SUARA USU
Entertaiment Featured

Etika dan Filsafat Komunikasi dalam Kaitan Kasus Kebohongan Ferdy Sambo

Sumber foto: Google.com

Oleh: Patrisia Panggabean

Suara USU, Medan. Ilmu pengetahuan merupakan sebuah dasar bagi manusia untuk melihat berbagai fenomena. Salah satu untuk melihat fenomena tersebut dapat mengacu kepada filsafat. Dari filsafat yang memandang dalam sebuah fenomena dapat mencari tahu akan kebenaran. Mencari Kebenaran tersebut sebagai sebuah kebebasan manusia dan sebuah rasa ingin tahu manusia akan suatu hal membuat hasrat bebas berpikir tersebut dapat diukur. Kebenaran menurut (Sobur, A. 2004) berpandapat bahwa kebenaran dalam filsafat merupakan sebuah rasa ingin tahu manusia untuk menemukan dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya manusia memiliki kebebasan dalam berpikir sesuai dengan kemauannya sendiri.

Pada filsafat ditemukan pada berbagai aspek seperti ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang dijadikan sebuah landasan dalam mengkaji sebuah fenomena terkait pada aspek ilmu komunikasi. Pada hal ini membahas mengenai pemberitaan terhadap kebohongan yang dilakukan pada Ferdy Sambo terkait kasus pembunuhan ajudannya, yaitu Brigadir J. Pada awalnya yang diketahui publik bahwa Brigadir J ditembak mati oleh ajudan lainnya, yaitu Bharada E karena berangkat dari masalah yang Sambo mengaku bahwa Brigadir J ingin “memperkosa” istrinya, yaitu Ibu C. Bahkan Ferdy Sambo menyusun skema pembunuhan tersebut sangat tersetruktur hingga menyangkut berbagai pihak di Kepolisian baik tingkat Jenderal yang paling tinggi hingga ke yang paling bawah seperti Bharata (pangkat polisi terendah di Indonesia )

Gambar Kebohongan Ferdy Sambo pada Kasus Pembunuhan Brigadir J.

Sumber Gambar : Google.com

Penyimpangan Berita hoax dalam Kasus Ferdy Sambo melalui Perspektif Etika dan Filsafat Komunikasi

Etika merupakan bagian dari aspek aksiologis dari Filsafat. Bahwa etika biasa disebut dengan filsafat moral, sebab karena etika berbicara pada tindakan manusia untuk menentukan nilai dari tujuan hidup seseorang. (Karisna, N. N. (2018) Jika etika dan filsafat dalam kasus Ferdy Sambo yang menilai bahwa media di Indonesia memiliki pergeseran sisi sebagai bentuk komunikasi massa. Kemunculan pada kasus Ferdy Sambo di media sebenarnya merupakan sebuah bentuk usaha yang diberikan pada Sambo untuk memalsukan berita agar jenderal tersebut tidak menjadi pelaku. Namun, setelah terjadinya persidangan yang panjang, media terkesan memberikan sebuah berita yang dapat dipertanyakan keabsahannya.

Kasus ini berimplikasi kepada etika pers, yaitu pada aspek “tanggung jawab” yang merupakan pers diharuskan memiliki tanggung jawab pada dampak informasi yang disampaikannya. Jika kita mengacu pada poin tersebut sebenarnya konsistensi media massa dalam menjalankan perannya sebagai penyalur berita yang sesuai dengan realita. Validasi dari berita mengenai Ferdy Sambo pada awalnya merupakan hal yang sulit untuk dilakukan karena sebenarnya fakta-fakta tersebut memang disembunyikan yang rapih dan sistematis oleh Sambo tersebut namun berita terlanjur untuk menyebarkan kebohongan tersebut. Pada dasarnya aspek kebenaran dalam berita merupakan hal yang paling dasar. (Ishak, S. 2014) Karena pada bidang juranalistik terdapat berbagai aturan dalam menyebarluaskan sebuah kebenaran berita.

Pasca persidangan yang melibatkan Ferdy Sambo dan Istri yang telah ditetapkan tersangka, media berlomba-lomba untuk menyalahkan Sambo yang memberikan berbagai judul yang sensasional. Berbagai tanggapan dan desas desus terkait Sambo yang memunculkan berbagai pertanyaan yang panjang. Pada aspek ini validitas dalam berita dipertanyakan karena setiap bergulirnya persidangan memunculkan sangat banyak pertanyaan. Dalam hal ini juga sebagian dari berita mengarah kepada orientasi keuntungan dengan mengeluarkan berita-berita yang clickbait atau sensasional yang berdampak pada pergeseran fungsi media tersebut.

Mengacu kepada filsafat dan etika, tanggung jawab merupakan hal yang penting dimiliki dalam memuat berita karena tanggungjawab merupakan kemampuan untuk seseorang menyadari bahwa segala tindakannya memiliki sebuah konsekuensi. Media sebagai pilar dalam berdemokrasi memiliki peran untuk mengimplementasikan standar tanggungjawab tersebut sehingga validitas dalam menyajikan berita seharusnya sesuai dengan fakta dan tidak menimbulkan beberapa pertanyaan yang dapat memecah belah bangsa.

Referensi:

Sobur, A. (2004). Mitos dan Kenikmatan Filsafat: Pengantar ke Pemikiran Filsafat Komunikasi. Mediator: Jurnal Komunikasi5(1), 15-28.

Karisna, N. N. (2018). Komponen Filsafat Dalam Ilmu Komunikasi. Indonesian Journal of Islamic Communication1(2), 22-35.

Ishak, S. (2014). Jurnalisme modern. Elex Media Komputindo.

Redaktur: Azka Zere Erlthor


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

7 Rekomendasi Podcast untuk Kamu Dengarkan Selama di Rumah Aja!

redaksi

Mengapa Memilih Jurusan Sastra Indonesia?

redaksi

Ketika Dokter Memvonis dan Tuhan Berkata Lain

redaksi