan dan sulitnya pengajuan hutan adat serta masalah-masalah lain yang menyertainya,” tutur Adhitya.

Adhitya juga menjelaskan bahwa terdapat pengaruh dua arah dari polemik yang disebutkan sebelumnya, yaitu masyarakat adat terhadap lingkungan sekitarnya. Selama ini masyarakat adat secara tradisional melakukan upaya mitigasi terhadap perubahan iklim itu sendiri, baik secara sadar ataupun tidak, yaitu dengan menjaga wilayah hidupnya.

“Secara tidak langsung ini akan berpengaruh terhadap perubahan iklim, sehingga bilamana kita melihat ada konflik agraria, kita tidak hanya akan memandangnya sebagai perampasan ruang hidup tetapi juga perusakan lingkungan dan mendorong krisis iklim, atau bila dihiperbolik hal ini akan mempercepat kepunahan,” tambahnya.

Sebagai penutup, Dion selaku moderator menyampaikan sebagai kesimpulan bahwa melindungi masyarakat adat sama dengan menjegal krisis iklim. Hal tersebut erat kaitannya pada upaya mempertahankan masa depan lahan hutan secara umum, yang mana dalam hal ini lebih terfokus pada penetapan hutan adat, konflik agraria, serta kebijakan-kebijakan yang bisa diambil dalam merespon masalah yang ada.

“Problemnya terdapat pada orientasi pola berpikirnya pemerintah dalam menetapkan hal-hal terkait seperti izin tambang, food estate, dan lain sebagainya,” tutup Dion.

 

Redaktur : Agus Nurbillah


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Puncak Acara Aku USU Bahas Ekonomi Islam

redaksi

Intip Persiapan Tim Horas USU untuk Shell Eco-Marathon Asia 2023, Targetkan Masuk 3 Besar!

redaksi

Belum Mendapat Kejelasan, Rekrutmen PEMA USU Masih Menjadi Pertanyaan!

redaksi