SUARA USU
Film

Film Soulmate, Mengenalkan Pandangan Baru tentang Makna “Belahan Jiwa” yang Sesungguhnya

Oleh: Balqis Aurora Salsabilla

Suara USU, MEDAN. Tak sedikit orang yang mengira kata soulmate hanya ditujukan kepada pasangan hidup, padahal kata ini dapat merujuk kepada siapa saja, termasuk sahabat. “Soulmate” merupakan film remake dari Negeri Tiongkok dengan judul serupa pada tahun 2016 lalu. Film ini juga merupakan adaptasi serial web novel yang juga berjudul “Soulmate” karya Anni Baobei. Film remake versi Korea ini disutradarai oleh Min Yong-geun dan dirilis pada tanggal 15 Maret 2023.

Dengan durasi 124 menit, film ini bercerita mengenai persahabatan Mi So (Kim Da Mi) dan Ha Eun (Jeon So Nee) sejak mereka masih duduk di sekolah dasar. Mi So memiliki karakter yang bebas dan penuh energi, sedangkan Ha Eun memiliki banyak ketakutan dan lebih berhati-hati. Tak jarang, Mi So mendorong Ha Eun untuk melakukan hal-hal gila bersamanya.

Ha Eun dan Mi So memiliki ketertarikan di bidang seni, tetapi gaya lukisan mereka sangat berbeda. Ha Eun menyukai melukis benda mati dan bergaya hyper realistic sementara Mi So menyukai lukisan abstrak. Hal ini menunjukkan kepribadian mereka yang sangat bertolak belakang.

Konflik dimulai saat Ha Eun menyukai Jin Woo (Byeon Woo-seok), seorang anak laki-laki di sekolahnya dan akhirnya menjalin hubungan. Persahabatan mereka pada awalnya baik-baik saja dengan kehadiran Jin Woo, bahkan mereka sering bermain bersama. Namun, karena terjadi kesalahpahaman, persahabatan mereka pun mulai merenggang sehingga menjadi semakin rumit dan keduanya tumbuh dewasa dengan hidup terpisah. Selama tumbuh dewasa, keduanya mengalami masa-masa sulit yang tidak sanggup untuk ditanggung sendirian, lalu pada akhirnya mereka berdua menyadari bahwa mereka adalah ‘belahan jiwa’ untuk satu sama lain.

Melalui film ini kita diberikan pandangan baru tentang makna ‘soulmate’ yang tidak melulu memiliki makna untuk pasangan, tetapi dapat siapa saja. Mi So lebih memahami dan mengetahui bagaimana sifat, bahkan detail kecil tentang Ha Eun daripada Jin Woo, pasangannya sendiri. Hanya Mi So yang selalu mendukung Ha Eun dan membuat Ha Eun keluar dari zonanya dan melakukan hal yang ingin dia lakukan.

Tak sedikit konflik persahabatan yang dialami keduanya relate dengan persahabatan yang dialami penonton. Karakter Ha Eun yang tiba-tiba penuh dengan pikiran negatifnya sendiri dan akhirnya memperumit situasi. Keduanya sama-sama naif, bertindak seolah tidak ingin berpisah, dan tidak ada kekecewaan serta kekesalan kepada satu sama lain. Namun sebenarnya, menyimpan perasaan kecewa dan overthinking sendiri.

Pemilihan tone warna pada film ini sangat tepat. Selain dapat menyesuaikan dengan mood karakter dan situasi, tone pada film mampu menambahkan kesan mellow dan hangat bagi penonton. Sinematografi juga tidak perlu diragukan, apalagi film ini dilatar belakangi oleh Pulau Jeju dengan pemandangannya yang sangat indah.

Para pemain di film ini pun sukses membawakan karakter masing-masing dengan sempurna sehingga penonton dapat merasakan setiap emosi yang dirasakan oleh para karakter. Akting Kim Da Mi yang tidak perlu dipertanyakan kehebatannya, mampu menyampaikan emosi yang dialami karakter Mi So kepada penonton secara natural.

Sementara dari segi alur cerita, sayangnya sedikit membingungkan. Hal tersebut karena film ini menggunakan alur yang maju-mundur. Time line yang tidak jelas pada babak pertama film membuat penonton kebingungan dan meraba-raba bagaimana sebenarnya alur cerita dari film ini. Tidak hanya itu, pacing yang cukup lambat pada awal film juga menjadi kekurangan dari film ini. Mungkin sutradara ingin memperkenalkan karakter Mi So dan Ha Eun dengan detail, tetapi malah memberikan kesan lama dan membosankan.

Meskipun begitu, secara keseluruhan film ini masih sangat layak untuk ditonton. Akting yang memukau, vibes dan mood film dibangun dengan hangat dan indah, serta ceritanya yang menarik dan hadirnya plot twist yang tidak disangka pada film ini yang tentu memberikan keunikan tersendiri pada film ini. Untuk film bergenre coming-of-age ini mendapat nilai 8/10 dari reviewer.

Redaktur: Atika Larasati


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Capernaum, Refleksi Pentingnya Kesiapan Finansial dan Emosional Mengempuh Peran Sebagai Orang Tua

redaksi

Where the Crawndads Sing, Perjalan Hidup Seorang Gadis “Paya”

redaksi

Membuka Pikiran Melalui Sastra dalam Film Dead Poets Society

redaksi