Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Sosok

Drg. Henry Sembiring, Alumni USU yang Mengabdi di Tanah Papua

Oleh: Gracyan Eukario Sembiring

Suara USU, Medan. Alur kehidupan manusia ialah misteri Tuhan. Manusia hanya bisa bermimpi, dan menunggu kenyataan datang dengan sendirinya, entah itu pahit atau manis. Drg.Henry Sembiring atau kerap dikenal dengan panggilan Dokter Sembiring ialah salah satu alumni USU yang berani untuk bermimpi. Sejak kecil, dirinya bermimpi untuk kuliah di Sumatera, dan mengambil wilayah terjauh yaitu Papua untuk bekerja. Motivasinya saat itu ialah Papua adalah NKRI namun tingkat peminat ke tanah surga ini masihlah rendah.

Dokter Sembiring saat ini menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) di Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Sebelum menduduki posisi sebagai “orang ketiga terpenting” di Manokwari, dirinya telah melewati banyak sekali kisah kehidupan dan pengalaman yang sebagian besar dilakukannya di tanah surga ini.

Perjalanan hidup Dokter Sembiring diawali dari bawah Gunung Sinabung. Beliau lahir di desa Gamber pada tanggal 25 Oktober 1964, kemudian menetap di kampung hingga beliau melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Kabanjahe. Setelah lulus dari SMA, beliau menempuh perkuliahan di Fakultas Kedokteran Gigi USU pada Tahun 1983, dan lulus pada bulan Desember tahun 1990.

Dokter Sembiring memulai langkah awal mewujudkan mimpinya pada bulan Maret tahun 1991, ketika dirinya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Papua. Sebelum berangkat, beliau kembali ke Medan untuk berpamitan dan meminta restu orangtuanya. Jasa beliau di Papua selama 3 dekade terakhir penuh dengan dedikasi, beliau memulai 15 tahun pertamanya di tanah Papua dengan bekerja di puskesmas, kemudian 7 tahun ditempuhnya di Prafi (pedalaman Manokwari), dan 8 tahun di Sanggeng (kota manokwari).

Berkat Tuhan semakin meneranginya pada tahun 2005, dimana Bupati yang menjabat saat itu (sekarang menjadi gubernur Papua Barat), Drs. Dominggus Mandacan mengangkat Dokter Sembiring menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari. Tak berhenti disitu, pada periode bupati Doktor Bastian Salabai, dirinya tetap menjadi Kepala Dinas Kesehatan, hingga pada periode Demas Paulus Mandacan S.Sos., M.Ec.Dev. Sepanjang sejarah kota Manokwari, Dokter Sembiring masih menjadi pemegang rekor menjabat selama 15 Tahun sebagai Kepala Dinas Kesehatan dengan 3 Bupati yang berbeda.

Salah satu dari kebijakan yang Dokter Sembiring keluarkan saat menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan ialah melarang penggunaan miras di Manokwari. Beliau ingin menyumbat sumber dari permasalahan penyakit menular seks. Beliau khawatir ketika mabuk, maka tanpa sadar melakukan seks bebas tanpa menggunakan kondom dan menyebarkan penyakit menular seks.

“Miras itu sumber kejahatan. Tidak ada memberi gaji, merusak hubungan suami istri, dan malah hanya merusak otak hingga tidak dapat berpikir secara rasional,” ujar Dokter Sembiring.

Setelah hampir 15 Tahun menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan, Dokter Sembiring merasa jenuh. Kemudian beliau menjadi staf ahli bidang kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia pada tahun 2019. Kendati demikian, Dokter Sembiring tetap bermotivasi untuk mengabdi dengan pemikiran idealisnya, yaitu “Bukan Berkat Tuhan yang saya cari, tetapi Berkat Tuhan yang datang kepada saya.”

Dokter Sembiring juga pernah menjabat sebagai ketua klasis Papua Barat. Mencatat sejarah baru, Dokter Sembiring menjadi ketua klasis satu-satunya yang bukan pendeta (sekolah teologia). Pencapaian yang sesungguhnya bagi Dokter Sembiring bukanlah untuk dirinya, melainkan dirinya dapat bermanfaat bagi orang banyak. Salah satu pencapaian besar bagi Dokter Sembiring ialah beliau dapat membawa orang papua ke Sumatera Utara, tepatnya ke GBKP di Sumatera Utara dengan bantuan berkat berupa dana dari Bupati berjumlah Rp1 Miliar.

Dokter Sembiring tidak mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Beliau dapat mudah diterima karena aktif di gereja, sehingga masyarakat melihat dirinya dalam dua sisi. Yang pertama sebagai dokter pendatang, dan yang kedua sebagai pengabdi Tuhan dalam bidang pelayanan kesehatan, karena pernah menjadi ketua klasis dan merangkap dengan Kepala Dinas Kesehatan.

“Harus membaur. Saya tidak pernah membedakan siapa yang orang papua, dan pendatang, bergaul, akrab dan bersama-sama bekerja,” ujar Dokter Sembiring.

Dokter Sembiring berpesan kepada seluruh Mahasiswa USU sebagai bagian dari penerus generasi bangsa agar mengikuti alur kehidupan, dan harus terjadwal (mendisiplinkan diri). Susun jadwal yang bisa diikuti, agar dapat diakukan dan terbiasa hingga berkerja. Bukan dalam arti menghukum diri, namun ini adalah parameter untuk mengetahui skala prioritas (kompas hidup).

Redaktur: Yessica Irene

Related posts

Sempat Marasa Minder, Mahasiswa Fakultas Teknik Raih Penghargaan ‘Honorable Mention’ dalam KNMIPA 2021

redaksi

Hatta Muda: Berpikir, Bergerak, Berdampak

redaksi

Abdurrahim Arsyad: Komedian Yang Lantang Menyuarakan Ketidakadilan

redaksi