Home Film Kau Sebut Sepi, Perfect Days Sebut Damai
Film

Kau Sebut Sepi, Perfect Days Sebut Damai

Share

Oleh: Agnes Dhea Oktavia Sinaga

Suara USU, Medan. Hirayama bangun setiap pagi pada jam yang sama, melipat futonnya, menyiram tanaman kecil di kamarnya, lalu berangkat mengendarai van untuk membersihkan toilet umum di kawasan Shibuya, Tokyo. Ia makan siang di tempat yang sama, memotret cahaya matahari di sela dedaunan pada jam istirahat yang sama, makan malam di tempat yang sama, dan menutup hari dengan mandi di pemandian umum langganannya. Hari liburnya pun mengikuti pola yang sama, membeli kertas film, menyortir hasil jepretan minggu itu, dan pergi ke tempat makan mingguannya.

Pengulangan sepanjang film inilah yang menjadi pertanyaan sebenarnya dari Perfect Days. Rutinitas yang bagi kebanyakan orang terasa membosankan, dijalani Hirayama dengan wajah tenang dan bahagia. Ia tetap marah, kesal, dan sedih pada momen tertentu, tetapi kebahagiaannya tetap bertahan di tengah rutinitas yang sama setiap hari, seolah ia memiliki ukuran kepuasan sendiri yang bukan dari pencapaian atau perubahan.

Ketenangan semacam itu tidak muncul begitu saja dari naskah. Dilansir JawaPos.com, film ini lahir dari Tokyo Toilet Project, proyek arsitektur yang diprakarsai Nippon Foundation untuk merenovasi 17 fasilitas toilet umum di Shibuya menjadi karya arsitektur yang dapat diakses semua orang tanpa memandang jenis kelamin, usia, dan disabilitas. Wim Wenders, sutradara film ini, awalnya ditawari menggarap film dokumenter tentang proyek tersebut. Namun, ia memilih membuat drama yang berpusat pada toilet-toilet itu, karena baginya proyek ini menyimpan makna budaya yang dalam. Pilihan itu membuka ruang bagi Wenders untuk menaruh sosok seperti Hirayama di tengahnya, seorang petugas kebersihan yang hidupnya sederhana sekaligus utuh.

Peran Hirayama dibawakan Kōji Yakusho hampir tanpa dialog, namun kaya ekspresi, sebuah pencapaian yang mengantarnya meraih penghargaan Aktor Terbaik di Cannes 2023. Film ini juga meraih Penghargaan Juri Ekumenis di ajang yang sama, masuk nominasi Film Fitur Internasional Terbaik di Academy Awards ke-96 sebagai perwakilan resmi Jepang, dan meraih Best Film di APSA Awards.

Wenders menayangkan gaya visual yang berbeda untuk film ini. Rasio bingkai 4:3 yang ia pilih membatasi ruang gambar dan menciptakan kesan intim pada penontonnya.

Di dalam bingkai sempit itu, komorebi, cahaya yang menembus sela dedaunan, muncul berulang kali sebagai objek yang setiap hari dipotret oleh Hirayama. Hasilnya akan menjadi arsip pribadi, bukan untuk memberi makan Instagram.

Dunia yang tertata rapi ini sedikit terguncang saat keponakan Hirayama datang berkunjung. Kehadirannya membuka celah kecil ke dunia luar yang selama ini Hirayama jaga jaraknya, tanpa mengubah rutinitasnya secara drastis.

Dari sekian banyak adegan tanpa dialog dalam film ini, terdapat satu percakapan ringan antara Hirayama dan keponakannya yang membuat penonton rela menghentikan film untuk sejenak bertanya kepada diri sendiri. 

“Kondo wa kondo, ima wa ima.”

Sekarang, ya sekarang. Nanti, ya nanti. Tidak ada penjelasan panjang setelahnya, tidak ada adegan yang menegaskan maknanya lebih jauh. Namun, jika dipahami baik-baik, kalimat ini menjelaskan mengapa Hirayama bisa memotret cahaya yang sama di taman yang sama setiap hari tanpa merasa bosan, mengapa ia tidak menyimpan kekecewaan hari kemarin untuk dibawa ke hari ini, dan mengapa ia tidak menunda kebahagiaan sampai ada momen yang lebih besar untuk merayakannya. Dia memilih untuk hidup sekarang.

Dalam adegan yang sama, di sela bunyi sepeda yang melaju perlahan menyusuri jalanan kota,

“Dunia ini terdiri dari banyak dunia yang berbeda. Beberapa berhubungan, beberapa lagi tidak.”

“Bagaimana dengan duniaku? Di dunia manakah aku?”

Pertanyaan ini membuat Perfect Days terasa berbeda bagi tiap penonton. Bagi yang lelah dengan kecepatan dan kerasnya kehidupan, film ini terasa seperti cermin kehidupan nyata. Indah bagi mereka yang benar-benar merawat merawat makna di dalamnya. Sebagian penonton lain menilai film ini membosankan karena alurnya lambat dan minim konflik, juga sangat dekat dengan kesepian.

Kalau Sobat Suara USU, sedang menghidupi dunia seperti apa?

Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.