Home Kabar Kampus Mahasiswa Fakultas Hukum USU Raih Juara 3 Nasional Lomba Legal Opinion
Kabar Kampus

Mahasiswa Fakultas Hukum USU Raih Juara 3 Nasional Lomba Legal Opinion

Share
Sumber: Selvia Salsabila

Reporter: Sandrina Nasution

Suara USU, Medan. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim yang terdiri atas Selvia Salsabila (ketua tim), Yassir Arafat Rawy Lubis, dan Erica Cerelia Sitompul berhasil meraih Juara 3 dalam Lomba Legal Opinion Nasional Piala Dekan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK). Keberhasilan ini menjadi semakin istimewa karena merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti kompetisi di tingkat nasional.

Selvia mengungkapkan rasa bahagia sekaligus takjub saat timnya diumumkan sebagai pemenang. Ia mengaku tidak menyangka dapat meraih juara tanpa bimbingan mentor, hanya bermodal kerja sama dan semangat belajar yang tinggi. Ia menuturkan bahwa pengalaman ini memberikan pelajaran berharga mengenai arti kerja keras dan kepercayaan tim.

Kompetisi yang diselenggarakan oleh panitia Lex Icon Fakultas Hukum USK tersebut mengusung tema “Legal Challenge and Solutions in Bankruptcy Law: Safeguarding Creditors and Debtors’ Rights in the Modern Era” atau “Tantangan dan Solusi Hukum dalam Kepailitan: Melindungi Hak Kreditor dan Debitor di Era Modern.” Menurut Selvia, tema tersebut sangat relevan dengan kondisi hukum di Indonesia yang masih menghadapi berbagai tantangan dalam mekanisme penyelesaian utang. Ia menilai perlunya solusi hukum yang inovatif, adaptif, dan berkeadilan agar sistem kepailitan dapat berjalan efektif serta menjamin kepastian hukum bagi seluruh pihak.

Sebagai ketua tim, Selvia berperan penting dalam menjaga koordinasi dan kekompakan anggota. Ia memastikan setiap anggota memiliki peran sesuai kemampuan masing-masing agar hasil kerja lebih maksimal. Proses penyusunan Legal Opinion berlangsung selama dua hingga tiga minggu, dimulai dari tahap perumusan masalah, riset bahan hukum, hingga penyusunan akhir dan persiapan presentasi. Tantangan terbesar, menurutnya, muncul saat melakukan riset dan analisis hukum karena tema kepailitan membutuhkan referensi yang sangat spesifik dan mendalam.

“Tidak semua bahan mudah ditemukan. Kami harus membandingkan banyak sumber agar argumen kami kuat. Kadang juga ada perbedaan pandangan dalam menyusun kesimpulan, tetapi hal itu justru mengajarkan kami pentingnya kompromi,” ujar Selvia.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, tim menerapkan strategi yang matang. Mereka membagi tugas secara jelas, melakukan pemeriksaan silang untuk menjaga konsistensi argumen, serta berlatih presentasi berulang kali menjelang babak final. Selvia menilai, kunci keberhasilan timnya terletak pada konsistensi, komunikasi terbuka, dan rasa saling percaya antaranggota. Motivasi terbesar mereka adalah mengasah kemampuan berpikir kritis dan analisis hukum secara praktis sekaligus mengharumkan nama fakultas di tingkat nasional.

Salah satu anggota tim, Yassir Arafat Rawy Lubis, menyebut kompetisi ini sebagai ajang pembelajaran berharga dalam memahami penerapan teori hukum secara nyata. Ia mengatakan pengalaman tersebut melatih ketelitian dalam menganalisis fakta hukum dan menafsirkan peraturan. “Kami dilatih untuk memperhatikan setiap fakta hukum dan menyoroti bagian penting yang selaras dengan pendapat hukum kami. Ketelitian membaca dan menafsirkan peraturan menjadi kunci utama menyelesaikan isu hukum,” ujarnya.

Menariknya, saat babak final berlangsung, Yassir sedang menunaikan ibadah ke tanah suci. Namun, jarak tidak menjadi penghalang bagi kerja sama tim. “Saat final saya sedang di tanah suci, tetapi kami tetap berkoordinasi lintas negara agar presentasi berjalan lancar. Alhamdulillah, kami tetap kompak dan hasilnya membuahkan juara tiga,” ungkapnya.

Dalam tim, Yassir berperan menyusun langkah hukum bagi perusahaan yang bersengketa, merumuskan argumen sesuai ketentuan, dan menata struktur Legal Opinion agar rapi dan mudah dipahami. Ia juga berpesan kepada mahasiswa Fakultas Hukum lainnya agar tidak ragu mencoba mengikuti kompetisi serupa.

Bagi Selvia, Yassir, dan Erica, kemenangan ini bukan sekadar soal peringkat, melainkan tentang proses belajar, kedisiplinan, dan kerja sama. Melalui pengalaman tersebut, mereka belajar berpikir cepat, berkomunikasi efektif, serta menjaga kekompakan di bawah tekanan. “Kami belajar bagaimana bekerja di bawah tekanan, berkoordinasi, dan saling mempercayai satu sama lain. Itu yang membuat hasil ini terasa sangat bermakna,” ujar Selvia.

Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.