
Oleh : Suci Rahmawati Siregar
Suara USU, Medan. “Jika kehadiranku adalah masalah dalam kehidupan orang-orang disekitarku, maka pulangkan aku kepada-Mu saja, Tuhan. Aku sudah lelah….”
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati merupakan karya penulis Indonesia, Brian Khrisna. Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) pada 20 Januari 2025 ini berhasil meraih predikat mega best seller di Gramedia dan menjadi salah satu novel yang paling banyak menarik perhatian pembaca pada awal tahun.
Novel ini menceritakan perjalanan tokoh Ruslan Abdul Wardhana, yang kerap disapa Ale. Pria berusia 37 tahun yang bekerja kantoran di Ibukota. Sejak di bangku sekolah, ia memang memiliki bentuk tubuh yang lebih besar daripada teman sebayanya, ia senang bermain diluar bersama teman-temannya, sehingga tubuhnya tampak gelap keling. Teman-temannya sering memanggilnya dengan sebutan “Genderuwo” dan “Babon”.
Namun yang paling membekas bukanlah soal fisik, melainkan masa kecil Ale yang jauh dari dukungan emosional keluarga. Ia dipaksa menjadi dewasa dan memaklumi segala perlakuan buruk yang menimpanya. Diskriminasi sosial dari teman-teman dan minimnya dukungan emosional dari keluarganya menyebabkan Ale mendapatkan diagnosis depresi akut. Titik nadirnya muncul ketika dia memutuskan berhenti hidup dengan menelan obat-obatan. Tetapi proses itu terhenti oleh sebuah dorongan sederhana: “makan dulu”.
Dari sanalah cerita mengalir dengan cara yang sederhana. Ia bertemu dengan orang-orang yang memberikan pelajaran luar biasa, baik dari OB kantor, preman, penjual layangan, hostes, bahkan tunanetra yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Ale bertemu dengan orang-orang yang perlahan memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini terbesit dalam pikirannya.
Novel ini tidak menampilkan kisah tentang pencapaian besar, melainkan mengajak pembaca untuk memahami bagaimana menghargai hal-hal kecil yang sering kali terlewat. Brian menunjukan bahwa harapan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Ada kalanya ia datang sebagai dorongan kecil yang cukup untuk membuat seseorang bertahan satu hari lagi. Cerita ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan kerap tersembunyi di balik hal-hal yang tampak remeh. Justru sesuatu yang sederhana itulah yang menjaga hidup tetap bermakna, bahkan di tengah masa sulit.
Salah satu kutipan di akhir cerita merangkum inti perjalanan Ale: “Ternyata benar, kamu justru bisa mendapatkan harta karun di tempat-tempat yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya.”
Dari segi penulisan, Bryan menggunakan gaya bahasa yang sederhana dan dekat dengan pembaca, sehingga emosi yang disampaikan terasa lebih jujur dan mudah dirasakan. Novel ini sangat direkomendasikan bagi pembaca yang tengah mencari makna hidup melalui kisah yang inspiratif, terutama karena banyak kalimat reflektif dan memotivasi di dalamnya. Tema utama mengenai perjuangan melawan depresi juga disampaikan dengan pendekatan humanis dan empatik.
Salah satu kekuatan novel ini terletak pada proses kreatifnya. Selain imajinasi, penulis menyusun ceritanya berdasarkan wawancara dengan para penyintas dari depresi akut (DDS). Oleh karena itu, meski fiksional, kisah Ale tetap dibangun dari pengalaman nyata tentang perjuangan, pemulihan, dan keinginan untuk terus bertahan.
Walaupun demikian, beberapa bagian narasinya terbilang cukup frontal. Gaya ini memang mempertegas emosi tokoh, tetapi bagi sebagian pembaca, pilihan penyampaian tersebut mungkin terasa sensitif atau menimbulkan sedikit ketidaknyamanan.
Pada akhirnya, pembaca diajarkan bahwa hidup adalah perjalanan menerima. Menerima bahwa tidak semua rencana berjalan sesuai keinginan, tidak semua kebaikan mendapatkan balasan, dan tidak semua hari akan baik-baik saja. Namun itu tidak apa-apa. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak, menarik napas pelan, mengizinkan diri merasakan sakit, lalu berdamai dengan segala yang ada. Tidak masalah jika langkah kita pelan, yang terpenting adalah terus bertahan.
Redaktur: Katrin Alina
Leave a comment