Home Opini Ghibli AI, Seni yang Hilang di Antara Baris Kode
Opini

Ghibli AI, Seni yang Hilang di Antara Baris Kode

Share
Ilustrasi: Nataly Princess

Oleh: Debora Gracia Nauli Siregar

Suara USU, Medan. Belakangan ini media sosial dipenuhi gambar-gambar bergaya Studio Ghibli yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Foto-foto biasa, seperti tempat wisata dan potret hewan peliharaan diubah menjadi ilustrasi ala Ghibli yang memikat. Sekilas, tren ini tampak sebagai bentuk kreativitas digital yang mengesankan. Namun, di balik popularitasnya muncul kekhawatiran dari komunitas seniman dan para pemerhati hak cipta. Pertanyaannya, apakah ini benar-benar seni, atau sekadar ilusi estetika yang dibungkus teknologi?

Seni adalah proses yang melibatkan jiwa. Bukan hanya tampilan visual, melainkan juga emosi, perjuangan dan sentuhan pribadi yang tergantikan oleh mesin. Banyak seniman merasa bahwa identitas dan upaya mereka terabaikan seiring dominasi AI dalam proses penciptaan.

Sungguh memilukan melihat AI mencuri dari para seniman sungguhan.

Dari Studio Ghibli hingga kreator kecil seperti kami, apa yang kami buat lahir dari cinta dan emosi. Tapi sekarang, orang-orang mulai bertanya apakah karya kami dibuat oleh AI. Itu menyakitkan.

Seni itu diciptakan, bukan dihasilkan.

Kalimat-kalimat ini mencerminkan keresahan banyak seniman saat ini. Kekhawatiran tak sekedar kehilangan mata pencaharian, tetapi juga ruang berekspresi. Dalam dunia yang semakin menilai gambar sebagai konten, bukan sebagai narasi atau jiwa, seniman perlahan tenggelam di balik bayang-bayang algoritma. Padahal, seni adalah cerminan perjalanan batin manusia. Penggunaan AI dalam konteks ini bukan dianggap sebagai inovasi, melainkan jalan pintas yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dalam seni.

Studio Ghibli sendiri bukan sekadar soal gaya visual, melainkan warisan budaya hasil imajinasi Hayao Miyazaki yang kaya akan cinta, detail, dan filosofi hidup. Kini, AI mampu menirunya hanya dalam hitungan detik. Namun, layakkah itu disebut seni?.

Lita Zalikha, mahasiswi Desain Komunikasi Visual ISI Denpasar, menyampaikan pandangannya, “Kurang berkenan, karena hal tersebut termasuk pelanggaran hak cipta terhadap pemilik sah gaya visual Studio Ghibli, Hayao Miyazaki. Proses penciptaan karya oleh manusia sangat berbeda dengan buatan AI, sehingga tidak bisa disamakan.”

Pernyataan ini sejalan dengan sikap Hayao Miyazaki sendiri, yang secara tegas menolak penggunaan AI dalam karya-karyanya. Penolakan tersebut disampaikan dalam dokumenter Manhattan Project for a Nuclear Free World yang diunggah di YouTube.

Meski demikian, tidak semua penggunaan AI dipandang negatif. Contohnya, bagi Lita, selaku mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual, AI tetap bisa menjadi alat pendukung proses kreatif selama digunakan secara bijak. “AI sebenarnya cukup membantu dalam beberapa hal. Misalnya, aplikasi Photoshop yang biasa aku pakai, sekarang punya fitur AI juga. Tapi dalam tanda kutip penggunaannya masih dalam batas wajar dan tidak berlebihan,” jelasnya. Masalah muncul ketika teknologi ini digunakan untuk meniru, menggantikan, bahkan dikomersialkan karya seni tanpa memperhatikan etika. Dalam konteks ini, AI tak lagi menjadi alat bantu, melainkan ancaman terhadap keaslian dan jiwa sebuah karya.

Situasi semakin rumit ketika seorang pengguna X, @tj_littlejohn, menyebarkan surat palsu yang mengatasnamakan Studio Ghibli sebagai peringatan terhadap tren Ghibli AI. Surat tersebut sempat viral sebelum akhirnya terungkap sebagai palsu, dengan email dan nomor kontak yang dicantumkan ternyata tidak valid. Hingga saat ini, Studio Ghibli belum memberikan tanggapan resmi mengenai fenomena ini. Dengan demikian, selain menghadapi pencurian gaya visual, Studio Ghibli juga menjadi korban informasi yang menyesatkan.

Tren saat ini menunjukkan bahwa seni semakin dipandang sebagai sesuatu yang mudah ditiru dan karenanya rentan kehilangan nilainya. Hal ini memunculkan tantangan baru bagi para seniman, yang masa depannya menjadi semakin tidak pasti. Belum ada kepastian apakah seni tetap menjadi sumber penghidupan, terutama saat banyak perusahaan mulai berpikir “Mengapa membayar manusia untuk kreativitas mereka jika mesin bisa melakukannya secara instan dan gratis?”. Pola pikir inilah yang menjadi inti masalah, mengubah cara pandang masyarakat terhadap karya seni.

Padahal, seni memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Hal ini bisa kita ambil contoh dari pandemi Corona virus yang telah memperjelas hal itu. Bayangkan hari-hari tanpa musik, film, atau buku yang biasanya memberi kita penghiburan dan kekuatan. Seni bukan sekadar hasil akhir, melainkan proses yang kaya makna, perjuangan, refleksi, dan pertumbuhan pribadi. Dalam setiap karya, seorang seniman mengalami pembelajaran dan perkembangan diri. Ketika proses ini digantikan oleh kecerdasan buatan, yang tersisa hanyalah hasil yang instan dan dangkal, kehilangan jiwa, pengalaman, dan kedalaman manusia yang seharusnya menjadi inti dari sebuah karya seni.

Redaktur: Zahra Zaina Rusty

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.