
Reporter: Rifatul Suaidah
Suara USU, Medan. Program Studi (Prodi) Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) menyelenggarakan Talkshow dan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Reframing Health in Multidimensional Perspective pada Kamis (20/11) di Aula FISIP USU. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Ikatan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial (IMIKS) FISIP USU dengan Komunitas Sadar Pencegahan Kanker dari Awal (SAPKANDARA), sebuah komunitas yang berfokus pada kesadaran pencegahan kanker dari awal.
Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber lintas disiplin, yaitu: Dini Sriwati, S.Sos., M.M selaku Ketua Deli Art Community; Pdt. Dr. Riany Sitanggang, M.Th. selaku Teolog dan Sosiolog; Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. selaku Pekerja Sosial sekaligus dosen di Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP USU; dr. Ivana Alona, MPH selaku Direktur Diklat, Penelitian, dan Kerja Sama RS USU; serta Dr. Dra. Sri Alem Br. Sembiring, M.Si. selaku Etnografik Research Center USU. Talkshow ini dibawakan langsung oleh Dr. Dra. Erni Asneli Asbi, M.Si. selaku dosen dari Prodi Kesejahteraan Sosial FISIP USU.
Dalam sesi talkshow, Dini Sriwati, S.Sos., M.M menyoroti bagaimana media sosial berperan dalam memengaruhi persepsi masyarakat tentang kesehatan, yang kadang justru memperdangkal isu yang kompleks. “Hidup ini sebenarnya penjara, termasuk dalam memaknai kesehatan. Kita sering terperangkap oleh pikiran sendiri sehingga perlu melakukan reframing,” tutur Dini.
dr. Ivana Alona, MPH menegaskan, bahwa kesehatan tidak dapat dilihat hanya dari upaya mengobati penyakit, tetapi harus dipahami secara utuh. “Manusia dapat dikatakan sehat apabila aspek bio-psiko-sosial-spiritualnya seimbang. Stigma dan rendahnya kesadaran screening, seperti deteksi dini kanker payudara, masih menjadi tantangan besar, terutama pada perempuan,” jelasnya.
Sementara itu, Dr. Hairani Siregar memaparkan peran pekerja sosial dalam pelayanan kesehatan. “Tenaga kesehatan bukan hanya medis, tetapi juga non-medis. Pekerja sosial melakukan asesmen sosial dan manajemen kasus agar seseorang dapat menolong dirinya sendiri,” ujarnya.
Narasi pengalaman penyintas mengungkapkan ketimpangan fasilitas medis di Sumatera Utara, khususnya Medan. Ketimpangan tersebutmembuat sebagian pasien harus menjalani pengobatan ke luar kota bahkan luar negeri, sehingga menambah beban biaya transportasi maupun pendampingan.
Pada sesi tanya jawab, topik self-diagnosis terhadap suatu keadaan atau penyakit di kalangan remaja, mencuat sebagai isu penting. Dr. Dra. Sri Alem menanggapi, bahwa fenomena ini tidak sepenuhnya negatif jika masyarakat mampu menggabungkan informasi dengan pemahaman diri serta tetap mengonfirmasi melalui tenaga profesional.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi focus group discussion (FGD) dibagi ke dalam dua kelompok besar, dengan fokus pembahasan mengacu pada lima indikator utama dalam kerangka Reframing Health in Multidimensional Perspective, yaitu: Level and Scales, Actors and Networks, Problem Perspectives and Goal Ambitions, Strategies and Instruments, Responsibilities and Resources.
Peserta berasal dari mahasiswa, penyintas kanker, akademisi, hingga praktisi kesehatan. Salah satu peserta, Najla Yasmin, mengungkapkan bahwa FGD membuka pandangannya tentang luasnya isu kesehatan. “Saya menyadari bahwa kesehatan bukan sekadar interaksi medis, tetapi sistem besar yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan lembaga non-pemerintah. Reframing sangat diperlukan agar kebijakan lebih kontekstual dengan realitas lapangan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, bahwa penting bagi mahasiswa dan masyarakat untuk memahami peran kebijakan publik dalam menentukan kualitas layanan kesehatan di Indonesia. Sebagai rekomendasi, Najla menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor dan pembentukan gerakan atau komunitas yang dapat menjadi wadah edukasi berkelanjutan.
Ketua pelaksana, Canda, menyampaikan bahwa acara ini merupakan langkah awal untuk memperluas pemahaman kesehatan secara multidimensi. “Kami memilih tema ini karena ingin mengajak masyarakat melihat kesehatan lebih luas dari sekadar sisi fisik dan medis. Ke depan, hasil FGD akan dirumuskan menjadi policy brief sebagai kontribusi nyata bagi pengembangan sistem kesehatan,” jelasnya.
Salah satu peserta talkshow lainnya, Anggi Safira Putri Siregar, turut menyampaikan kesannya pada materi yang dibawakan para narasumber yang membuka wawasan baru mengenai kesehatan, khususnya dari pengalaman penyintas yang memberikan motivasi untuk pencegahan dini. Harapannya, kolaborasi antara SAPKANDARA dan IMIKS ini terus berlanjut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemahaman kesehatan yang lebih komprehensif dan humanis.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment