
Reporter: Debora Gracia Nauli Siregar
Suara USU, Medan. Mahasiswi Program Studi Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara (USU), Hana Nazihah Siregar, berhasil meraih Juara 4 pada Lomba Presentasi Bahasa Jepang Tingkat Nasional ke-4 yang diselenggarakan oleh The Japan Foundation. Kompetisi berlangsung di Kemdiktisaintek, Jakarta, pada Sabtu (8/11/2025), dan dihadiri perwakilan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, sejumlah sponsor besar, serta pejabat kementerian secara daring.
Ajang nasional tersebut mempertemukan 13 peserta terbaik dari berbagai wilayah Indonesia yang sebelumnya telah memenangkan seleksi tingkat regional. Pada kesempatan ini, Hana tidak hanya meraih posisi keempat, tetapi juga memperoleh berbagai hadiah tambahan berupa perangkat elektronik. Ia bahkan mengaku jumlah hadiah yang diterima begitu banyak.
Hana menjelaskan bahwa motivasinya mengikuti kompetisi berawal dari keinginan sederhana untuk mencoba. Tahun sebelumnya ia sempat ragu dengan kemampuannya, namun pada semester lima ia memutuskan untuk memberanikan diri. “Saya pikir, jadi mahasiswa cuma sekali. Kalau bukan tahun ini, masih bisa mencoba lagi di semester tujuh,” ujarnya. Menurutnya, keberanian dan kepercayaan diri menjadi bagian penting dalam meraih prestasi, bukan hanya kemampuan teknis.
Pada lomba tahun ini, peserta diminta mempresentasikan tema “Pemahaman Lintas Budaya”. Hana mengangkat pengalaman pribadi saat menerima mahasiswa Jepang yang melakukan homestay di rumahnya. Ia menyoroti perbedaan gaya komunikasi Indonesia dan Jepang, termasuk batasan privasi serta kebiasaan “basa-basi” yang kemudian ia jelaskan kepada audiens Jepang. Tema tersebut dipilih karena dekat dengan kehidupan sehari-hari, namun tetap memberikan tantangan untuk disampaikan secara menarik.
Meskipun tampil percaya diri, proses persiapannya tidak mudah. Naskah yang digunakan memang sama seperti pada tingkat regional, tetapi ia masih harus memperbaiki pengucapan dan intonasi sesuai arahan dosen pembimbing. Latihan dominan dilakukan secara mandiri, sementara pertemuan intens dengan dosen hanya tiga hingga empat kali selama lebih dari satu bulan. Di tengah persiapan, Hana juga harus menyelesaikan tugas kuliah semester lima, bekerja, dan mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Bahkan hingga sehari sebelum keberangkatan, penampilannya belum sepenuhnya mendapat persetujuan dosen pembimbing. “Saat lomba, saya hanya berdoa dan menjaga kepercayaan diri,” ujarnya.
Dukungan dari berbagai pihak turut memperkuat langkahnya. Dosen pembimbing tetap memberi arahan hingga malam sebelum berangkat, teman-teman membantunya berlatih, dan keluarga menjaga kondisinya dengan menyiapkan jamu, minuman, serta menemani berolahraga. Seluruh biaya perjalanan dan kebutuhan selama empat hari di Jakarta juga ditanggung sepenuhnya oleh The Japan Foundation.
Hana menutup wawancara dengan pesan bagi mahasiswa yang ingin mencoba kompetisi serupa. Ia menekankan bahwa kesempurnaan bukan syarat utama untuk berkompetisi. “Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Selama kita berusaha, berani, percaya diri, dan banyak berdoa, hasilnya pasti membawa pelajaran. Menang atau kalah itu wajar,” ujarnya. Ia menambahkan, dapat berada di ruangan yang sama dengan peserta unggul dari seluruh Indonesia saja sudah menjadi pencapaian yang sangat ia syukuri.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment