Oleh: Jesika Yusnita Laoly
Suara USU, Medan. Pernah nggak sih, kamu tinggal satu rumah sama saudara tapi rasanya kayak tinggal sama orang asing? Atau mungkin, kamu udah lama nggak ngobrol sama dia, padahal setiap hari berpapasan? Kenapa ya, kadang hubungan saudara yang dulunya deket banget, sekarang malah jadi dingin dan kaku? Apa karena kesibukan, ego, atau mungkin ada hal-hal kecil yang numpuk jadi masalah besar tanpa kita sadari?
Nah, buat kamu yang lagi di fase ini, lagu “Gemuruh Riuh” dari Mighfar Suganda cocok banget untuk kamu dengerin. Mighfar Suganda lewat lagu ini menyuguhkan cerita mengenai konflik antara saudara. Gemuruh Riuh mengisahkan tentang bagaimana hubungan antar saudara yang bisa berubah menjadi dingin dan penuh ketegangan. Lewat liriknya, Mighfar merangkai perasaan tertekan dan kesedihan yang seringkali terpendam, ketika saudara yang dulu begitu dekat kini terasa asing.
Salah satu yang menarik dari lagu ini adalah bagimana cara Mighfar menyampaikan emosinya tanpa harus menggunakan kata-kata yang keras atau kasar. Interpretasi semua terasa seperti “gemuruh” yang pelan tapi terus mengganggu, mengisi ruang dengan ketidaknyamanan yang tak terucap. Dimana kita bisa merasakan bagaimana ketegangan itu mempengaruhi kehidupan sehari-hari, di mana komunikasi terputus dan kehangatan keluarga mulai memudar.
Gemuruh riuh dari tuturmu, menusuk jantungku
Ratusan hari lama namaku, tak pernah lagi kau sebut
Contohnya penggalan lagu di atas, Mighfar lewat lirik lagu tersebut menggambarkan bagaimana kata-kata saudaranya, meski mungkin biasa saja, terasa menyakitkan. Kata “menusuk jantungku” menandakan luka yang mendalam, seakan apa pun yang diucapkan sang saudara penuh dengan sindiran atau emosi yang membuat perasaan terluka. Meskipun mungkin tidak ada bentakan atau teriakan, intonasi dan isi tutur kata itu terasa seperti gemuruh yang terus menghantui.
Selain itu, ada rasa kesepian yang sangat kuat di sini. Mighfar merasakan dirinya diabaikan oleh saudaranya, hingga namanya tak pernah lagi disebut. Ini menggambarkan adanya jarak yang begitu besar sampai hal-hal sederhana, seperti menyebut nama, menjadi hal yang tidak dilakukan lagi. Jarak emosional ini bahkan lebih menyakitkan daripada pertengkaran fisik.
Telapak tangan tak pernah berjabat dengan dirimu,
bola mata tak pernah lagi saling menatap
Nah, untuk baris lagu ini menunjukkan betapa jauh hubungan mereka, baik secara fisik maupun emosional. Tindakan sederhana seperti bertatap muka yang biasanya terjadi dalam hubungan saudara, bahkan sudah hilang. Ini mempertegas perasaan terasingkan antara dua orang yang seharusnya sangat dekat.
Kita dekat tapi jauh, kita kenal tapi asing
Serumah tapi tak searah, sedarah
Sementara lirik lagu diatas bisa di sebut sebagai kunci dari seluruh lagu. Mighfar menyampaikan bahwa mereka tinggal serumah, berbagi ruang yang sama, tetapi hubungan mereka sangat jauh secara emosional. Mereka mengenal satu sama lain, tetapi hubungan itu kini terasa asing, seolah-olah mereka sudah tidak mengenal lagi siapa diri masing-masing. Dan lirik “Serumah tapi tak searah” menunjukkan bahwa meskipun mereka hidup dalam satu rumah, tujuan dan pandangan hidup mereka sudah tidak sejalan lagi. Ini juga menunjukkan bahwa hubungan keluarga tidak menjamin harmoni, terutama jika sudah ada luka dan konflik yang tidak terselesaikan.
Sebenarnya jika kita telaah lebih lanjut setiap lirik lagu dari “Gemuruh Riuh” dari Mighfar Suganda terkandung banyak emosi yang bergejok didalamnya. Tentang emosi dan konflik yang ia rasakan dalam hubungannya bersama saudaranya. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya dan ada banyak hal yang ingin dia sampaikan.
Namun, lagu ini juga pesan bahwa meskipun hubungan saudara bisa penuh konflik, hal itu adalah sesuatu yang umum terjadi dalam keluarga. Pada akhirnya, mungkin yang dibutuhkan adalah waktu dan usaha untuk memperbaiki hubungan tersebut, walau terasa berat dan jauh. Jadi, buat Sobat Suara USU yang merasa relate atau mungkin sedang berada di posisi yang sama. Ayok dengerin lagu “Gemuruh Riuh” dari Mighfar Suganda di platform musik kesayanganmu!
Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean
Leave a comment