Home Kuliner Festival Bau Nyale sebagai Tradisi Kuliner Masyarakat Lombok
Kuliner

Festival Bau Nyale sebagai Tradisi Kuliner Masyarakat Lombok

Share

Oleh: Mardina Anindhita Kusumadewi

Suara USU, Medan. Setiap bulan Februari, masyarakat suku Sasak merayakan festival unik yang dinamakan Festival Bau Nyale. Kata “bau” berarti menangkap, sedangkan “nyale” adalah cacing laut warna-warni yang muncul pada waktu tertentu di pesisir pantai Lombok, Nusa Tenggara Barat. Festival ini menjadi tradisi sebagai bentuk penghormatan untuk mengenang Putri Mandalika yang dipercaya merupakan jelmaan Nyale.

Menurut masyarakat lokal, dahulu kala berdiri sebuah kerajaan bernama Tunjung Bitu yang dipimpin oleh Raja Tonjang Beru. Raja dan ratu itu dikaruniai seorang putri bernama Mandalika. Ia terkenal akan kecantikan, kebijaksanaan, dan hati yang lembut. Hal itulah yang membuat banyak pangeran dari kerajaan lain ingin melamarnya.

Banyaknya lamaran yang datang membuat sang putri gundah sehingga ia memutuskan untuk mengundang seluruh pangeran berkumpul di Pantai Seger. Ia tidak mau menolak ataupun menerima salah satu lamaran karena dapat memicu perang antarkerajaan. Sambil berdiri di atas sebuah batu, akhirnya ia memilih untuk menerima semua lamaran tersebut, lalu menjatuhkan dirinya ke laut. Hal ini tentu membuat para pangeran bingung dan berusaha menyelamatkan sang putri, tetapi sang putri tidak kunjung ditemukan. Tiba-tiba muncul sekumpulan cacing laut dengan ragam warna-warni yang sebelumnya tidak pernah ada. Masyarakat percaya bahwa cacing itu merupakan jelmaan sang putri sebagai tanda bahwa ia akan selalu kembali untuk rakyatnya.

Nyale di sini bukanlah cacing biasa, melainkan sejenis cacing palolo (Eunice fucata) berwarna merah, hijau, dan kuning. Ukurannya kecil, tubuhnya panjang, dan hidup di dasar laut serta di lubang-lubang batu karang. Nyale sangat kaya akan kandungan protein, gizi tinggi, asam amino esensial, serta senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri dan antivirus, bahkan banyak masyarakat Lombok yang memakan Nyale dalam keadaan hidup-hidup.

Selain memiliki kandungan gizi tinggi, Nyale juga dapat berfungsi sebagai antibiotik. Hal ini dibuktikan dengan aktivitas sembilan bakteri bentik yang ditemukan dalam Nyale, yaitu Linococcus roseus, Marinococcus halophilus, Marinococcus hispanicus, Micrococcus varians, Methylomonas pelagica, Bacillus sp., Pseudomonas elongata, Alteromonas colwelliana, dan Halovibrio variabilis.

Di samping itu, Nyale juga memiliki kadar fosfor dan kalsium yang tinggi. Meski demikian, mengonsumsi Nyale hampir setiap hari tidak dianjurkan. Di Tiongkok Selatan, cacing laut sejenis Nyale telah lama digunakan sebagai obat tradisional untuk mengatasi penyakit TBC, mengatur fungsi limpa dan lambung, serta memulihkan kondisi tubuh akibat gangguan yang disebabkan oleh patogen. Di Indonesia sendiri, penelitian telah dilakukan oleh Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Prof. Sri Purwaningsih, M.Si. Hasil penelitian menyebutkan bahwa Nyale berkhasiat sebagai antidiabetes alami.

Festival ini istimewa karena Nyale hanya muncul satu kali dalam setahun. Selain kegiatan menangkap Nyale, festival ini juga diramaikan dengan drama teatrikal, pawai budaya, pertarungan tradisional, dan pesta rakyat sepanjang malam untuk menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Biasanya, festival ini dilakukan oleh masyarakat lokal dengan cara berkumpul pada sore hari di pantai-pantai yang telah ditentukan, kemudian dilanjutkan dengan berkemah hingga tengah malam. Penangkapan Nyale baru dilakukan pada dini hari hingga terbit fajar. Pada saat itu, masyarakat berbondong-bondong menangkap Nyale di pesisir pantai dengan bantuan jaring, senter, dan wadah tertutup. Nantinya, Nyale yang berhasil ditangkap akan dimasak dan disantap langsung oleh masyarakat lokal.

Biasanya, Nyale diolah menjadi beberapa santapan lezat, seperti pepes, sup, dan nasi goreng, bahkan dapat pula dijadikan sambal pedas yang disebut “bokosuwu”. Rasa Nyale pun enak, dengan aroma yang serupa dengan makanan laut pada umumnya. Tekstur Nyale yang telah dimasak mirip dengan hati ayam, dibalut bumbu rempah khas Lombok yang pedas dan lezat. Adapun makanan berbahan dasar Nyale ini dapat diperoleh di pasar-pasar setempat dengan harga terjangkau.

Bagi masyarakat setempat, Nyale yang didapat dipercaya dapat membawa berkah, keberuntungan, dan kesuburan tanah. Selain itu, masyarakat Lombok juga percaya bahwa memakan Nyale dapat membuat awet muda dan mudah mendapatkan jodoh.

Festival Bau Nyale bukanlah sekadar tradisi tahunan masyarakat Lombok, tetapi juga wujud pelestarian budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui legenda Putri Mandalika, masyarakat tidak hanya mengenal nilai sejarah dan kepercayaan lokal, tetapi juga memanfaatkan Nyale sebagai bagian dari kekayaan kuliner khas daerah. Keunikan tradisi ini menjadikan Festival Bau Nyale sebagai salah satu daya tarik budaya yang memperkenalkan identitas masyarakat Lombok kepada wisatawan sekaligus memperkaya keberagaman budaya Indonesia.

Redaktur: Lucy Kezia Simarmata

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.