SUARA USU
editorial Featured Kabar Kampus Opini

Integrasi Pendidikan Pancasila dalam Karakter Kehidupan Bermasyarakat!

Suara USU, MEDAN. Pancasila telah melalui sejarah yang panjang dan merupakan hasil perjuangan para tokoh nasional yang telah mengerahkan seluruh tenaga dan pikirannya demi kemerdekaan Indonesia. Pancasila pun menjadi dasar dan ideologi negara kita. Kita melafalkannya setiap pagi, pada saat upacara, waktu masih mengenyam pendidikan sekolah dahulu. Terlihat jelas bahwa Pancasila telah ditanamkan selalu ke dalam diri kita sejak dini oleh guru-guru kita.

Para tenaga pendidik mengajarkan kita Pancasila mulai dari jenjang Sekolah Dasar dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) hingga perguruan tinggi dalam mata kuliah Pendidikan Pancasila. Pendidikan Pancasila yang diajarkan di perguruan tinggi pastinya memiliki pembahasan yang lebih mendalam dan spesifik dibandingkan mata pelajaran PPKn yang diajarkan di jenjang sekolah.

Mata Kuliah Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi menekankan pemberian kontribusi terhadap penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila oleh generasi baru bangsa (Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, 2016). Dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Pancasila itu penting untuk menciptakan individu yang berperlikau dan bertindak sesuai norma yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila. Sayangnya, beberapa orang belum memahami hakikat dari Pancasila itu sendiri.

Pada April lalu, kami melakukan wawancara kepada sekelompok pedagang di Kota Medan dalam rangka memenuhi tugas kelompok pada Mata Kuliah Pendidikan Pancasila. Dari lima pedagang yang kami wawancarai, semua pedagang hanya mengetahui Pancasila sekedar dasar dan ideologi negara saja. Dua di antaranya mengaku belum paham apa itu Pendidikan Pancasila.

Satu di antaranya tidak merasa bahwa Pancasila itu penting untuk diterapkan dalam menjalankan profesi, karena dirasa kurang berhubungan profesi yang dijalankan. Dari hasil wawancara ini kami menarik kesimpulan bahwa kelompok masyarakat yang cenderung awam seperti pedagang belum terlalu memahami Pancasila. Tanpa mereka sadari, dengan berdagang secara jujur dan tidak membeda-bedakan pembeli berdasarkan latar belakang sosial saja sudah termasuk mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai warga negara yang baik, hendaknya kita memahami Pancasila dan selalu mengamalkannya. Seperti yang dikatakan oleh Kemenristekdikti (2016), Pendidikan Pancasila perlu sekali untuk membentuk karakter manusia yang profesional dan bermoral apabila kita jujur terhadap diri sendiri. Manusia yang berkarakter akan menjauh dari sifat-sifat korup, ekstremis, dan sifat lain yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Manusia yang berkarakter akan memiliki sifat jujur, adil, dan penuh kasih sayang sesama manusia. Individu-individu seperti inilah yang akan berkontribusi untuk memajukan bangsa.

Selain menumbuhkan kesadaran terhadap diri sendiri mengenai Pendidikan Pancasila, kami juga menyarankan agar Pendidikan Pancasila lebih digencarkan lagi dan penerapan nilai-nilai Pancasila juga lebih ditekankan oleh pihak penyelenggara negara. Apabila Pancasila kurang diterapkan, maka masyarakat akan menganggap bahwa Pancasila hanyalah kata-kata belaka yang tidak mempunyai makna. Maka dari itu, baik masyarakat maupun pejabat hendaknya bekerja sama untuk menghidupkan nilai-nilai Pancasila sebagai warga negara yang baik.

Singkatnya, kita harus selalu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila itu pun harus dibekali dengan pengetahuan yang memadai. Selain itu, apa yang terkandung dalam Pancasila hendaknya diterapkan demi membuat nilai-nilai Pancasila selalu hidup dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat yang sejahtera akan terwujud untuk selalu membangun bangsa.

Tim Penulis:

  1. Mutiara Daulay (Ilmu Administrasi Publik/FISIP)
  2. Rachel Metanoia Sinurat (Ilmu Hukum/Fakultas Hukum)
  3. Rama Dirgantoro (Peternakan/Fakultas Pertanian)
  4. Reni Riana Simanjuntak (Fisika/FMIPA)
  5. Sutriwani Hulu (Ilmu Kesejahteraan Sosial/FISIP)

Related posts

UKM Inkubator Sains USU Open Recruitment, Semangat Meneliti, Berkarya Untuk Negeri!

redaksi

Menilik Program KKN di Pematang Kuala, “Corona VS Demam Berdarah Dengue, Kenali Bedanya”

redaksi

USU Terima Perpanjangan Masa Studi Dampak Pandemi Covid-19

redaksi