SUARA USU
Kabar Kampus

Ini Tanggapan Dosen Sastra Arab USU Terkait Metode Pembelajaran Case Method dan Team Based Learning

Oleh: Azka Zere

Suara USU, Medan. Kegiatan perkuliahan di Universitas Sumatera Utara (USU) telah berlangsung sejak Senin (7/2) lalu. Perkuliahan dilaksanakan baik secara hybrid maupun secara daring saja, tergantung dengan kebijakan yang ditetapkan masing-masing fakultas. Dalam prosesnya, terdapat dua metode baru yang digunakan selama perkuliahan, yakni case method dan team based learning.

Case method adalah metode pembelajaran dengan memecahkan suatu studi kasus yang sekaligus dapat meningkatkan daya analisis mahasiswa. Sedangkan team based learning adalah metode pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk merancang suatu proyek secara berkelompok.

Kepala Program Studi Sastra Arab USU, Nursukma Suri menuturkan, metode pembelajaran case method dan team based learning hanya termasuk istilah baru. Tujuan akhirnya tetap sama dengan metode pembelajaran lain, yaitu untuk mempersiapkan mahasiswa di dunia kerja.

“Menurut saya, itu penamaan istilah saja yang baru untuk pembelajaran siswa secara hybrid. Jadi, meskipun digunakan untuk online maupun offline, RPS tetap sama, yaitu menghasilkan suatu tujuan di akhir perkuliahan sekaligus mendukung mereka dunia kerja,” tutur Nursukma.

Dosen Sastra Arab USU, Windi Chaldun sempat mengira metode ini akan sulit diterapkan secara berani. Namun, ternyata kesulitan-kesulitan tersebut masih dapat diatasi dengan menjaga komunikasi antara dosen dengan mahasiswa.

“Pada awalnya, saya berpikir metode ini agak sulit diterapkan pada pembelajaran daring, tapi kendala-kendala yang dipikirkan sebelum ini bisa diatasi selagi dosen dan mahasiswa dapat berkomunikasi dengan baik. Sebagai contoh, dosen harus menyampaikan RPS-nya kepada mahasiswa agar mahasiswa dapat mempersiapkan kuliah dengan baik,” jelas Windi.

Berdasarkan Buku Panduan Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi Negeri, kedua metode tersebut memiliki bobot 50% dari nilai akhir. Bahkan melebihi bobot nilai UTS dan UAS.

“Kalau saya setuju dengan persentase nilainya lebih besar dari nilai UTS dan UAS karena standarisasi capaian pembelajaran untuk tingkat pendidikan tinggi seharusnya ada di dalam prosesnya, bukan pada nilai akhir,” ungkap Windi.

Windi menambahkan, tanggapan yang diberikan mahasiswa cukup positif atas kehadiran dua metode pembelajaran baru ini. Hanya saja, tidak sedikit juga yang masih kebingungan dengan metode ini.

“Alhamdulillah, respon mahasiswa positif. Walaupun ada beberapa dari mereka yang bertanya-tanya mengenai prosesnya. Itu biasa, sesuatu yang baru perlu proses untuk mempersiapkannya,” tutur Windi.

Senada dengan Windi, Nursukma juga menuturkan bahwa respon yang diberikan oleh mahasiswa cukup baik, karena sejatinya seluruh kebijakan yang ditetapkan tentunya demi kepentingan mahasiswa itu sendiri.

“Apapun kebijakan yang dilakukan USU, FIB dan Prodi Sastra Arab itu harus memihak kepada kepentingan dan keberlanjutan mahasiswa dalam perkuliahan. Selama ini kebijakan yang dibuat tetap agar mahasiswa dapat memperoleh nilai terbaik. Jadi respon mahasiswa pun demikian juga halnya,” tutup Nursukma.

Redaktur: Yessica Irene


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Adakan Rekrutmen Terbuka, GDSC USU Siap Wadahi Mahasiswa Kembangkan Teknologi

redaksi

USU Games Pertama Sediakan 41 Medali Emas

suarausu

SOUNDS 4.0 HMM FEB USU: Pentingnya Inovasi Melalui Organisasi

redaksi