
Oleh: M. Axel Daffa Ramadhan, Julia Amanda Gowasa, Inayah H. M. Sirait, Karryn Judith Hasian, Lovia Keisha, Tengku Nazlan, dan Yariel Bintang Silalahi.
Suara USU, Medan. Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, telah menjadi kekuatan penggerak di era digital. Di Medan, kota metropolitan di Sumatera Utara yang dikenal sebagai pusat perdagangan dan budaya Melayu-Batak, Gen Z menghadapi tantangan unik dalam dunia kerja yang semakin kompetitif. Fenomena hustle culture—budaya yang memuliakan kerja keras tanpa henti, sering kali dengan mengorbankan waktu istirahat—telah meresap ke dalam gaya hidup mereka. Di satu sisi, budaya ini mendorong ambisi untuk meraih kesuksesan finansial dan karier, namun di sisi lain mengancam keseimbangan hidup yang penting bagi kesehatan mental dan fisik.
Hustle culture merupakan tren global yang dipopulerkan oleh media sosial seperti Instagram dan TikTok, di mana kesuksesan digambarkan sebagai hasil dari “rise and grind”—bangun pagi, bekerja hingga larut malam, dan mengulanginya setiap hari. Di Medan, fenomena ini semakin relevan karena kota ini mengalami pertumbuhan ekonomi pesat, didorong oleh sektor perdagangan, pariwisata, dan startup digital. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara tahun 2023, tingkat pengangguran pemuda di Medan mencapai 12%, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Kondisi ini mendorong Gen Z untuk bekerja lebih keras—menjadi content creator, freelancer di platform seperti Upwork, hingga membuka usaha kuliner online dan jasa desain grafis.
Banyak Gen Z Medan berasal dari keluarga pekerja keras, seperti pedagang atau pekerja migran. Seorang mahasiswa USU, misalnya, bisa kuliah pagi, magang siang, dan membuat konten malam hari. Fenomena ini tampak pada komunitas “Medan Hustlers” di media sosial, tempat anak muda berbagi tips bisnis dan karier. Ambisi ini menciptakan inovasi, seperti aplikasi lokal pengiriman makanan dan bisnis kreatif yang membantu keluar dari lingkaran kemiskinan. Namun di balik ambisi tersebut, muncul bayang-bayang burnout—kelelahan emosional dan fisik kronis akibat tekanan kerja. Survei Kementerian Kesehatan RI tahun 2022 menunjukkan 40% pemuda usia 18–25 tahun mengalami stres tinggi.
Di Medan, iklim panas dan kemacetan memperparah kelelahan. Banyak Gen Z merasa terjebak dalam rutinitas melelahkan tanpa waktu bersosialisasi. Medan menawarkan peluang besar di sektor e-commerce dan pariwisata, tetapi juga persaingan ketat. Tokoh seperti Atta Halilintar atau pengusaha lokal di Kesawan menjadi inspirasi bagi mereka untuk mengejar financial independence. Namun, budaya Batak yang menekankan hamoraon (kekayaan) sering berbenturan dengan nilai modern seperti self-care dan mental health awareness. Studi Universitas Negeri Medan (2023) menemukan 65% Gen Z merasa bersalah jika tidak bekerja di akhir pekan, meski 70% mengakui pentingnya waktu untuk keluarga dan hobi.
Risiko burnout semakin nyata karena minimnya akses layanan kesehatan mental dan adanya stigma budaya. Akibatnya, kasus depresi dan kecemasan meningkat, terutama pasca-pandemi COVID-19 yang mempercepat kerja digital.
Untuk mengatasi dilema ini, Gen Z Medan perlu menerapkan konsep smart hustle—kerja keras yang berkelanjutan. Tetapkan batas waktu kerja, seperti aturan “no work after 8 PM” yang dipromosikan komunitas Medan Digital Nomads. Manfaatkan sumber daya lokal, seperti workshop kewirausahaan di Inkubator Bisnis USU atau pelatihan dari Dinas Ketenagakerjaan Sumut. Pemerintah juga berperan melalui program seperti “Gen Z Sehat Mental” untuk memperluas akses konseling gratis. Selain itu, perusahaan startup di Medan sebaiknya menerapkan kebijakan work-life balance seperti hari libur fleksibel agar talenta muda tetap produktif dan sehat.
Artikel ini merupakan Tugas Kelompok Mata Kuliah Pendidikan Pancasila dengan Dosen pengampu: Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si.
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment