SUARA USU
Life Style

Flexing, Penyakit Pamer dengan Gaya di Sosial Media

Oleh: Nauza Indri Adisti

Suara USU, Medan. Dewasa ini banyak hal bermunculan yang berkaitan dengan perkembangan zaman dan dinamisnya gaya hidup. Belakangan, muncul istilah kekinian atau slang word untuk orang yang suka pamer. Kata tersebut adalah melenturkan.  Berasal dari kamus bahasa Inggris yang artinya melenturkan, melendung (membesar-besarkan). Saat ini, kata tersebut mengalami semacam pergeseran makna menjadi ‘ melenturkan ‘ yang artinya membual atau memamerkan sesuatu.

Melenturkan kini menjadi sesuatu yang sering digunakan di lingkungan sosial. Kelebihan bagi para pengguna media sosial, melenturkan merupakan sesuatu yang kerap kali dilakukan oleh netizen. Melenturkan di media sosial menjadi hal yang lumrah dilakukan untuk menunjukkan seberapa mampunya orang-orang tersebut. Terdapat beragam melenturkan yang acap kali dilakukan oleh netizen di media sosial mulai dari melenturkan kekayaan, kecantikan, prestasi, dan lainnya. Yang paling menjamur saat ini adalah melenturkan kekayaan atau memamerkan gaya hidup mewah.

Melenturkan yang dilakukan di media sosial tentunya menuai beragam reaksi netter . Ada yang mengikuti aliran arus flexing tersebut, ada yang digunakan bahkan ada yang salty. Orang-orang yang sering kali pamer seolah ingin mendapatkan validasi, haus akan pengakuan dan perhatian oleh orang banyak. Flexing merupakan sesuatu perbuatan yang sedikit baik, ada baiknya kita mengurangi dan mengurangi perilaku flex atau pamer terlebih di media sosial. Berikut ada beberapa tips untuk menghindari perilaku pamer di media sosial

Mengeposkan Sesuatu dengan Tujuan yang Jelas

Maksudnya di sini, ketika kita ingin memposting sesuatu yang inginlah memiliki sebuah alasan yang tidak bertujuan untuk melenturkan . Misal ketika kamu liburan ke Prancis, cukup untuk memposting dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa posisi kamu berada di Prancis. Sehingga menimbulkan kesan bahwa kamu tidak berlebihan ketika memposting sesuatu. Hal tersebut merupakan sebuah cara agar terhindar dari perilaku pamer atau melenturkan.

Memilah Hal yang Hendak Diposting

media sosial memang tidak ada batasnya sampai sejauh mana seseorang ingin mengekspresikan dirinya. Hanya saja, ada hal-hal yang harus kita pilah, mana yang pantas dan tidak pantas untuk diposting. Contohnya, beberapa waktu lalu maraknya challenge ‘Pamer Saldonya Dong Ganteng’ di salah satu platform video pendek. Banyak orang yang mengikuti tren tersebut. Mereka beramai-ramai memamerkan saldo rekening milik jumlah nominalnya selangit. Hal ini tentunya dapat terjadi dengan efek yang kurang baik bagi pelaku fleksi, karena bisa saja ada oknum jahat yang memanfaatkan kesempatan tersebut. Oleh karena itu kita harus cermat dalam memilah konten apa saja yang bisa kita posting agar terhindar dari perilaku pamer yang dapat efek negatif terhadap diri kita sendiri.

Mengeposkan Sesuatu yang Dapat Memotivasi Orang Banyak

Jika memiliki masa yang cukup banyak di media sosial, ada baiknya kita menggunakan kesempatan tersebut untuk memposting sesuatu yang menginspirasi sehingga dapat memotivasi orang-orang banyak. Hal tersebut jauh lebih baik daripada kinerja yang menggembor-gemborkan kekayaan yang memiliki dampak tidak baik untuk kita dan orang lain, karena sejatinya perbuatan itu salah satu perbuatan yang dihasilkan negatif. Oleh karena itu, ketika memiliki sesuatu kemampuan, alih-alih pamer, ada baiknya kita menginsiprasi orang banyak dengan kemampuan kita tersebut sehingga memberikan efek yang positif tidak hanya untuk diri kita tapi juga orang banyak.

Ketiga tips di atas merupakan beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menghindari perilaku melenturkan atau pamer di media sosial. Semua orang berhak memiliki apa saja di akun media sosial, tetapi semua orang tentu memiliki kekayaan dalam memilah knten apa saja yang patut untuk diposting. Oleh karena itu, jadilah pengguna internet yang cerdas dan bijak dalam bermedia sosial.

Redaktur: Lita Amalia


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Rapat Sampai Larut Malam dan Pengumpulan Dana Melalui Ngamen, Apakah Masih Relevan?

redaksi

Beberapa Pekerjaan Part Time yang Cocok Untuk Mahasiswa

redaksi

Boros Berkedok Self Care, Berikut Cara Mengatasinya

redaksi